Noken Khas Papua Bisa Dicabut sebagai Warisan Budaya Dunia Noken Papua. (Foto: instagram.com/cz_fadly)

SALAH satu kerajinan tangan khas Papua paling terkenal ialah noken. Noken merupakan tas tradisional dari 'Bumi Cenderawasih' yang dibuat dari anyaman tali dari serat kulit kayu. Noken tak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Papua.

Noken biasanya digunakan masyarakat untuk membawa kebutuhan sehari-hari, seperti ke ladang atau ke pasar. Tak hanya dalam kehidupan tradisional, di perkotaan noken juga digunakan seperti tas pada umumnya.

Noken tak hanya sangat berguna, noken juga punya ciri khas yang membuatnya sangat unik. Bentuk dan warna-warna alaminya merupakan ciri khas dibanding tas-tas tradisional lain. Namun, bagaimana kini noken setelah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO?

1. Noken setelah diakui warisan dunia enam tahun lalu

Noken Papua. (Foto: instagram.com/marianaresubun)
Noken Papua. (Foto: instagram.com/marianaresubun)

Dalam rangka peringatan hari Noken yang jatuh pada 4 Desember, Peneliti Balai Arkeologi Papua Hari Suroto mengatakan satatus Noken sebagai warisan dunia bisa dicabut.

Kepada Antara di Jayapura, Hari Suroto menjelaskan dalam pertemuan antarpemilik warisan budaya tak benda UNESCO di Port Louis, Mauritius, 26 November 2018 lalu, dalam forum bertajuk Convention for The Safeguarding of The Intangible Cultural Heritage itu, Indonesia melaporkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan terkait warisan budaya tak benda UNESCO selama dua tahun terakhir.

Aktifnya masyarakat dalam kegiatan pelestarian noken akan menguatkan posisi noken sebagai warisan budaya dunia. Kegiatan masyarakat ini harus dilaporkan untuk melihat apakah noken atau tas rajutan khas Papua itu benar-benar masih hidup atau tidak. Kalau tidak ada kegiatan bisa dicabut itu statusnya.

"Masyarakat Papua masih aktif melestarikan budaya noken. Namun, sejak noken diakui sebagai warisan budaya tak benda UNESCO enam tahun yang lalu, hingga saat ini museum noken di Waena masih mangkrak, belum difungsikan," ujarnya.


2. UNESCO minta ada museum noken

Noken Papua. (Foto: instagram.com/galihwirahadi)
Noken Papua. (Foto: instagram.com/galihwirahadi)

UNESCO adalah Badan Perserikatan Bangsa Bangsa yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Salah satu program yang diminta oleh UNESCO dalam pelestarian noken adalah pembuatan museum noken. Museum ini selain sebagai tempat untuk memamerkan, menyimpan koleksi noken juga sebagai sarana edukasi tentang noken.

"Jika museum noken tidak difungsikan dan tidak ada kegiatan di museum tersebut maka dikhawatirkan status noken sebagai warisan budaya tak benda UNESCO akan dicabut," ujarnya.


3. Perjalanan noken ke UNESCO

Noken Papua. (Foto: instagram.com/zainlpiahar_501)
Noken Papua. (Foto: instagram.com/zainlpiahar_501)

Pada 4 Desember 2012 Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan Wiendu Nuryantimengatakan pada jam 10.30 waktu Paris noken diakui oleh UNESCO. Delegasi Republik Indonesia termasuk dari Papua juga hadir dan kita semua patut bersyukur dan bangga pada noken Papua diperjuangkan oleh Titus Pekei ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2012 itu hingga diakui sebagai warisan dunia tak benda di UNESCO.

Noken atau tas rajutan khas Papua akhirnya diakui sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Bergerak dalam Sidang UNESCO di Paris, Prancis, tanggal 4 Desember 2012.

Usulan noken sebagai warisan dunia sudah dilakukan sejak empat tahun terakhir dengan beberapa kali revisi dan pada 4 Desember nanti kami akan memperjuangkan di hadapan 26 anggota komite warisan dunia yang dihadiri wakil dari 189 negara. (*)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Upacara Adat Nyangku, Penghormatan Masyarakat Ciamis terhadap Leluhur



Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH