Merayap di Dinding Gorga, Mengenal Filosofi Seni Ukir Batak Penampakan Gorga atau Seni Ukir Orang Batak. (Foto/htiga.org)

BERWISATA ke Danau Toba tentu meninggalkan banyak cerita dan pelajaran penuh makna. Salah satunya, saat berkunjung ke Samosir, sebuah pulau di tengah-tengah danau Toba. Suasana permai. Alamnya pun mempesona.

Baru saja tiba, kita langsung disajikan berjajar rumah adat khas suku Batak. Mereka menyebutnya Rumah Bolon (Rumah Besar). Di sana banyak pesan dan pelajaran hidup nenek moyang Suku Batak nan tersirat di beberapa bentuk kesenian. Terutama, Gorga atau seni ukit maupun lukis khas Batak di dinding rumah bolon.

Rumah Adat Batak/Rumah Bolon. (Foto/flickr.com)
Rumah Adat Batak/Rumah Bolon. (Foto/flickr.com)

Beragam mode seni terpampang di dinding Rumah Bolon. Setiap karyanya pun mengandung arti, nilai, dan fungsi tertentu. Misalnya jenis Gorga berbentuk payudara di dinding rumah adat Batak Toba, merupakan perlambang kesuburan manusia. Begitu juga dengan ukiran cicak memiliki arti sendiri.

"Cicak merupakan binatang yang selalu ada dimana-mana, termasuk di setiap rumah. Nah, orang Batak juga diharapkan bisa menjadi seperti cicak, bisa ‘menempel’ dimana-mana, meskipun bukan di rumahnya sendiri," seperti dilansir PelitaBatak.

Bukan adat namanya jika hanya mengandung nalai-nilai. Gorga juga memiliki fungsi-fungsinya sendiri. Misalnya jenis gorga jorngom, singasinga atau ulu paung. Ketiga gorga yang dipahat ini memiliki fungsi untuk menjaga rumah dan penghuninya dari gangguan hantu jahat. Tidak heran bila ketiganya tampak menyeramkan.

Selain itu, ada sebuah ukiran yang sangat menarik di dinding rumah Bolon, yakni relief perahu. Gorga ini dipercayai sebagai simbol dari kendaraan roh manusia untuk menuju surga.

Gorga dalam pandangan orang Batak menjelaskan tentang kekayaan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Batak Toba.

“Orang Batak Toba kaya akan gorga. Karena pada dasarnya hal itu bagian dari peradaban mereka. Karena itu bisa dikatakan gorga adalah semiotika simbol peradaban dan filosofi hidup masyarakat Batak Toba,” kata Kepala Pusat Dokumentasi dan Kajian Budaya Batak Universitas HKBP Nommensen, Manguji Nababan dikutip dari medanbisnisdaily.com.

Gorga juga memiliki gaya tersendiri setiap rumahnya, dengan kata lain kita bisa menentukan pangkat atau derajat pemilik rumah dari Gorga yang terpampang di rumahnya. Pada rumah seorang raja, gorga itu bisa berupa yang diukiran dipahat maupun lukis. Sedangkan pada rumah orang biasa, gorga itu lebih kepada gorga yang dilukis.

Kemunculan Gorga menurut sebuah penelitian diperkirakan sudah ada sebelum Islam dan Kristen, yakni setelah orang Batak mengenal struktur pemerintahan dan konsep raja. Diawali dari triwarna; hitam putih dan merah dan juga goresan yang estetis religius yang merupakan narasi kehidupan orang Batak Toba. Warna yang tiga macam ini disebut tiga bolit.

Sedangkan bahan-bahan untuk gorga ini biasanya kayu lunak, yaitu yang mudah dikorek. Biasanya nenek-nenek orang Batak memilih kayu ungil atau ada juga orang menyebutnya kayu ingul. (*)

Baca Juga:Wisata Sembari Mengenal Adat Batak di Museum Batak Tomok

Kredit : zaimul


Zaimul Haq Elfan Habib