Mengenang Kelahiran Panglima Besar Jenderal Soedirman Jendral Soedirman berdir di samping Letkol Soeharto.

HARI ini, 102 tahun silam, lahir seorang prajurit paling setia dan teguh memegang prinsip-prinsip dharma keprajuritan. Dia menolak tunduk pada imperialisme Belanda. Meski badan ringkih meminang sakit tuberkulosis, pantang baginya menyerah.

Soedirman lahir pada hari Senin pon 24 Januari 1916, di kediaman R Tjokrosoenaryo, Asisten Wedana Bodaskarangjati, Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Putra pasangan Karsid Kartawiradji dan Siyem sedari usia balita telah diangkat anak oleh pamannya, R Tjokrosoenaryo.

Soedirman mendapat pendidikan formal Belanda, mulai Hollandsche Inlandsche School (HIS) Cilacap setingkat sekolah dasar (1930), Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) setingkat sekolah menengah pertama (1932), namun setahun kemudian pindah ke Perguruan Parama Wiworo Tomo hingga lulus pada 1935.

Di selang sekolah, Soedirman mengikuti kepanduan. Dia mendaftar Hizbul Wathan, Kepanduan afiliasi dengan Muhammadiyah. Keseriusannya mengikuti kepanduan membuat dirinya terpilih menjadi Menteri Daerah Hizbul Wathan.

Selain kepanduan, setamat sekolah Soedriman menlajutkan pendidikan keguruan di HIK Solo, namun hanya berjalan setahun lantaran kesulitan keuangan selepas ayahnya meninggal.

Tekadnya tak pernah surut. Dia tetap belajar ilmu keguruan dengan seoang guru senior hingga akhirnya diterima menjadi guru di Muhammadiyah Cilacap.

Pada 1936, Soedirman mempersunting gadis asal Plasen, Cilacap, bernama Siti Alfiah. Keduanya sangat aktif di organisasi Muhammadiyah.

Saat miiter Jepang mengambil alih kekuasaan dari tangan Belanda pada 1942, sekolah tempatnya mengajar ditutup. Soedirman kemudian terpilih mengikuti latihan perwira Tentara Pembela Tanah Air (PETA), angkatan kedua di Bogor.

Selesai masa pendidikan militer, Soedirman kemudian mendapat tugas membentuk daidan (batalyon) PETA di Cilacap. Dia menjadi komandan batalyon (daidanco).

Setelah Jepang menyerah pada Sekutu, kemudian Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Soedirman berperan aktif membentuk badan perjuangan di Banyumas.

Dia bersama Residen Banyumas Mr Iskaq Tjokroadisurjo berhasil memaksa Komanda Batalyon PETA Mayor Yuda untuk menyerahkan senjata kepada BKR Banyumas. Soedirman kemudian diangkat menjadi komandan BKR Banyumas.

BKR atau Badan Keamana Rakyat terdiri dari pelbagai unsur badan perjuangan, termasuk sebagian dari PETA dan unsur KNIL. Pada 5 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan maklumat nomor 2/X/45 tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). BKR pun berubah menjadi TKR. Soedirman kemudian terpilih menjadi Panglima Divisi V TKR Banyumas.

Pemerintah perlahan mulai menata kelembagaan TKR dengan mengangkat Muhammad Suliyoadikusuma sebagai Menteri Keaman ad interim. Soedirman kembali terpilih sebagai Pimpinan TKR.

Baca Juga: Misteri dan Teka-teki Kelahiran Jenderal Soedirman

Saat Konferensi TKR di Yogyakarta pada 12 November 1945. Para komandan divisi dan komandan resimen se-Jawa berkumpul untuk memilih pemipin tertinggi TKR. Soedirman meraup 22 suara mengungguli Oerip Soemohardjo.

Soedirman kemudian terpilih sebagai pemipin tertinggi TKR, dengan sebutan Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia.

Tak terbilang jasanya di medan palagan. Mulai dari Pertempuran Ambarawa melawan Sekutu, pemadaman Pemberontakan PKI Madiun, hingga memimpin perang gerilya sambil menahan sakit tuberkulosis.

Selepas memimpin perang gerilya, kondisi fisik Soedirman kembali melemah. Sakit tuberkulosisnya semakin parah. Pada hari Minggu, 29 Januari 1950, pukul 18.30 WIB, Panglima Besar Jendral Soedirman mengembuskan nafas terakhir. Sang Panglima Besar kemudian dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH