Mengenal Tradisi Pasola yang Mendebarkan Tradisi Pasola dilakukan layaknya sebuah perang, dengan saling melempar "sola" atau tombak (Foto: equigeoblog.wordpress)

Masyarakat Pulau Sumba, NTT memiliki festival unik yang sungguh membuat jantung berdebar kencang. Pasalnya, para pria di Pulau Sumba ini menguji nyali mereka melalui tradisi yang disebut dengan Pasola.

Pasola berasal dari kata "sola", yakni lembing atau tombak. Lalu, kata "pa" dari pasola memiliki arti saling. Dengan demikian, pasola berarti saling melempar lembing atau tombak.

Saling lempar lembing atau tombak ini dilakukan dari atas kuda, layaknya berperang. Tradisi ini dilakukan suku Sumba yang masih menganut agama asli, yaitu Marapu, salah satu kepercayaan kepada nenek moyang dan leluhur.

(Foto: viedelablanche.blogspot)

Pasola dilakukan sebagai rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Tradisi tahunan ini juga dilakukan sebagai ungkapan religiusitas agama Marapu, yaitu bentuk pengabdian mereka kepada leluhur.

Penangkapan "nyale", sebutan cacing laut bagi masyarakat Sumba, mengawali kegiatan hari itu. Nyale yang muncul dalam jumlah banyak di tepi pantai dipercaya sebagai pertanda baik bagi masyarakat lokal sana.

Penangkapan dipimpin oleh para Rato, pemuka adat Sumba. Hasil tangkapan tersebut kemudian disidangkan di hadapan majelis Rato.

(Foto: galeriwisata.wordpress)

Setelah itu, barulah dilaksanakan tradisi Pasola di lapangan luas, layaknya medan perang. Tradisi ini dilakukan di empat tempat berbeda secara bergiliran, yaitu kampung Wonokaka, kampung Lamboya, kampung Kodi, dan kampung Gaura.

Adu ketangkasan ini dilakukan dalam dua kelompok, masing-masing beranggotakan 100 orang. Tentu terbayang betapa riuhnya tradisi ini, bagaikan perang yang dilakukan dua kompi tentara.

Para pemuda dari kedua kelompok tersebut saling berhadapan dan menyerang dengan melemparkan sola, seperti peperangan asli. Tenang dulu, meskipun sola merupakan sebuah tombak, ujungnya tidak runcing, tetapi tumpul. Namun tetap saja dalam pelaksanaannya, darah para peserta bercucuran di mana-mana akibat serangan sola.

Walau demikian, masyarakat Sumba menanggapi hal ini dengan positif. Mereka percaya bahwa darah yang tumpah akan menyuburkan tanah dan tanaman pada musim selanjutnya.


Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

YOU MAY ALSO LIKE