Mengenal Budaya Minum Teh Indonesia bersama Othniel Giovanni Othniel Giovanni, pakar teh dari komunitas Exoteaque. (Foto: MP/Paksi Suryo Raharjo)

TEH bagi Othniel Givanni tak sekadar minuman. Di dalamnya ada banyak hal yang bisa diceritakan, mulai dari rasa, budaya, hingga seberapa pengaruh minuman berkhasiat ini bagi tubuh. Teh berarti berbicara bagaimana rasa begitu kompleks dengan sejarah yang panjang.

Othniel Giovanni merupakan seorang pakar teh asal Indonesia. Dia perlahan mengedukasi banyak orang tentang teh. Dia biasa membuka kelas-kelas dari pemula hingga ahli. Di sana dibagikannya pengetahuan tentang cara mencicipi teh, mengedukasi bagaimana kamu bisa mengenal jenis teh sekaligus tahu kualitas sebenarnya. Tak hanya di dalam negeri, dia juga sudah ke beberapa negara untuk berbagi pengetahuannya tentang teh.

Siang sekitar pukul 14.30 WIB, Othniel tiba di kantor redaksi Merahputih.com untuk memberikan kelas teh basic atau dasar. Sebuah meja putih panjang dengan aliran listrik untuk teko pemanas air sudah terpasang di tengah ruangan lobi.

Othniel berdiri tanpa terlalu banyak berinteraksi. Beberapa orang masih hilir mudik. Kamera sudah terpasang di depan. Dia menyiapkan beberapa gelas teh kecil dari keramik, teko yang juga dari keramik, pemanas air, air mineral. Di atas meja, ada juga sebuah kotak dari kayu, sementara kotak penyimpan teh lain dia simpan menjauh ke belakang.

"Sebaiknya jangan pakai wadah plastik, bisa pakai keramik, atau tanah liat juga bisa," katanya sebelum memulai sesi dengan beberapa orang yang mendekat ke meja. Semakin lama kelas semakin ramai.

Sebuah kelas di kantor redaksi merahputih.com dari pakar teh Othniel Giovanni. (Foto: merahputih.com/Suryo Paksi)
Sebuah kelas di kantor redaksi merahputih.com dari pakar teh Othniel Giovanni. (Foto: MP/Paksi Suryo Raharjo)


Tak perlu banyak orang. Dia mengedukasi siapa saja yang ingin mengenal teh. Tak hanya teh-teh dari Indonesia, malah kebanyakan teh terbaik dia bawa langsung dari negara asalnya seperti Tiongkok, Jepang, dan India. Dia mencari mereka yang memiliki kepekaan terhadap rasa di lidahnya. Karena teh, menurutnya, punya seribu rasa untuk dikenali dengan tak sembarang mengecap.

Bagi Othniel, masyarakat harus diberi edukasi dengan baik tentang teh. "Teh itu manis, bukan pahit. Kebanyakan kita mengenal teh itu pahit dan ditambahkan gula, padahal teh asli itu manis," kata Othniel.

Dia bercerita banyak tentang teh. Pengenalan masyarakat terhadap teh memang harus banyak diubah. Dia sudah menyediakan teh-teh terbaik di meja. Dia ingin semua orang mencoba bagaimana teh punya rasa asli yang unik, manis, dan ada banyak rasa tergantung jenisnya.

"Banyak yang salah kaprah, misalnya dalam penyeduhan yang penting diguyur dengan air panas. Padahal gak begitu, terkadang harus pakai air 60 derajat, 40, 90 derajat, kadang-kadang harus gunakan air 100 derajat. Tipe teh lain-lain," katanya. Itu memang terdengar sederhana, tapi begitulah bagaimana daun teh bisa mengeluarkan rasa maksimal dengan penyajian yang tepat.

Budaya minum teh di Indonesia memang jauh ketimbang Tiongkok atau Jepang. Di Tiongkok, orang-orang sudah menyeduh teh ribuan tahun lalu dan memang teh berasal dari sana. Teh pertama masuk ke Indonesia dibawa dari Yunan atau Tiongkok Selatan. Dari sanalah teh mulai dibawa masuk ke Indonesia. Kemudian penanaman teh mulai dikembangkan pada masa kolonial Belanda. Untuk itu, menurut Othniel, tradisi minum teh di Indonesia belakangan banyak dipengaruhi Eropa.

"Tradisi minum teh kita lebih kebarat-baratan, padahal dulunya oriental," kata Othniel. Tradisi orang-orang Indonesia tentang teh misalnya bisa dilihat dari peninggalan-peningalan zaman dahulu tentang porselen yang menjadi bagian dari penyajian teh di Tanah Air yang terpengaruh dari negeri asalnya teh, Tiongkok.

Othniel Giovanni, pakar teh dari komunitas Exoteaque. (Foto: merahputih.com/Suryo Paksi)
Othniel Giovanni, pakar teh dari komunitas Exoteaque. (Foto: MP/Paksi Suryo Raharjo)


Hal yang jauh lebih penting bagi Othniel yaitu pengetahuan tentang teh. Sebagian masyarakat masih mengenal teh berarti gula. Masyarakat masih menganggap teh itu pahit. Padahal, teh punya rasa yang sangat kompleks, di dalamnya ada manis juga.

Sebetulnya sudah banyak tea house atau kedai-kedai khusus teh di Indonesia. Tapi, kebanyakan kualitas teh yang ditawarkan mengikuti selera pasar. Teh-teh terbaik Indonesia bahkan dijadikan komoditas ekspor untuk memenuhi selera luar negeri.

Otniel akan terus mengedukasi. Mengenalkan masyarakat Indonesia kepada kenikmatan sesungguhnya teh. Ia juga optimistis teh akan menjadi gaya hidup orang Indonesia di masa mendatang. :semoga saja, trennya menikmati teh dengan benar ya," ujarnya.

Di akhir perbincangan, ia menyoroti kurangnya informasi tentang produk teh Indonesia kepada masyarakat. Ia amat berharap tea house yang ada akan ikut mengedukasi masyarakat tentang budaya minum teh yang benar. "Kita enggak tahu kualitas terbaik yang mana, karena memang informasinya enggak dibagi," kata Othniel. (zul)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Ingin Mendapatkan Rasa Teh yang Enak? Perhatikan Tiga Kunci Berikut Ini

Kredit : zulfikar


Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH