Memopulerkan Busana Adat lewat #KamisNusantara Kridha Dhari Indonesia menggaungkan pemakaian busana adat lewat #KamisNusantara. (foto: MP/Dwi Astarini)

RUANG tunggu Terminal 3 Ultimate Bandar Udara Soekarno-Hatta, Kamis (10/10) siang, mendadak meriah berwarna. Sekelompok ibu dan beberapa pria mengenakan kain adat tradisional Indonesia dalam berbagai warna terlihat berkerumun. Tak lama, mereka membentuk formasi setengah lingkaran.

Salah seorang pria memainkan gitarnya. Mengalunlah lagu Bengawan Solo dari kelompok tersebut. Sudah pasti aksi spontan itu menarik perhatian para calon penumpang dan pengantar di terminal 3. Orang-orang mulai berkumpul, ada yang ikut bernyanyi kecil, ada juga yang langsung mengabadikan momen tersebut. Beberapa warga mancanegara yang tengah ada di sana pun langsung senang. Mereka dapat tontonan menarik dan berwarna.

BACA JUGA: Batik Pesisir, Jejak Empat Kebudayaan dalam Satu Kain

Rupanya, di Kamis siang itu, komunitas sosial budaya Kridha Dhari Indonesia (KDI) tengah mengampanyekan gerakan Kamis Nusantara. Gerakan cinta Indonesia itu merupakan jawaban atas antusiasme masyarakat terhadap program pelestarian wastra dan busana tradisional. "Sebelumnya, kami sudah membuat gerakan Selasa Berkebaya yang sukses mengajak para perempuan memakai di hari Selasa. Sekarang, kami buat gerakan ini agar kaum pria juga bisa ikut serta dalam melestarikan busana adat tradisional Indonesia," jelas Ketua Umum KDI Prescilla Estevina, saat ditemui Merahputih.com di kesempatan itu.

Perempuan yang karib disapa Cilla itu mengatakan bahwa upaya mengenalkan dan memopulerkan kembali busana adat ini timbul dari keprihatinan akan dilupakannya busana adat Nusantara. Bersama komunitas yang ia bentuk, ia ingin menggugah rasa cinta akan kebudayaan Indonesia. Selain itu, memopulerkan pemakaian busana adat, menurutnya, juga akan berimpak positif bagi perajin di daerah. "Dengan kita memakai kain-kain adat ini, para perajin akan bisa berkembang secara ekonomi," imbuhnya.

kridha dhari
Anggota komunitas Kridha Dhari Indonesia tampil dalam busana adat saat peluncuran #KamisNusantara. (foto: Instagram @kridhadhari)

Ajakan berbusana daerah bukan baru kali ini saja. Menurut Cilla, sejumlah pemerintah daerah, seperti Pemda Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali telah menetapkan hari khusus untuk mengenakan pakaian adat saat beraktivitas. "Pada hari-hari tertentu, seluruh ASN yang bekerja di kantor pemda tersebut diimbau mengenakan pakaian daerah. Di Bali misalnya, setiap Kamis ASN dan anak-anak sekolah pakai pakaian adat," ujarnya.

KDI berharap kegiatan Kamis Nusantara bisa menjadi sebuah gerakan yang dapat menjalin persatuan sehingga seluruh rakyat Indonesia bergandengan tangan menjaga warisan leluhur. "Terlebih di tengah kondisi politik yang penuh friksi dan pertentangan," ujarnya.

kridha dhari
Ketua Umum KDI Prescilla Estevina (kiri) berharap gerakan ini menyebar ke seluruh Nusantara. (foto: MP/Dwi Astarini)

Mengenai anggapan pakaian adat ribet, tak praktis, dan harus memenuhi pakem tertntu, Cilla mengatakan itu bukanlah alasan untuk tidak memakai busana adat. "Ya, memang tidak harus kaku. Kalau memang ada pakem yang sakral atau bagaimana, bisa diakali dengan hanya mengambil bagian-bagiannya. Seperti saya saat ini, mengenakan kain adat yang hanya dililit, dan ini ditambah penutup kepala dari kain adat yang sama. Cukup nyaman digunakan kok," jelasnya sembari mencontohkan penampilannya hari itu.

kridha dhari
Paduan suara KDI tampil dalam balutan busana adat. (foto: MP/Dwi Astarini)

Sekitar 100 orang yang hadir hari itu memang terlihat stylish dan menarik dengan pakaian adat masing-masing. Tak ada kesan ribet ataupun repot. Ada yang berkebaya dengan kain lilit longgar. Ada yang memakai baju lurik dan kain lengkap dengan selop. Bahkan, ada juga yang memadukan kain tenun NTT dengan kulot dan sneakers. Keren dan simpel. "Semoga saja ini bisa mengninspirasi orang Indonesia untuk ikut berpakaian adat. Lewat kampanye #KamisNusantara di media sosial, kami ingin gerakan ini menyebar," ujar Cilla.(dwi)

BACA JUGA: Jangan Salah Kostum, Kenali Dulu Makna yang Terkandung Pada Motif Batik

Penulis : Dwi Astarini Dwi Astarini
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Warga Sulbar Sambut Ramadan Lewat Pantunui Ku'Bur dan Situnu Solung
Tradisi
Naniura, Sajian Ikan Berempah Favorit Raja Batak di Negeri Aing
Kuliner
Naniura, Sajian Ikan Berempah Favorit Raja Batak di Negeri Aing

Sajian ikan mentah khas Batak ini dibuat dengan gaya ceviche.

Kemenparekraf Lakukan Persiapan Pemulihan Pariwisata Indonesia
Travel
Kemenparekraf Lakukan Persiapan Pemulihan Pariwisata Indonesia

Kemenparekraf dan maskapai penerbangan AirAsia Indonesia bersinergi dalam rangka mengantisipasi pemulihan pariwisata nasional

3 Tips Mudah Membuat Es Kopi Rumahanmu Jadi Lebih Variatif
Kuliner
Ketika Danau Irigasi Jadi Tempat Plesir
Travel
Ketika Danau Irigasi Jadi Tempat Plesir

Adanya di Payakumbuh, Sumatra Barat.

Obat Mabuk, Andalan untuk Pelesiran di Negeri Aing
Travel
Obat Mabuk, Andalan untuk Pelesiran di Negeri Aing

Obat mabuk amat membantu pelancong yang suka mual di perjalanan.

Wisata Bendungan di Malang Kembali Dibuka
Travel
Wisata Bendungan di Malang Kembali Dibuka

Tempat wisata ini sempat ditutup pada Maret 2020.

Struktur Karang Hiasi Bawah Laut Bali
Travel
Struktur Karang Hiasi Bawah Laut Bali

Ribuan struktur karang berbagai jenis tersebut juga mulai ditenggelamkan,

Orang Indonesia Ajarkan Warga Inggris Buat Lemper di Rice and Spice Festival
Kuliner
Orang Indonesia Ajarkan Warga Inggris Buat Lemper di Rice and Spice Festival

Lemper mencuri perhatian di Rice and Spice Festival.

Kue Ku, Si Camilan Merah Pembawa Panjang Umur
Kuliner
Kue Ku, Si Camilan Merah Pembawa Panjang Umur

Seperti kura-kura yang hidup mencapai 80 hingga 100 tahun.