Membongkar Klaim Raden Patah Orang Tionghoa Ilustrasi Raden Patah. (Wikipedia)

PENERBITAN buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara karya Slamet Muljana pada 1968 membuat geger. Dalam buku tersebut, Muljana, doktor bidang sejarah dan filologi Universitas Louvain, Belgia, menera sebagian Wali Songo dan Raden Patah berdarah Tionghoa.

Simpulan itu didapat setelah meneliti sumber-sumber sejarah tradisional berupa Serat Kandha, Babad Tanah Jawi, dan Laporan Residen Poortman mengenai Naskah Kronik Cina asal Klenteng Sam Po Kong.

Baca juga: Tradisi "Besaran", Ziarah Makam Wali Dianggap Setara Naik Haji

Raden Patah, menurut Muljana, merupakan putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit dengan Putri Tiongkok, anak Kyai Batong (Tan Go Hwat). Patah memiliki nama Tionghoa, Jin Bun, lahir di Palembang pada 1455.

Jin Bun tersohor dengan Raden Patah kemudian bertandang ke Jawa pada 1474. Dengan bantuan para Wali Songo, lanjut Muljana, Patah mendirikan kerajaan Demak. Di saat kondisi hubungan Majapahit dengan kerajaan-kerjaan pesisir goyah, Demak menyerang dan Patah berperang melawan ayahnya sendiri, Prabu Brawijaya.

Raden Patah
Slamer Muljana. (Wikipedia)

Demak berhasil menaklukan Majapahit. Kemenangan Demak mengakhiri eksisntensi kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Jawa.

Simpulan Muljana mengenai asal-usul Raden Patah menuai kritik tajam. Para sejarawan menyoroti sumber-sumber utama pada buku tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tidak autoritatif.

Baca juga: Didi Kempot Bikin Lagu 'Ojo Mudik' Kolaborasi dengan Wali Kota Solo

Dalam sebuah wawancara khusus di harian Sinar Harapan, 11 Oktober 1971, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, Sejarawan UGM, mementahkan simpulan Slamet Muljana dengan mengatakan tidak pernah ada Residen Semarang bernama Poortman. Hingga kini, sumber tulang punggung narasi besar Slamet Muljana, Naskah Kronik Cina asal Klenteng Sam Po Kong, tidak pernah ditemukan.

Lantaran menuai kontroversi, Jaksa Agung Republik Indonesia mengerluarkan putusan No. 043/DA/6/1971, tertanggal 26 Juni 1971, melarang peredaran buku Slamet Muljana di seluruh Indonesia karena dapat mengganggu ketertiban umum. Larangan tersebut sejatinya memiliki kerangka sosial berkait sedang meningginya sentimen anti-China usai peristiwa 1965.

Raden Patah
Masjid Demak. (simas.kemenang.do.go.id)

Bukan hal mudah menelusuri sosok Raden Patah secara utuh. Tome Pires, duta Portugis untuk Malaka mengujungi Jawa pada abad 16, menuliskan pengalaman mengujungi Jawa dan berjumpa seorang penguasa muslim bernama Badruddin atau Pate Rodin atau Kamaruddin pada Suma Oriental. Mungkinkah Pate Rodin identik dengan Raden Patah sebagai pendiri Demak?

Pandangan berbeda disampaikan HJ de Graaff, Indoloog asal Belanda dan MC Ricklef dalam buku Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI: antara historis dan mitos, mengungkapkan pendiri Demak merupakan seorang Tionghoa Muslim bernama Cek Ko Po, ayah Badruddin atau Kamaruddin atau Pate Rodin.

Sementara, menurut laporan Antonio Pigafetta pada First Voyage Round The World, penguasa Demak pertama bernama Pate Unus.

Masih diperlukan riset mendalam mengenai sosok Raden Patah agar sosoknya tak lagi berbalut mitos begitu tebal. (*)

Baca juga: Pertahankan Imun, Pilih Takjil yang Sehat

Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Kelenteng Madiun Tak Buat Kegiatan di Imlek Tahun Ini
Tradisi
Kelenteng Madiun Tak Buat Kegiatan di Imlek Tahun Ini

Pihak mengurus sudah mengirimkan surat pemberitahuan pembatalan kegiatan ke Polres Madiun Kota.

Kenali Gejala Stockholm Syndrome
Fun
Kenali Gejala Stockholm Syndrome

Berawal dari peristiwa penyanderaan yang terjadi pada 1973.

Parade Seni Budaya Surabaya Dihadirkan via Virtual
Travel
Parade Seni Budaya Surabaya Dihadirkan via Virtual

Pagelaran seni kali ini justru mengundang respon positif.

Sedap Berbumbu, Gulai Ikan Tongkol ala Aceh
Kuliner
Sedap Berbumbu, Gulai Ikan Tongkol ala Aceh

Untuk urusan boga bahari, sajian ala Aceh juga tak kalah nikmat.

Yuk Bikin Masakan Korean Army Stew untuk Keluarga
Kuliner
Yuk Bikin Masakan Korean Army Stew untuk Keluarga

Meskipun berkalori tinggi, tapi rasanya membuat kita ketagihan.

Melancong ke Yogyakarta di Masa New Normal, Wajib Unduh Aplikasi Cared+ Jogja
Travel
Enaknya Tempe untuk Menu Berbuka Puasa
Kuliner
Enaknya Tempe untuk Menu Berbuka Puasa

Dijamin enggak akan bosan.

Resep Olahan Ayam Kekinian untuk Ide Bisnismu
Kuliner
Resep Olahan Ayam Kekinian untuk Ide Bisnismu

Yuk praktekkan, barangkali bisa dijadikan ide bisnis yang akan dijalankan.

Resep Nasi Goreng Sushi untuk Ramadan di Rumah Aja
Kuliner
Resep Nasi Goreng Sushi untuk Ramadan di Rumah Aja

Yuk simak resep nasi goreng sushi bumbu kecap

Karbo Ketemu Karbo, Kebiasaan Makan Orang Indonesia
Kuliner
Karbo Ketemu Karbo, Kebiasaan Makan Orang Indonesia

Tentunya makanan ini dijauhkan oleh orang-orang yang lagi diet. soalnya dalam satu piring terdapat kandungan karbohidrat bertemu dengan karbohidrat lainnya