Letusan Krakatau 1883: Kronologi Erupsi Dahsyat yang Menewaskan 36.417 Orang

ImanKImanK - Minggu, 06 September 2026
Letusan Krakatau 1883: Kronologi Erupsi Dahsyat yang Menewaskan 36.417 Orang

Ilustrasi Letusan Krakatau 1883. Foto/GeminiAI

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami peningkatan aktivitas erupsi pada September 2026. Kondisi ini kembali menarik perhatian publik terhadap gunung api yang berada di kawasan Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra itu.

Badan Geologi melaporkan Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak 4 September 2026 malam, disertai aktivitas vulkanik seperti suara gemuruh dan pancaran lava. Status gunung api tersebut berada pada Level III atau Siaga.

Aktivitas Anak Krakatau saat ini sekaligus mengingatkan kembali pada sejarah Letusan Krakatau 1883, salah satu erupsi gunung api paling dahsyat dalam sejarah Indonesia.

Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda hancur dalam rangkaian letusan besar pada Agustus 1883 dan memicu tsunami yang menerjang pesisir Jawa serta Sumatra.

Badan Geologi mencatat Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di perairan Selat Sunda. Gunung api ini tumbuh di kawasan yang terbentuk setelah kehancuran letusan vulkanik Krakatau pada 1883.

Baca juga:

Abu Vulkanik Anak Krakatau Tersebar ke 5 Provinsi, Berpotensi Lebih Luas

Karena itu, aktivitas Anak Krakatau tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang letusan Krakatau dan perubahan geologi di kawasan tersebut.

Lantas, bagaimana sebenarnya kronologi Letusan Krakatau 1883, seberapa dahsyat tsunami yang ditimbulkannya, dan mengapa peristiwa tersebut menewaskan puluhan ribu orang?

Letusan Krakatau 1883

Tanda-tanda aktivitas Krakatau meletus tahun berapa? Bencana hebat ini mulai terlihat pada 20 Mei 1883. Saat itu, letusan dan semburan uap mulai muncul dari kawasan Perboewatan.

Aktivitas vulkanik kemudian kembali meningkat pada Juni. Abu dan material vulkanik menyelimuti kawasan sekitar gunung, sementara suara letusan terdengar hingga wilayah yang jauh dari Krakatau.

Memasuki Agustus, kondisi semakin berbahaya. Aktivitas pulau anak krakatau meningkat dengan cepat dan letusan menjadi semakin sering.

Pada 25 Agustus, intensitas erupsi semakin besar. Sehari kemudian, Krakatau memasuki fase letusan yang sangat eksplosif. Awan abu membubung tinggi dan material vulkanik menghujani kapal-kapal yang berada di sekitar Selat Sunda.

Data Smithsonian Global Volcanism Program mencatat episode erupsi Krakatau berlangsung mulai 20 Mei hingga sekitar Oktober 1883 dan diklasifikasikan dengan Volcanic Explosivity Index (VEI) 6.

Empat Ledakan Besar pada 27 Agustus 1883

Puncak bencana terjadi pada 27 Agustus 1883. Pada hari itu terjadi empat ledakan besar yang tercatat sekitar pukul 05.30, 06.44, 10.02, dan 10.41 waktu setempat.

Ledakan pertama memicu tsunami yang bergerak menuju kawasan Teluk Betung. Letusan berikutnya menghasilkan gelombang yang menghantam wilayah pesisir Jawa dan Sumatra.

Ledakan sekitar pukul 10.02 menjadi salah satu yang paling dahsyat. Suaranya terdengar hingga wilayah yang sangat jauh dari Krakatau.

Ledakan terakhir disertai keruntuhan besar tubuh gunung. Sebagian besar bangunan Krakatau ambruk dan masuk ke kawasan kaldera.

Baca juga:

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Sampai Jakarta, Gubernur DKI: Batasi Aktivitas Luar Ruangan dan Pakai Masker

Kehancuran tersebut mengubah bentuk kawasan kepulauan di Selat Sunda secara permanen. Sebagian besar tubuh Krakatau hilang dan terbentuk kaldera besar di kawasan bekas gunung.

Tsunami Krakatau Menjadi Pembunuh Utama

Letusan Krakatau 1883

Salah satu dampak paling mematikan dari Letusan Krakatau 1883 adalah tsunami.

Gelombang tsunami menyapu pesisir Banten di Pulau Jawa dan sejumlah wilayah di Sumatra. Kota, desa, pelabuhan, kapal, serta permukiman di sepanjang garis pantai mengalami kerusakan parah.

USGS mencatat korban jiwa akibat letusan Krakatau mencapai 36.417 orang, dengan tsunami menjadi penyebab utama kematian.

Selain tsunami, korban juga berjatuhan akibat aliran piroklastik dan material vulkanik. Gelombang panas dan material hasil erupsi bahkan mencapai wilayah pesisir Sumatra yang berjarak puluhan kilometer dari sumber letusan.

Besarnya dampak tsunami juga dipengaruhi oleh posisi Krakatau yang berada di tengah perairan Selat Sunda.

Ketika sebagian tubuh gunung runtuh dan material dalam jumlah besar masuk ke laut, energi tersebut mendorong terbentuknya gelombang besar menuju garis pantai.

Puluhan Ribu Orang Tewas

Letusan Krakatau 1883 tercatat sebagai salah satu letusan gunung api paling mematikan dalam sejarah modern.

Jumlah korban yang umum digunakan dalam catatan sejarah mencapai 36.417 jiwa. Sebagian besar korban berada di kawasan Banten dan Lampung yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda.

Kerusakan tidak hanya terjadi pada bangunan. Permukiman, pelabuhan, kapal, lahan pertanian, dan vegetasi di sekitar Selat Sunda ikut terdampak.

Pulau Sebesi menjadi salah satu wilayah yang mengalami kehancuran sangat parah. Permukiman di pulau tersebut tersapu bencana yang ditimbulkan oleh rangkaian erupsi dan tsunami.

Baca juga:

Gunung Anak Krakatau Erupsi, KAI Jamin Perjalanan Kereta Api Aman

Krakatau Mengubah Bentuk Pulau dan Membentuk Kaldera

Letusan 1883 menghancurkan sebagian besar gunung api yang sebelumnya terdiri atas beberapa kerucut, termasuk Perboewatan, Danan, dan bagian dari Rakata.

Setelah letusan, kawasan Krakatau tidak lagi berbentuk seperti sebelumnya. Keruntuhan tubuh gunung membentuk kaldera besar yang kemudian menjadi tempat berkembangnya aktivitas vulkanik baru.

Puluhan tahun setelah bencana tersebut, aktivitas vulkanik kembali muncul di kawasan bekas Krakatau.

Pada akhir 1927, gunung api baru mulai tumbuh dari dasar laut. Gunung tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Dengan demikian, Anak Krakatau bukanlah gunung yang sama persis dengan Krakatau yang meletus pada 1883. Anak Krakatau merupakan gunung api baru yang tumbuh di kawasan kaldera hasil kehancuran Krakatau.

Anak Krakatau dan Aktivitas Vulkanik 2026

Sejarah panjang Krakatau kembali menjadi perhatian pada September 2026 setelah aktivitas Anak Krakatau meningkat.

Badan Geologi melaporkan bahwa status aktivitas Anak Krakatau telah berada pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Pada awal September, aktivitas erupsi kembali meningkat dan berlangsung secara menerus.

Dalam laporan 5 September 2026, Badan Geologi menyebut Anak Krakatau mengalami seri erupsi tipe Strombolian. Aktivitas tersebut menghasilkan material vulkanik dan menunjukkan bahwa proses magmatik di gunung api tersebut masih berlangsung.

Meski memiliki hubungan geologis dengan Krakatau 1883, aktivitas Anak Krakatau saat ini tidak otomatis berarti akan terjadi pengulangan bencana seperti pada 1883.

Baca juga:

Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Bandara Soetta, Halim, dan Radin Inten II Ditutup

Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, dan pemerintah daerah.

Berdasarkan rekomendasi terbaru, masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.

Gunung
Gunung Anak Krakatau erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik, Minggu (6/9/2026). ANTARA/Handout

Dampak Letusan Krakatau 1883 Terasa hingga Seluruh Dunia

Dampak letusan Krakatau tidak berhenti di Indonesia.

Material vulkanik yang terlontar ke atmosfer memengaruhi kondisi langit di berbagai belahan dunia. Setelah letusan, sejumlah wilayah melaporkan perubahan warna langit dan matahari terbenam yang sangat mencolok.

Partikel vulkanik di atmosfer dapat memengaruhi jumlah radiasi Matahari yang mencapai permukaan Bumi. Karena itu, letusan besar seperti Krakatau dapat memberikan efek atmosfer dan iklim yang melampaui wilayah di sekitar gunung.

Fenomena atmosfer setelah letusan juga menarik perhatian para ilmuwan dan pengamat cuaca pada akhir abad ke-19. Langit dengan warna merah, jingga, dan keunguan yang muncul setelah letusan menjadi salah satu jejak visual paling terkenal dari peristiwa Krakatau.

Namun, sejumlah klaim mengenai perubahan iklim tertentu akibat Krakatau perlu dibedakan antara dampak yang telah didukung bukti ilmiah dan dugaan yang masih diperdebatkan.

Suara Letusan Krakatau Terdengar Sangat Jauh

Krakatau 1883 juga terkenal karena suara ledakannya terdengar hingga ribuan kilometer dari sumber letusan.

Besarnya energi yang dilepaskan menghasilkan gelombang tekanan atmosfer yang dapat dideteksi oleh instrumen pengukur tekanan udara di berbagai tempat.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah pengamatan atmosfer. Letusan Krakatau menunjukkan bahwa sebuah bencana vulkanik di kawasan Selat Sunda dapat menghasilkan efek fisik yang terdeteksi jauh di luar wilayah Indonesia.

Mengapa Letusan Krakatau 1883 Sangat Mematikan?

Ada beberapa faktor yang membuat bencana Krakatau 1883 begitu besar.

Pertama, letusan berlangsung sangat eksplosif. Krakatau tercatat memiliki VEI 6, menunjukkan skala erupsi yang sangat besar.

Kedua, terjadi keruntuhan kaldera. Kehancuran sebagian tubuh gunung menjadi bagian penting dari rangkaian proses yang menghasilkan tsunami.

Ketiga, kawasan pesisir sangat rentan. Banyak permukiman berada dekat dengan pantai sehingga masyarakat memiliki sedikit waktu untuk menyelamatkan diri ketika gelombang datang.

Keempat, belum tersedia sistem peringatan tsunami modern. Masyarakat pada 1883 tidak memiliki teknologi pemantauan dan komunikasi cepat seperti saat ini.

Baca juga:

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Penerbangan Solo-Jakarta di Bandara Adi Soemarmo Dibatalkan

Gabungan faktor tersebut membuat dampak letusan berkembang menjadi bencana regional dengan korban puluhan ribu jiwa.

Yang Tersisa Setelah Krakatau Meletus

Setelah puncak letusan pada 27 Agustus, aktivitas Krakatau secara bertahap melemah. Namun, aktivitas vulkanik masih berlanjut selama beberapa waktu.

Kawasan tersebut kemudian memasuki fase baru dalam sejarah geologinya. Puluhan tahun setelah kehancuran Krakatau, aktivitas vulkanik kembali muncul dan membentuk Anak Krakatau di tengah kawasan kaldera.

Badan Geologi menjelaskan bahwa Anak Krakatau tumbuh dari kawasan bekas kaldera Krakatau 1883.

Gunung api ini kemudian terus mengalami aktivitas vulkanik dan menjadi salah satu gunung api aktif yang dipantau di Indonesia.

Letusan Krakatau 1883 dalam Sejarah Kebencanaan Dunia

Lebih dari satu abad setelah kejadian, Letusan Krakatau 1883 masih menjadi salah satu contoh penting dalam kajian gunung api, tsunami, dan perubahan atmosfer.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa bahaya gunung api tidak hanya berasal dari lava. Letusan eksplosif dapat menghasilkan abu, aliran piroklastik, keruntuhan tubuh gunung, tsunami, serta gangguan atmosfer dalam skala yang sangat luas.

Baca juga:

Sebaran Abu Anak Krakatau Capai Jakarta, Depok, dan Bogor

Bagi Indonesia, Krakatau juga menjadi bagian penting dari sejarah kebencanaan di kawasan Selat Sunda. Letusan tersebut menunjukkan betapa besar risiko yang muncul ketika gunung api aktif berada di dekat laut dan kawasan pesisir yang dihuni manusia.

Aktivitas Anak Krakatau pada September 2026 kembali menjadi pengingat bahwa kawasan Selat Sunda masih memiliki aktivitas vulkanik.

Namun, kondisi tersebut perlu dilihat berdasarkan data pemantauan terkini dan tidak disamakan begitu saja dengan skenario letusan Krakatau pada 1883.

#Pulau Anak Krakatau #Letusan Vulkanik #Krakatau Meletus Tahun Berapa #Tsunami Krakatau #Sejarah Letusan Krakatau #Letusan Krakatau 1883 #Krakatau Erupsi #Gunung Krakatau #Gunung Anak Krakatau
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Gunung Anak Krakatau Aktif Pekan Lalu, Terjadi 26 Letusan dalam Sehari! Simak Peringatan PVMBG
Gunung Anak Krakatau erupsi 31 kali pada 5-9 Oktober 2026, dengan 26 letusan dalam sehari. Status masih Siaga, radius 5 km wajib dihindari.
Frengky Aruan - Senin, 12 Oktober 2026
Gunung Anak Krakatau Aktif Pekan Lalu, Terjadi 26 Letusan dalam Sehari! Simak Peringatan PVMBG
Indonesia
Jumat Malam Anak Krakatau Erupsi Beruntun Lagi, Jedanya Cuma 6 Menit
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi beruntun dua kali pada Jumat malam (9/10) dengan jeda hanya 6 menit. Radius 2 km disterilkan!
Wisnu Cipto - Jumat, 09 Oktober 2026
Jumat Malam Anak Krakatau Erupsi Beruntun Lagi, Jedanya Cuma 6 Menit
Indonesia
Dua Pulau Baru Anak Krakatau Mendadak Muncul Pasca Erupsi, Ini Penjelasan Badan Geologi
Penasaran dengan fenomena munculnya dua pulau baru Anak Krakatau di Selat Sunda pasca erupsi beruntun? Cek fakta dan penjelasan resmi dari Badan Geologi di sini!
Angga Yudha Pratama - Kamis, 24 September 2026
Dua Pulau Baru Anak Krakatau Mendadak Muncul Pasca Erupsi, Ini Penjelasan Badan Geologi
Indonesia
Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul di Dekat Gunung Anak Krakatau, Ini Penjelasan Badan Geologi
Daratan baru seluas 32,8 hektare muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah erupsi. Badan Geologi menjelaskan dugaan asal material pembentukannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 24 September 2026
Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul di Dekat Gunung Anak Krakatau, Ini Penjelasan Badan Geologi
Indonesia
Kru Kapal Jurnalis Hilang Ditemukan di Enggano, Jenazah Diberangkatkan ke Banten Pakai Pesawat
Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, secara genetik dengan kode PM/62/P.Enggano/01, teridentifikasi sebagai Sukarman,
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 23 September 2026
Kru Kapal Jurnalis Hilang Ditemukan di Enggano, Jenazah Diberangkatkan ke Banten Pakai Pesawat
Berita Foto
Tabur Bunga untuk Jurnalis dan Awak Kapal yang Hilang Kontak di Pantai Pagedongan
Keluarga jurnalis yang hilang kontak melakukan tabur bunga di bibir Pantai Kampung Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, Jumat (18/9/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 18 September 2026
Tabur Bunga untuk Jurnalis dan Awak Kapal yang Hilang Kontak di Pantai Pagedongan
Indonesia
Setelah 10 Hari, Operasi Pencarian Jurnalis Hilang Dihentikan
Sepanjang operasi digelar, tim SAR gabungan secara umum tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun awak kapal di seluruh sektor penyisiran.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 17 September 2026
Setelah 10 Hari, Operasi Pencarian Jurnalis Hilang Dihentikan
Indonesia
Tinggi Anak Krakatau Capai 150 M Setelah Erupsi, PVMBG Jamin Longsor Tidak Picu Tsunami
Tinggi Gunung Anak Krakatau capai 150 meter usai erupsi September 2026, namun dipastikan aman dari potensi tsunami.
Wisnu Cipto - Kamis, 17 September 2026
Tinggi Anak Krakatau Capai 150 M Setelah Erupsi, PVMBG Jamin Longsor Tidak Picu Tsunami
Indonesia
Pencarian 5 Jurnalis Dikoordinasikan Hingga Wilayah Barat Pulau Sumatra
Tim sempat menemukan sebuah terpal berwarna oranye, tetapi benda tersebut kemudian dipastikan bukan bagian dari barang milik korban maupun speedboat Arupadhatu 1.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 15 September 2026
Pencarian 5 Jurnalis Dikoordinasikan Hingga Wilayah Barat Pulau Sumatra
Indonesia
Tembus 500 Meter Bibir Anak Krakatau, Pencarian Hari ke-8 Jurnalis dan ABK Hilang Masih Nihil
Operasi SAR hari kedelapan pencarian 5 jurnalis dan 3 ABK kapal Arupadhatu 1 di perairan Gunung Anak Krakatau masih nihil. Simak laporan lengkap Basarnas di sini!
Wisnu Cipto - Selasa, 15 September 2026
Tembus 500 Meter Bibir Anak Krakatau, Pencarian Hari ke-8 Jurnalis dan ABK Hilang Masih Nihil
Bagikan