Lakon Sejarah Dakon, Permainan Tradisional Paling Populer Saat Ramadan Anak bermain dakon atau congklak di halaman rumah. (Tropenmuseum)

Dua anak perempuan di halaman rumah bercat krem di bilangan Jakarta Timur asyik menaruh biji plastik serupa cangkang kerang ke dalam cekungan secara bergantian. Saat akan memasukan biji itu, mulutnya ikut cuap-cuap menghitung. "Satu, dua, tiga,.. " bisiknya mencicil biji di tiap cekungan berukuran sedang berjumlah 14 dan dua lubang besar.

Baca juga: Membongkar Klaim Raden Patah Orang Tionghoa

"Lumayan sih jadi enggak Youtube-an aja," kata Nurafniah (41) ibu dua anak itu. Nur tak sengaja beroleh congklak saat sedang bersih-bersih rumah bersama buah hatinya di kala senggang Work From Home. "Eh kebetulan pada nanya caranya. Ya, saya ajarkan dulu terus ketagihan. Baguslah".

Bila melihat anaknya bermain congklak, staf administrasi di salah satu perusahaan swasta Jakarta mengaku seperti sedang bernostalgia menjelajahi masa kecilnya bermain disebut orang Jawa dakon saat puasa ramadan.

"Dulu kadang kan cuma di tanah kita bolongin, bisa langsung main. Sekarang mana ada tanah. Aspal semua," katanya berkelakar.

Dakon
Dakon. (Tropenmuseum)

Dakon atau congklak, menurut James Dananjaya pada Folklor Indonesia, tersebar luas di Asia dan Afrika, terutama kawasan paling kuat terkena pengaruh kebudayaan Islam.

Tiap darah di Asia punya sebutan berlainan. Di Srilanka disebut canka, di Semenanjung Melayu bernama conkak, Filipina menamainya cunkayon, dan di Afrika diasma mankala.

Baca juga: Tradisi "Besaran", Ziarah Makam Wali Dianggap Setara Naik Haji

Di Afrika, menurut Dennys Lombard pada magnum opus Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia, dakon serupa mangala di berbagai tempat di Samudera Hindia, Madagaskar, dan Turki, setidaknya sejak abad ke-17.

Dakon, lanjut Lombard, berasal dari kata daku atau saya, mengesankan penonjolan ego, namun justru menjadi contoh terbaik dari permainan tradisional non-kompetitif. Tujuannya sekadar menghibur melalui hubungan timbal-balik.

Dakon
Dakon dengan dekorasi figur wayang. (British Museum)

Ketika orang Eropa di tanah Hindia memainkannya untuk kali pertama, dengan terkejut mereka menyadari permainan ini bertujuan bukan untuk mencari menang, berbeda dari dam-daman (catur Jawa).

“Peraturannya memang dibuat demikian rupa sehingga permainan dapat berlangsung berjam-jam dan hanya sekali-kali terhenti karena kekalahan (habisnya biji di dalam lubang tertentu) salah satu pemain,” tulis Lombard.

Di Jawa, sebelum populer di kalangan istana keraton, dakon merupakan dolanan (permainan) tradisional kalangan keluarga petani. Tak heran bila istilah di dalam permainan menggunakan sebutan keseharian penggarap sawah, seperti bera atau sawah belum ditanami, ngacang atau nandur kacang atau sawah dengan hasil panen sedikit, dan lumbung atau tempat menaruh padi.

Dakon
Dakon juga disebut mancala di beberapa negara Asia. (Wikipedia)

Dengan begitu, ketika anak memainkan dakon terdapat pengetahuan strategi bercocok tanam agar menabung di lumbung, beroleh untung supaya tidak bera atau ngacang.

Permainan anak-anak petani itu, menurut Sukirman Dharmamulya, Peneliti Mainan Anak Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisi Yogyakarta dikutip Menelisik Permainan Anak-Anak dari Zaman Hindia, cepat sekali mendapat tempat di hati penghuni keraton. "Apalagi di keraton banyak sawo kecik," katanya Sukirman memberi tambahan informasi biji sawo kecik sebagai bahan permainan pengganti biji padi.

Di lingkungan kraton, menurut AJ Resink-Wilkens dalam Het Dakonspel (Permainan Dakon), dakon biasa dimainkan anak-anak perempuan dari kalangan bangsawan. Tiap keluarga di masing masing trah setidaknya memiliki satu bidang permainan. (*)

Baca juga: Sejarah Orde Baru Larang Pelajar Islam Berhijab!



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH