Seni

Pameran 'Kisah Rimba' Rekam Keanekaragaman Hayati dan Isu Lingkungan di Indonesia

Febrian AdiFebrian Adi - Jumat, 08 Desember 2023
Pameran 'Kisah Rimba' Rekam Keanekaragaman Hayati dan Isu Lingkungan di Indonesia
'Kisah Rimba' pameran seni digelar di Bali. (Foto: Dok. Pulitzer Center)

WILAYAH Indonesia yang membentang dari puncak Jaya Wijaya, Papua, hingga kedalaman Danau Matano, Sulawesi, adalah rumah bagi 12 persen mamalia. Keanekaragaman hayatinya menempati peringkat kedua di dunia.

Karena keindahannya itu, organisasi jurnalisme dan pendidikan nirlaba Pulitzer Center berkumpul membagikan kisah-kisah hutan dan merangsang kesadaran akan pelestarian hutan melalui pameran seni bertajuk Kisah Rimba yang berlangsung pada 8-14 Desember 2023 di Dharma Negara Alaya, Denpasar, Bali.

Pulitzer Center menjadikan pameran sebagai representasi kekayaan seni, tradisi, dan juga keanekaragaman hayati wilayah Indonesia timur.

“Melalui jurnalisme, kami menghadirkan isu-isu penting seperti perlindungan hutan tropis ke permukaan. Para seniman seringkali menjadi pelukis isu-isu ini. Hutan, sebagai sumber kehidupan, memberikan makanan, mengurangi emisi karbon, dan menjaga keanekaragaman hayati,” ujar Intan Febriani, Direktur Pendidikan dan Pengembangan Internasional Pulitzer Center, dalam keterangan resmi yang dikirimkan kepada Merahputih.com, Jumat (8/12).

Baca juga:

'Merah-Putih' dalam Karya-Karya Budaya Populer Jepang

Pameran ini juga mengangkat isu deforestasi, salah satu penyebab perubahan iklim. Isu ini seharusnya menjadi isu besar bagi Indonesia yang memiliki hutan hujan tropis ketiga terluas di dunia setelah Brasil dan Kongo. Namun, isu ini dianggap kurang mendapat perhatian.

Inilah yang menginspirasi sejumlah seniman Bali seperti Gen Netik, Gus Dark, Made Bayak dan putranya Damar, Slinat (Silly in Art), Aqil Reza (Circle of Youth), Hafidz Mubarak (ANTARA foto), dan Ulet Ifansasti (iklimku.org) untuk membuat karya.

“Dengan dukungan Pulitzer Center, para seniman Bali, melalui Kisah Rimba merespons karya-karya jurnalistik investigatif, menjadi suara bagi kekhawatiran kami mengenai terbabatnya hutan, kehilangan sumber makanan bagi masyarakat sekitar hutan, dan ancaman bagi hak-hak penduduk asli,” lanjut Intan.

Baca juga:

CLAMP Manga Art Exhibition akan Digelar pada 2024

Selain pameran seni, ada penampilan Melati Wijsen. (Foto: Dok. Pulitzer Center)

Intan menambahkan, di pameran ini ada sesi opening talk yang dipandu olehnya. Sesi bertemakan "What We’re Not Talking About When We’re Talking About Forests" menghadirkan Ahmad Arif, jurnalis KOMPAS, yang juga penerima dana hibah Pulitzer.

Bergabung pula dua kurator pameran ini, Ismar Patrizki dan Made Bayak, serta seorang pemerhati lingkungan hidup dan hak-hak perempuan Irma Sitompul.

Pada 13 Desember, pameran akan menghadirkan Melati Wijsen, seorang agen perubahan berusia 22 tahun. Ia akan memandu pemutaran film Bigger Than Us yang diikuti oleh sesi diskusi dan tanya jawab.

Melati telah berjuang untuk bumi sejak usia 12 tahun. Ia juga salah satu penggagas Gerakan Bye Bye Plastic Bags bersama adiknya, Isabella.

Jangan lewatkan Kisah Rimba yang akan berlangsung selama tujuh hari pada 8-14 Desember 2023. Pameran ini merupakan bagian dari kampanye #ShowMeYourTree, sebuah ajakan untuk semua warga di wilayah Mekong dan sekitarnya untuk bersatu dalam perjuangan melindungi hutan hujan tropis Indonesia. (Far)

Baca juga:

'Surga' Belanja di Singapura

#Pameran #Pameran Seni
Bagikan
Ditulis Oleh

Febrian Adi

part-time music enthusiast. full-time human.
Bagikan