Kisah Gemailla Gea Geriantiana, Penata Busana yang 3 Kali Masuk Nominasi FFI Gemailla Gea Geriantiana. (Foto: Istimewa)

KEPIAWAIANNYA memadukan dan menciptakan efek pada kostum artis film layar lebar tak diragukan lagi. Gemailla Gea Geriantiana sudah tiga kali berturut-turut masuk nominasi Festival Film Indonesia (FFI). Pertama pada film "Sang Kyai" (2012), kedua di "3 Nafas Likas" (2014) dan ketiga, "Night Bus" (2017).

Film "Sang Kyai" garapan sutradara Rako Prijanto diakuinya paling menantang. Ini adalah film kolosal pertama yang meminta bantuan wanita kelahiran Bandung ini menyiapkan sejumlah busana.

Kostum pemain film "Sang Kyai". (Foto: Istimewa)

Menantang karena ini kan film sejarah based on true story. Jadi enggak boleh salah menyiapkan baju. Pemainnya juga banyak banget sampai ribuan,” kata Gea, panggilan akrabnya di kediamannya di Jalan Mantrigawen, Kecamatan Kraton, Yogyakarta.

Jika sampai salah menampilkan busana, nama besarnya dipertaruhkan. Untuk itu Gea sangat berhati-hati kala menyiapkan kostum. Riset dan diskusi pun ia lakukan kepada banyak pihak. Bahkan ia sampai bolak-balik menyambangi Pesantren Tebu Ireng, tempat tinggal Sang Kyai demi mendapatkan gambaran busana zaman dulu.

Aku ke sana benar-benar memerhatikan pakaian para santri seperti apa. Lalu melihat foto-foto Sang Kyai Hasyim Asy’ari. Ngobrol sama keluarga dan kerabatnya. Dateng ke museumnya. Biar dapat gambaran detail baju-baju yang mau dibuat seperti apa,” ujarnya.

Busana pemain film "Sang Kyai". (Foto: Istimewa)

Tantangan

Tantangan juga didapatkan saat syuting berjalan. Ia dan tim harus memastikan secara detail kostum dan penampilan yang dipakai para pemain. Kostum tersebut harus sama dan sesuai adegan per adegan. Jangan sampai berubah pakaian di adegan yang sama.

Walau hanya diberi waktu tiga bulan menyiapkan busana, nyatanya kerja kerasnya terbayar dengan nominasi Piala FFI 2012. Film ini pun sukses mendapat pujian dari banyak pihak. Pengalaman tak terlupakan ia dapatkan saat berpartisipasi di film "Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon" (2016).

Di film besutan sutradara Benni Setiawan ini, syuting dilakukan di Beirut dan Acid Lebanon selama tiga minggu. Seluruh kru dan pemain tinggal sementara di Markas Pasukan perdamaian Indonesia, Camp Indobat. Camp tersebut terletak di dekat perbatasan antara Lebanon dengan Israel, yang merupakan daerah konflik.

Untung waktu kami syuting, kedua negara ini sudah berdamai. Jadi aman, enggak ada masalah,” terang wanita kelahiran Bandung, 6 Oktober 1976 ini.

Namun, di tengah konflik yang terjadi, rasa nasionalismenya makin tergugah. Gea menceritakan tentara Indonesia sangat disenangi warga Lebanon. Mereka terkenal dengan sikap ramah dan baik hati. Sehingga saat ia berkeliling dengan mobil TNI berlambang Garuda, anak-anak kecil kerap memanggil mereka dengan sebutan Garuda Indonesia.

Merinding rasanya. Bangga campur kagum dengan tentara kita. Mereka terkenal dan dicintai sama masyarakat Lebanon. Karena mereka terkenal baik, ramah dan suka membantu,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Keberhasilannya meraih nominasi FFI 2017 tak menyurutkan langkahnya untuk berkreasi. Malah gelar ini membuatnya terpacu untuk lebih menghasilkan karya berkualitas. Seluruh tantangan tak memberatkan langkahnya untuk terus mengasah kreativitas. Apalagi Gea sangat mencintai fesyen dan desain. Ia menganggap kerjannya selama ini adalah hiburan dan menjalankan hobi semata. (*)

Berita ini merupakan laporan Teresa Ika, kontributor merahputih.com, untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Anda juga bisa baca Warga Yogyakarta Gelar Kenduri Rayakan Pelantikan Gubernur DIY.



Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH