Kerben, Berry Asli Indonesia yang Tumbuh di Alam Liar Berry asli Indonesia, kerben tumbuh di alam liar. (Foto: KKI WARSI)

INDONESIA kaya keanekaragaman hayati. Hewan dan tanaman lokalnya begitu beragam dan unik. Termasuk di antaranya buah-buahan lokal. Di Indonesia, ada satu buah sejenis berry yang belum banyak dikenal orang. Namanya kerben.

Buah ini tidak langka, hanya saja tidak terlalu mudah ditemukan. Kerben banyak ditemui di Desa Suko Pangkat, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci, Jambi. Buah ini tumbuh sangat subur di sana, terutama di ladang penduduk.

Baca Juga:

Kopi Sontoloyo di Batu, Nasi Lodehnya Juara

Banyaknya buah kerben yang tumbuh di wilayah tersebut membuat muncul gagasan untuk membuat selai kerben. "Selai kerben dan hutan yang dikelola dengan baik, akan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk masyarakat Suko Pangkat dan sekitarnya," ujar Sukmareni, Koordinator Divisi Komunikasi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.

1. Tumbuh liar di kawasan pegunungan

kerben
Tumbuh liar di kawasan pegunungan. (Foto: KKI WARSI)

Berbeda dengan tanaman buah-buahan dan sayuran lainnya, tanaman kerben tumbuh liar di kawasan pegunungan, tepatnya di ketinggian lebih dari 1300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Walaupun mirip stroberi, bentuk tanaman kerben berbeda dengan stroberi. Kerben berupa tanaman perdu dengan banyak duri di bagian batangnya. Bisa tumbuh liar, tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus.

Sering kali kerben ditemukan di pekarangan rumah warga. Ketika buahnya tidak dimakan karena begitu berlimpah, maka saat buahnya jatuh dari pohon, bijinya akan tumbuh menjadi bibit baru, sehingga kebun belukar kerben menjadi rimbun. Menariknya, buah ini tidak mengenal musim. Tanamannya bisa berbuah sepanjang tahun.

2. Antara stroberi dan raspberi

kerben
Rasanya manis dengan sedikit asam. (Foto: KKI WARSI)

Kalau melihat buahnya, kerben seperti persilangan antara stroberi dan raspberi. Bentuknya seperti stroberi, tapi warnanya merah menyala seperti raspberi. “ Teksturnya lebih lembut daripada stroberi. Ukurannya juga lebih kecil. Buah yang sudah matang sempurna dengan warna merah menyala rasanya manis dengan sedikit asam. Ada bagian lembut berwarna putih di bagian tengah buah. Ini yang tidak ditemukan pada stroberi,” urai Reni.

Ia bercerita, buah ini biasa dijadikan camilan anak-anak di kawasan desa Sungko Pangkat. Sepulang sekolah mereka kerap mengumpulkan kerben, lalu merajutnya dengan rumput. Siapa yang rangkaian kerben paling panjang, dia yang menang. Setelah itu, baru mereka santap ramai-ramai. Selain anak sekolah, kerben biasa dikonsumsi oleh petani. Sepulang dari ladang, atau ketika dalam perjalanan pulang-pergi ke ladang, para petani memetik dan mengonsumsi buah ini.

Baca Juga:

Kenangan Manis Gulali Jadul yang Dinikmati Sebelum Pandemi

3. Dijadikan selai

kerben
Selai kerben dibuat tanpa pengawet. (Foto: KKI WARSI)

Kerben mulai banyak dimanfaatkan oleh penduduk desa sebagai bahan pembuatan selai. Sebelum dapat menghasilkan selai yang enak sekaligus menarik dipandang, kerben harus melewati serangkaian uji coba.

Reni bercerita, pada uji coba pertama, selai dibuat dengan menghancurkan kerben dan mencampurkan gula. Namun selaput putih yang ada di bagian tengah buah membuat selai jadi tidak cantik. Selanjutnya, untuk mencoba memperbaiki penampilannya, bagian tengah buah diambil dahulu, sebelum diolah. Selanjutnya, mereka melakukan uji organoleptik (uji rasa dan uji aroma) dengan sejumlah warga. Ketika sudah mendapatkan komposisi yang tepat, pengukuran dan cara pembuatan itu dijadikan patokan produksi.

Meski tanpa pengawet kimia sama sekali, jika dikemas dengan wadah kedap udara, selai kerben bisa disimpan selama dua minggu selama kemasannya tidak dibuka. Hal tersebut agar produk tidak terkontaminasi oleh bakteri. “Kami hanya menggunakan tambahan gula, garam, dan perasan lemon sebagai penguat rasa. Bahan-bahan ini juga berperan sebagai pengawet alami,” kata Reni. (avia)

Baca Juga:

Martabak, Camilan Populer di Layanan Pesan-Antar

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Ekosistem Budaya Rempah
Kuliner
Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Ekosistem Budaya Rempah

Festival Bumi Rempah Nusantara bisa disaksikan di Indonesiana.tv.

3 Curug Indah di Bogor yang Layak Dikunjungi
Travel
3 Curug Indah di Bogor yang Layak Dikunjungi

Banyak orang pergi ke wilayah yang masuk ke dalam provinsi Jawa Barat ini hanya untuk sekadar melepas penat

Mengenal Arak Bali dan Cara Menikmatinya
Kuliner
Mengenal Arak Bali dan Cara Menikmatinya

Arak Bali terbuat dari bahan-bahan alami.

Siapa Usmar Ismail, Pahlawan Nasional Berlatar Perfilman?
Indonesiaku
Siapa Usmar Ismail, Pahlawan Nasional Berlatar Perfilman?

Ia menjadi satu-satunya orang di perfilman Indonesia beroleh gelar Pahlawan Nasional

5 Destinasi Favorit Liburan Akhir Tahun, Ada Kotamu?
Travel
5 Destinasi Favorit Liburan Akhir Tahun, Ada Kotamu?

Setiap kota punya ceritanya masing-masing.

Bersantap di Dalam Glass House Bandung
Kuliner
Bersantap di Dalam Glass House Bandung

Rumah kaca atau glass house yang dipenuhi tanaman sudah terlihat dari sebelum kamu memasuki restoran.

5 Makanan Khas Indonesia yang Jarang Diketahui di ICN Food Exhibition 2021
Kuliner
5 Makanan Khas Indonesia yang Jarang Diketahui di ICN Food Exhibition 2021

Wajib dicoba dan tidak kalah lezat dengan kuliner lainnya.

Ketika Semua Kasta Menyatu dalam Obrolan Santai di Angkringan
Kuliner
Ketika Semua Kasta Menyatu dalam Obrolan Santai di Angkringan

Saat makan di angkringan, jangan heran jika ada yang menyapa atau mengajak ngobrol kita seolah sudah mengenal lama.

Banjaratma, Rest Area Unik Bagaikan Museum
Travel
Banjaratma, Rest Area Unik Bagaikan Museum

Rest area Tol Pejagan-Pemalang KM 260B ini favorit banyak orang.

Sejarah Singkat Bakpia, Kuliner Asal Tiongkok yang Masuk ke Indonesia
Kuliner
Sejarah Singkat Bakpia, Kuliner Asal Tiongkok yang Masuk ke Indonesia

Mengenal sejarah singkat Bakpia di Indonesia, kuliner asal Tiongkok yang terbentuk dari pengaruh akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa