Kuliner
Kenangan Manis Gulali Jadul yang Dinikmati Sebelum Pandemi Gulali jadul yang dibentuk menggunakan tangan. (Foto: Instagram/@nengjajan)

KEDUA tangannya begitu lihai membentuk adonan gula yang masih lembek itu. Adir, yang sudah menggeluti profesi pedagang gulali selama 35 tahun itu kemudian mengambil sebuah cetakan dari kayu berbentuk ikan.

Adonan gula tersebut kemudian ia tiup agar mengembang. Setelahnya, ia mengisi cetakan ikan tadi dengan adonan gulali. Cetakan tersebut ditutup, ia tekan, dan jadilah permen gulali berbentuk ikan. Begitu proses pembuatan gulali pada akun Youtube The Tuang Food.

Baca Juga:

Ketangguhan Jerome Polin Mengejar Pendidikan di Luar Negeri

Anak-anak kekinian mungkin lebih mengenal jenis gulali seperti permen kapas ataupun rambut nenek. Permen kapas dan rambut nenek memang masih banyak ditemukan atau dijual di pinggir jalan menggunakan motor ataupun sepeda.

Namun, sebenarnya ada jenis gulali lain yang saat ini sudah mulai punah. Disebut sebagai gulali jadul, gulali ini tidak seperti permen kapas atau rambut nenek yang bisa hilang saat diemut. Gulali jadul lebih mirip seperti permen yang keras. Para penjual gulali tetap tangguh dengan eksis di tengah banyaknya jajanan modern.

Jajanan jadul ini sering sekali ditemukan di depan sekolah. Biasanya, penjual gulali jadul ini memikul dagangannya dengan berjalan kaki dan singgah ke sekolah-sekolah. Seiring perkembangan zaman, ada beberapa penjual gulali jadul yang sudah menggunakan sepeda maupun motor.

Mereka yang memikul dagangannya biasanya duduk di depan sekolah menggunakan bangku kecil atau batu bata. Sedangkan mereka yang menggunakan sepeda atau motor biasanya hanya berdiri dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya untuk mencari keramaian.

Sebelum pandemi, jajanan jadul ini biasanya menarik perhatian anak-anak saat bel pulang sekolah berbunyi. Biasanya banyak anak-anak yang mengantre dan berkerumun hanya untuk melihat keterampilan sang penjual permen jadul ini yang dengan telaten membuat berbagai bentuk permen.

Proses pembuatannya yang unik menarik perhatian. (Foto: Instagram/@nengjajan)

Penjual gulali jadul biasanya menggunakan panci tipis yang telah disekat menjadi tiga hingga empat bagian dengan satu bagian yang tertutup untuk menaruh perlengkapan. Sisanya merupakan tempat gula yang akan dibentuk.

Untuk menjaga tekstur gula agar tidak menjadi keras dan tetap bisa dibentuk, di bawah panci terdapat api kecil yang digunakan untuk menjaga suhu panci. Selain itu, para penjual gulali jadul selalu mempunyai gunting kecil yang terbuat dari besi untuk membantu proses pembuatan bentuk lucu pada permen.

Mereka juga mempunyai kayu kecil yang digunakan untuk mengaduk dan mengambil gula sebelum dibentuk. Bahkan, beberapa penjual yang kreatif biasanya membuat sendiri cetakan gulali yang terbuat dari kayu ataupun semen.

Baca Juga:

Terapis Tangguh, Memiliki 3 Akun Pijat Daring demi Keluarga

Rahasia nikmat gulali jadul ini adalah proses pembuatannya yang menggunakan tangan langsung dan bahkan ada yang ditiup serta dibentuk menggunakan cetakan kayu atau semen. Hal inilah yang membuat para orang tua selalu melarang anak-anaknya untuk membeli jajanan ini karena dianggap tidak higienis bahkan dari sebelum pandemi. Apalagi dalam situasi pandemi saat ini, orang-orang mulai memperhatikan kebersihan makanan, sehingga hampir tidak ada yang berani membeli gulali jadul ini.

Terbuat dari gula, air dan pewarna makanan, meskipun rasanya biasa-biasa saja atau seperti permen pada biasanya, gulali jadul digemari karena bentuk-bentuknya yang lucu dan unik. Beragam bentuk mulai dari ayam, burung, naga, sepeda, motor, dot, kembang, terompet dan masih banyak lagi bisa dibentuk dengan mudah oleh penjualnya.

Para pembeli juga mengaku sebenarnya mereka lebih tertarik melihat proses pembuatannya daripada permennya. Jadi mereka hanya membeli gulali jadul untuk melihat proses pembuatannya.

Dengan harga Rp 2 ribu rupiah per satunya, gulali jadul ini ternyata tidak dijual sembarangan. Para penjual mengaku mengikuti pelatihan dan banyak belajar sebelum akhirnya yakin untuk menjualnya. Bentuk gulali yang unik dan bagus ini sebenarnya memperlihatkan seni dari para penjualnya.

Tanpa kreativitas dan jiwa seni tentunya akan sulit membuat beragam bentuk yang unik. Melihat proses pembentukan gulali pun sebenarnya mirip seperti melihat anak-anak yang bermain dengan tanah liat. Hanya saja dalam proses pembentukan gulali ini sedikit lengket, sehingga diperlukan tepung putih yang dioleskan para penjual ke jari sebelum membentuk gulalinya.

Pandemi mengakibatkan jajanan jadul ini terancam karena biasanya jajanan ini mengincar lokasi yang berada di depan sekolah, tetapi karena banyak sekolah yang tutup, para penjual gulali juga semakin sulit ditemukan. Tidak hanya itu, proses pembuatannya yang tidak menggunakan sarung tangan dan bahkan ditiup oleh penjual sebelum membentuk gulali membuat orang ragu untuk mengonsumsinya karena dapat tertular penyakit melalui droplet. (tel)

Baca Juga:

Ketangguhan Melawan Jerawat Berikut Ejekan Orang

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Menparekraf Dukung Sistem Transportasi Terintegrasi Pariwisata
Travel
Menparekraf Dukung Sistem Transportasi Terintegrasi Pariwisata

Agar pariwisata Indonesia semakin berkualitas.

Tren Wisata Domestik dan Alam akan Jadi Tren di 2021
Travel
Tren Wisata Domestik dan Alam akan Jadi Tren di 2021

masyarakat masih memilih tujuan wisata domestik.

Hiburan Unik di Pasar Malam Negeri 'Aing'
Travel
Hiburan Unik di Pasar Malam Negeri 'Aing'

Hiburan di pasar malam Indonesia amat seru.

Tujuan Wisata Favorit Ungkap Kepribadianmu
Indonesiaku
Tujuan Wisata Favorit Ungkap Kepribadianmu

Para ahli menjelaskan anggapan kepribadian orang bisa dilihat dari tujuan wisata favoritnya.

Pecalang Gagah Amankan Nyepi
Hiburan & Gaya Hidup
Pecalang Gagah Amankan Nyepi

Sebagai pengamanan adat, pecalang punya tampilan khas.

Beda Rupa Kostum Gundala, Gimana Ceritanya?
Indonesiaku
Beda Rupa Kostum Gundala, Gimana Ceritanya?

Seiring berkembangnya zaman, kostum Gundala mengalami perubahan dan penyesuaian.

Jam Matahari Masjid Agung Keraton Surakarta Peninggalan PB VIII
Travel
Jam Matahari Masjid Agung Keraton Surakarta Peninggalan PB VIII

Meskipun sudah lama dibangun dan berada di halaman masjid, jam matahari tersebut tetap dalam kondisi bagus.

Kerben, Berry Asli Indonesia yang Tumbuh di Alam Liar
Kuliner
Kerben, Berry Asli Indonesia yang Tumbuh di Alam Liar

Kerben banyak ditemui di Desa Suko Pangkat, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci, Jambi.

Belajar Memahami Kisah Meduroy, Warga Negeri Aing Mudik Cuma di Hari Raya Kurban
Tradisi
Pentingnya Perlindungan Masyarakat Adat untuk Keanekaragaman Alam
Tradisi
Pentingnya Perlindungan Masyarakat Adat untuk Keanekaragaman Alam

Masyarakat adat memerlukan perhatian pemerintah.