Kemudahan Membeli Makanan tak Lunturkan Budaya Memasak Kemudahan membeli makanan secara daring membuat orang malas memasak. (foto: pixabay/mohammed Hasan)

DI era digital ini banyak sekali kemudahan untuk mendapatkan makanan, mulai dari kian banyaknya makanan saji cepar hingga semakin populernya membeli makanan secara daring lewat beberapa aplikasi ojek daring.

Apalagi belanja lewat aplikasi ojek daring kerap menawarkan promo yang bisa dibilang 'gila-gilaan'. Tak ayal jika milennial lebih tertarik untuk membeli makanan secara daring ketimbang memasak.

Dengan adanya fenomena tersebut, berbagai spekulasi pun bermunculan. Salah satunya ialah menimbulkan dampak buruk bagi para milennial. Seperti halnya budaya memasak yang secara perlahan kian hilang tergerus kemudahan membeli makanan secara daring.

BACA JUGA: Keterampilan Memasak Amat Penting, ini Alasannya

Simpelnya, milennial saat ini hanya tinggal klik-klik saja dari ponsel mereka, makanan pun sampai tujuan dengan selamat. Tanpa harus mengantre, berpanas-panasan, hingga menembus padatnya kemacetan kota. Bahkan tanpa perlu beranjak dari kamar, kamu sudah bisa membeli makanan yang kamu inginkan. Makanan akan diantar langsung sampai tujuan.

Namun, menurut Chef Wira Hardiansyah, kemudahan membeli makanan secara daring yang sedang hype di kaum milennial tersebut tak berpengaruh besar terhadap hilangnya budaya memasak. Hal itu diungkapkan chef Wira saat dihubungi Merahputih.com, Selasa (15/10).

"Menurut saya budaya masak tidak akan hilang. Toh, dalam pemesanan makanan sang penjual tetap memasak. Maksudnya budaya memasak tidak akan hilang, karena itu merupakan kebudayaan terpenting dalam hidup manusia," jelas Chef Wira.

budaya memasak
Penjualan makanan secara daring merupakan modernisasi kebudayaan. (foto: pixabay/mohamed_hassan)

Ia malah menyambut baik perkembangan penjualan makanan via daring. Menurutnya, itu merupakan modernisasi kebudayaan. Kemudahan membeli makanan secara daring tak lantas mengancam ketahanan pangan karena banyak bahan yang dilupakan. Justru itu bisa mempercepat orang memperoleh bahan pangan.

"Dalam ketahanan pangan ada empat indikator yaitu : keterjangkauan, ketersediaan, dan kualitas serta keamanan. Belanja daring merupakan faktor keterjangkauan, selain bisa melihat harga yang bisa dijangkau ekonomi kita, dan bisa dijangkau oleh tangan kita. Kita tidak usah jauh jauh ke sawah untuk membeli padi atau beras. Cukup order via daring," jelas Chef Wira.

Bagi Chef Wira, dengan memasak, kita bisa mengerti kebudayaan seseorang. Contohnya ketika mengolah rendang, mereka akan mengenal gulai dan kalio. Kedua masakan itu merupakan kebudayaan Minang. Contoh lainnya, meski banyak orang berjualan kue secara daring, saat upacara ngapem di Yogya, hanya keluarga yang boleh memasak. Itu pun tetap menggunakan kayu walaupun sudah ada gas. "Tetap saja keluarga harus memasak," tegasnya.

Di lain hal, banyaknya makanan dan minuman kekinian yang diadopsi dari luar negeri menjadi perhatian. Namun, bagi Chef Wira, hal itu bukanlah sebuah masalah. Menurutnya, sejauh apa pun dominasi makanan kekinian begitu populer, akan ada tempat tersendiri bagi masakan tradisional Indonesia secara eksklusif.

aplikasi gojek daring
Chef Wira optimistis masakan Indonesia akan tetap bertahan. (foto: Instagram @wirahardiyansyah)

Meskipun demikian, pengetahuan akan makanan tradisional yang perlahan mulai terlupakan rentan terjadi. Hal itu disebabkan terpaan makanan-makanan kekinian. Mengenai hal itu, bukan tak mungkin suatu saat makanan tradisional kita bisa diklaim oleh luar negeri.

Untuk itulah, budaya memasak tetap harus digaungkan. Memasak akan mempertahankan pengetahuan orang akan bahan pangan. Hal itu akan menghindarkan terjadinya rawan pangan. "Dalam memasak kita memerlukan suatu bahan. Jika suatu bahan dilupakan, alhasil lahan penanaman bahan itu akan tergantikan oleh bahan lainnya. Nah, kalau bahan tersebut sering dikonsumsi, sang pemilik lahan akan berpikir dua kali untuk menjual atau menggantinya," tutupnya.

Chef Wira optimistis kekayaan jenis masakan Indonesia yang merupakan cermin keberagaman akan bertahan. Sepanjang sejarahnya, Indonesia telah terlibat dalam perdagangan dunia dan diperebutkan karena lokasi dan sumber daya alamnya. Pesannya, menjaga pangan sama seperti halnya merawat masa depan.(ryn)

BACA JUGA: Terlalu Banyak Konsumsi Daging Ternyata Bahaya untuk Planet Bumi

Kredit : raden_yusuf

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH