Jenis Energi Alternatif yang Bisa Dikembangkan Indonesia Energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil. (foto: pixabay/blickpixel)

LISTRIK jadi komoditas paling penting saat ini. Tanpa adanya listrik, aktivitas manusia bisa terhambat. Hal itu mengingat hampir semua peralatan yang kita miliki kini menggunakan listrik. Bahkan banyak negara yang sudah menggunakan mobil listrik ketimbang mobil berbahan bakat fosil. Tentunya karena bahan bakar fosil terbatas jumlahnya, dan pembakarannya menciptakan gas yang berbahaya bagi Bumi.

Tapi tanpa kita sadari, listrik yang kita gunakan sehari-hari pun dihasilkan menggunakan bahan bakar fosil. Artinya kita pun andil dalam perubahan iklim yang terjadi. Bagaimana jadinya jika nanti manusia tidak dapat lagi menggunakan bahan bakar fosil? Apa artinya kita harus hidup tanpa listrik?

BACA JUGA: Hikmah Hidup Tanpa Listrik di Film 'Survival Family'

Energi alternatif jadi jawaban dari pertanyaan tersebut. Banyak sumber daya di sekitar sebenarnya dapat membantu menghasilkan energi listrik. Sumber daya tersebut pun jumlahnya tidak terbatas karena bisa diperbaharui. Apa aja sih emangnya sumber daya tersebut?

1. Tenaga Surya

tenaga surya, energi alternatif
Panel surya mengubah panas matahari jadi listrik. (foto: pixabay/ulleo)

Matahari yang merupakan pusat dari tata surya kita ternyata memiliki energi yang sangat besar. Tanpa energi yang ia miliki, tentunya matahari tak dapat menyinari bumi kita di siang hari. Dan ternyata energi dari matahari bisa kita ubah menjadi energi listrik. Yaitu menggunakan panel surya.

Panel surya bahkan dapat digunakan untuk keperluan pribadi karena ringan dan ukurannya pun tidak besar. Sedangkan untuk kebutuhan skala besar seperti industri, cukup menggunakan panel surya yang dibariskan bersamaan.
Indonesia sebagai negara tropis yang memiliki dua musim saja tentunya dapat memanfaatkan panel surya dengan sebaik mungkin.

2. Tenaga Panas Bumi

tenaga panas bumi, energi alternatif
Pembangkit geotermal tak menyumbang gas berbahaya bagi bumi. (foto: geotermal indonesia)

Indonesia seharusnya merasa beruntung karena berada di jalur vulkanis. Itu berarti Indonesia bisa lebih mudah menggunakan energi panas yang berasal dari inti bumi.

Caranya dengan mengumpulkan uap hasil pemanasan air yang masuk ke bumi lewat por-pori tanah. Nantinya uap tersebut dipisahkan dari air panas. Uap kemudian dioperkan ke generator yang nantinya akan memutar turbin dan menghasilkan listrik. Sementara itu, air panas dipompa kembali ke bawah tanah untuk diubah menjadi uap.

Karena tidak ada proses pembakaran sama sekali, pembangkit listrik tenaga panas bumi hampir sama sekali tak menyumbang gas yang berbahaya bagi bumi. Listrik yang dihasilkan pun besar dan konsisten dibanding pembangkit listrik lainnya.

3. Tenaga Gelombang Laut

tenaga gelombang laut, energi alternatif
Tersedia banyak lahan untuk pembangkit tenaga gelombang laut. (foto: komunitas energi terbarukan aceh)

Satu sumber daya lagi yang Indonesia dapat manfaatkan untuk membuat listrik, yaitu ombak atau gelombang laut. Negara kita terpecah-pecah menjadi banyak pulau. Artinya kita memiliki banyak lahan untuk membuat pembangkit listrik tenaga gelombang laut (PLTGL).

PLTGL bekerja dengan cara memasang turbin di dalam laut. Turbin tersebut nantinya dapat bergerak karena gelombang laut yang dihasilkan dari siklus pasang surut laut. PLTGL harus dibangun di pesisir laut karena di situ lah besarnya kekuatan tenaga gelombang laut berada. Ini lah yang membuat Indonesia tepat sebagai tempat membangun PLTGL.

4. Bahan Bakar Hayati (Biofuel)

bahan bakar hayati, pengganti listrik
Indonesia berpotensi menghasilkan listrik dari biofuel. (foto: pixabay/stevepb)

Altenatif lainnya yang bisa Indonesia kembangkan yaitu bahan bakar hayati atau biofuel. Negara kita kaya akan sumber daya alam (SDA). Ternyata banyak SDA yang bisa kita gunakan untuk menghasilkan listrik dan jumlahnya tidak terbatas.

Seperti contohnya penemuan dari Universitas Jember yang menemukan bahwa singkong dapat diubah menjadi biofuel. Tak hanya singkong, banyak limbah yang sebenarnya dapat diubah menjadi biofuel. Contohnya kulit pisang dan tinja hewan peternakan.

Meskipun tetap menghasilkan gas yang berbahaya bagi bumi, jumlahnya tak sebanyak yang dihasilkan bahan bakar fosil. Selain itu jumlahnya dapat diperbaharui dan juga mengurangi dampak dari limbah yang tidak dimanfaatkan sama sekali. (sep)

BACA JUGA: 6 Cara Cerdik yang Bisa Dilakukan untuk Minimalisir Tagihan Listrik


Tags Artikel Ini

Dwi Astarini