Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Lingkungan

Ini Jawaban Mengapa Produk 'Eco-Friendly' Tidak Ramah di Kantung

P Suryo RP Suryo R - Kamis, 01 Agustus 2019
Ini Jawaban Mengapa Produk 'Eco-Friendly' Tidak Ramah di Kantung

Produk organik relatif lebih mahal (Foto Unsplash/Viktor Forgacs)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BERMUNCULAN pengolahan bahan-bahan organik menjadi produk yang berkualitas tinggi bagi tubuh. Perawatan tubuh menjadi rutinitas penting bagi kaum perempuan untuk menghindari kerusakan kulit yang memengaruhi penampilan. Untuk itu, perempuan perlu mewaspadai setiap bahan yang terkandung dalam kosmetik. Banyak yang menyalahgunakan kandungan dosis pada produk kecantikan seperti mencampurkan merkuri, bahan aktif tabir surya dan heksaklorofen yang berlebih seperti yang dilansir dari situs alodokter.

Kepedulian pada bumi ini menghadirkan produk kecantikan yang ramah lingkungan tanpa petisida. Meski ramah lingkungan, produk kecantikan berbahan organik memasang harga yang relatif lebih mahal. Nah, inilah alasan di balik mahalnya produk eco-friendly yang telah dirangkum merahputih dari beberapa sumber.


Baca Juga: Bantu Untuk Mengurangi Pemanasan Global!


1. Proses produksi pengaruhi biaya

eco
Membutuhkan proses pengolahan yang lebih lama dan memengaruhi perhitungan manufaktur hingga upah pekerja (Foto Unsplash/Allie Smith)


Olahan tanaman organik membutuhkan waktu yang lebih lama. Berbeda dengan tanaman yang mengandung petisida, proses pengolahannya lebih cepat dan mudah. Proses pengolahan ini menghabiskan biaya manufaktur yang relatif mahal. Bagi industri kecil atau rintisan, hanya mampu produksi dalam skala kecil sehingga keuntungan yang diperoleh lebih sedikit. Biaya manufaktur ini belum termasuk perhitungan upah pekerja dan pemilihan kemasan yang berbahan kaca daripada plastik.

2. Mahalnya label sertifikasi

eco
Biaya label sertifikasi relatif mahal. (Foto Pexels/rawpixel.com)


Melansir dari ecolabel index, tercatat sebanyak 463 ekolabel di 199 negara dengan 25 sektor industri yang mendapatkan sertifikasi. Untuk mendapatkan sertifikasi, produk yang diajukan setidaknya mengandung 95 persen bahan organik tanpa pupuk, kimia, pestisida, hormon pertumbuhan dan antibiotik. Perusahaan yang membutuhkan ekolabel ini harus mengeluarkan biaya yang besar. Biasanya, satu perusahaan membutuhkan lebih dari dua sertifikasi. Memiliki sertifikasi menjadi jaminan terkait pemenuhan syarat dengan standar yang sesuai. Penilian sertifikasi menunjukkan kompeten dan ketidakberpihakan sehingga memenuhi persyaratan. Harga yang ditawarkan mulai dari US$ 8 per bulan (sekitar Rp112 ribu per bulan).


Baca Juga: Tren Ramah Lingkungan kini Merambah Dunia Fesyen

3. Produk lebih awet

eco
Produk berbahan organik memiliki masa penyimpanan yang lebih lama (Foto: Unsplash/Heather Ford)


Banyaknya produk non organik yang masa penyimpanannya lebih pendek hanya berkisar 12 hingga 20 bulan. Berbeda dengan produk organik yang bertahan hingga 3 tahun lebih. Hal ini dikarenakan bahan pembuatannya itu berasal dari alam, sehingga kualitasnya tetep terjaga tanpa campur tangan bahan kimia yang bisa merusak senyawa alami dari bahan nya

4. Rendahnya minat konsumen

eco
Rendahnya minat pembeli (Foto Pexels/rawpixel.com)


Minat pembeli menjadi pertimbangan dalam penentuan harga pasar. Masih banyak pembeli yang mengutamakan harga murah daripada kualitas produk. Perusahaan penghasil produk eco-friendly yang menghabiskan modal lebih besar ini harus bersaing juga dengan produk komersil yang menawarkan harga murah.

Melansir dari underseabikini, produk ramah lingkungan umumnya memiliki kualitas yang lebih baik dengan ketahanan yang lebih lama dan tersedia dalam jumlah terbatas sehingga memengaruhi harga pasar. (dys)

Baca Juga: Menangani Sampah Plastik dengan Menerapkan Ekonomi Sirkular

#Ramah Lingkungan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

P Suryo R

Stay stoned on your love
Show More

Berita Terkait

Fun
GRID Cardio Rush 2026 Sukses Digelar, Setiap Langkah Pelari Berkontribusi Tanam Pohon
GRID Cardio Rush 2026 sukses digelar Minggu (2/8). Ajang lari ini mendorong gaya hidup sehat lewat aksi nyata pelestarian alam.
Soffi Amira - Minggu, 02 Agustus 2026
GRID Cardio Rush 2026 Sukses Digelar, Setiap Langkah Pelari Berkontribusi Tanam Pohon
Berita Foto
Transformasi UOB Plaza Dorong Efisiensi Energi dan Target Net-Zero Emission 2060
Transformasi UOB Plaza berkolaborasi dengan UOB Property ini akan menghadirkan peningkatan yang berfokus pada aspek berkelanjutan.
Didik Setiawan - Rabu, 17 Juni 2026
Transformasi UOB Plaza Dorong Efisiensi Energi dan Target Net-Zero Emission 2060
Indonesia
Hadapi Polusi Udara, Pemprov DKI Jakarta Dorong Kolaborasi Lintas Wilayah
Pemprov DKI Jakarta memperkuat sistem pemantauan kualitas udara. Namun, Jakarta memerlukan kolaborasi lintas wilayah.
Soffi Amira - Rabu, 11 Februari 2026
Hadapi Polusi Udara, Pemprov DKI Jakarta Dorong Kolaborasi Lintas Wilayah
Indonesia
Terpidana Kerja Sosial Bakal Dikerahkan Bersihkan Ribuan Tempat Kotor
Pidana kerja sosial sendiri merupakan salah satu tindakan hukum yang diterapkan kepada pelanggar pidana ringan, sesuai dengan yang diatur dalam KUHP yang baru.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 03 Februari 2026
Terpidana Kerja Sosial Bakal Dikerahkan Bersihkan Ribuan Tempat Kotor
Indonesia
28 Perusahaan Tambang Nakal Kena Denda Triliunan, DPR Minta Uangnya Langsung Balik ke Rakyat Terdampak
Namun, keberanian itu harus dibarengi dengan transparansi alokasi dana denda agar tidak terjadi penyimpangan di kemudian hari
Angga Yudha Pratama - Selasa, 27 Januari 2026
28 Perusahaan Tambang Nakal Kena Denda Triliunan, DPR Minta Uangnya Langsung Balik ke Rakyat Terdampak
Indonesia
Pramono Ingin Kembangkan Sanitasi Ramah Lingkungan
Pramono menilai penguatan ekosistem sanitasi berkelanjutan penting untuk menjadikan Jakarta kota yang lebih sehat.
Dwi Astarini - Sabtu, 15 November 2025
Pramono Ingin Kembangkan Sanitasi Ramah Lingkungan
Indonesia
2 Pemuda Lumajang Berhasil Olah Limbah MBG Jadi Produk Ramah Lingkungan, Buka Lapangan Kerja Baru
Dua pemuda asal Lumajang mengolah limbah MBG menjadi produk ramah lingkungan. Inovasi ini juga menciptakan lapangan kerja baru.
Soffi Amira - Sabtu, 11 Oktober 2025
2 Pemuda Lumajang Berhasil Olah Limbah MBG Jadi Produk Ramah Lingkungan, Buka Lapangan Kerja Baru
Indonesia
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, Pemerintah Anugerahkan Kalpataru Lestari untuk Pejuang Hijau
Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, Kementerian Lingkungan Hidup memberikan penghargaan Kalpataru Lestari kepada 12 pejuang lingkungan dari berbagai daerah.
Hendaru Tri Hanggoro - Kamis, 05 Juni 2025
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, Pemerintah Anugerahkan Kalpataru Lestari untuk Pejuang Hijau
Fun
Belajar dari Kearifan Lokal, Merawat Bumi Lewat Cara yang Sudah Lama Kita Punya
Kearifan lokal berdampak pada pelestarian lingkungan.
Ikhsan Aryo Digdo - Senin, 24 Maret 2025
Belajar dari Kearifan Lokal, Merawat Bumi Lewat Cara yang Sudah Lama Kita Punya
Indonesia
Jerry Hermawan Lo Kunjungi Pembangkit Listrik Energi Hijau Pertama di Karimun
PLTS PT Karimun Power Plant bakal menjadi percontohan perusahaan listrik di Indonesia yang ramah lingkungan
Angga Yudha Pratama - Senin, 17 Maret 2025
Jerry Hermawan Lo Kunjungi Pembangkit Listrik Energi Hijau Pertama di Karimun
Bagikan