Ini Jawaban Mengapa Produk 'Eco-Friendly' Tidak Ramah di Kantung Produk organik relatif lebih mahal (Foto Unsplash/Viktor Forgacs)

BERMUNCULAN pengolahan bahan-bahan organik menjadi produk yang berkualitas tinggi bagi tubuh. Perawatan tubuh menjadi rutinitas penting bagi kaum perempuan untuk menghindari kerusakan kulit yang memengaruhi penampilan. Untuk itu, perempuan perlu mewaspadai setiap bahan yang terkandung dalam kosmetik. Banyak yang menyalahgunakan kandungan dosis pada produk kecantikan seperti mencampurkan merkuri, bahan aktif tabir surya dan heksaklorofen yang berlebih seperti yang dilansir dari situs alodokter.

Kepedulian pada bumi ini menghadirkan produk kecantikan yang ramah lingkungan tanpa petisida. Meski ramah lingkungan, produk kecantikan berbahan organik memasang harga yang relatif lebih mahal. Nah, inilah alasan di balik mahalnya produk eco-friendly yang telah dirangkum merahputih dari beberapa sumber.


Baca Juga: Bantu Untuk Mengurangi Pemanasan Global!


1. Proses produksi pengaruhi biaya

eco
Membutuhkan proses pengolahan yang lebih lama dan memengaruhi perhitungan manufaktur hingga upah pekerja (Foto Unsplash/Allie Smith)


Olahan tanaman organik membutuhkan waktu yang lebih lama. Berbeda dengan tanaman yang mengandung petisida, proses pengolahannya lebih cepat dan mudah. Proses pengolahan ini menghabiskan biaya manufaktur yang relatif mahal. Bagi industri kecil atau rintisan, hanya mampu produksi dalam skala kecil sehingga keuntungan yang diperoleh lebih sedikit. Biaya manufaktur ini belum termasuk perhitungan upah pekerja dan pemilihan kemasan yang berbahan kaca daripada plastik.

2. Mahalnya label sertifikasi

eco
Biaya label sertifikasi relatif mahal. (Foto Pexels/rawpixel.com)


Melansir dari ecolabel index, tercatat sebanyak 463 ekolabel di 199 negara dengan 25 sektor industri yang mendapatkan sertifikasi. Untuk mendapatkan sertifikasi, produk yang diajukan setidaknya mengandung 95 persen bahan organik tanpa pupuk, kimia, pestisida, hormon pertumbuhan dan antibiotik. Perusahaan yang membutuhkan ekolabel ini harus mengeluarkan biaya yang besar. Biasanya, satu perusahaan membutuhkan lebih dari dua sertifikasi. Memiliki sertifikasi menjadi jaminan terkait pemenuhan syarat dengan standar yang sesuai. Penilian sertifikasi menunjukkan kompeten dan ketidakberpihakan sehingga memenuhi persyaratan. Harga yang ditawarkan mulai dari US$ 8 per bulan (sekitar Rp112 ribu per bulan).


Baca Juga: Tren Ramah Lingkungan kini Merambah Dunia Fesyen

3. Produk lebih awet

eco
Produk berbahan organik memiliki masa penyimpanan yang lebih lama (Foto: Unsplash/Heather Ford)


Banyaknya produk non organik yang masa penyimpanannya lebih pendek hanya berkisar 12 hingga 20 bulan. Berbeda dengan produk organik yang bertahan hingga 3 tahun lebih. Hal ini dikarenakan bahan pembuatannya itu berasal dari alam, sehingga kualitasnya tetep terjaga tanpa campur tangan bahan kimia yang bisa merusak senyawa alami dari bahan nya

4. Rendahnya minat konsumen

eco
Rendahnya minat pembeli (Foto Pexels/rawpixel.com)


Minat pembeli menjadi pertimbangan dalam penentuan harga pasar. Masih banyak pembeli yang mengutamakan harga murah daripada kualitas produk. Perusahaan penghasil produk eco-friendly yang menghabiskan modal lebih besar ini harus bersaing juga dengan produk komersil yang menawarkan harga murah.

Melansir dari underseabikini, produk ramah lingkungan umumnya memiliki kualitas yang lebih baik dengan ketahanan yang lebih lama dan tersedia dalam jumlah terbatas sehingga memengaruhi harga pasar. (dys)

Baca Juga: Menangani Sampah Plastik dengan Menerapkan Ekonomi Sirkular


Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH