IBM dan NASA Berkolaborasi untuk Perangi Perubahan Iklim

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Kamis, 30 November 2023
IBM dan NASA Berkolaborasi untuk Perangi Perubahan Iklim
IBM dan NASA akan memanfaatkan AI untuk perangi isu iklim dunia. (Foto: Carson Masterson/Unsplash)

IBM mengumumkan kemitraan dengan NASA, Mohamed Bin Zayed University of Artificial Intelligence, Pemerintah Kenya, dan Science and Technology Facilities Council (STFC) Hartree Centre Inggris. Kolaborasi yang digagas jelang ajang COP 28 di Dubai ini, bertujuan untuk berkontribusi dalam perjuangan melawan perubahan iklim.

Mengutip laman techradar, upaya kolaboratif ini akan meningkatkan penelitian dan pengembangan di bidang pemetaan geospasial dan kecerdasan buatan. Harapannya, ini akan menghasilkan model fondasi multi-modal untuk meramalkan cuaca.

Selain ramalan cuaca, model tersebut akan membantu memerangi perubahan iklim dan dampaknya dengan menganalisis pulau-pulau panas, melakukan pemetaan upaya reboisasi, dan meramalkan dampak dari peristiwa cuaca ekstrem.

Baca juga:

Suarakan Isu Perubahan Iklim, BLACKPINK Terima Gelar MBE dari Raja Charles III

Upaya kolaboratif ini akan meningkatkan penelitian dan pengembangan di bidang pemetaan geospasial. (Foto: Matt Palmer/Unsplash)

"Perubahan iklim adalah masalah yang nyata dan mendesak, sehingga kita harus menemukan cara-cara baru untuk mengatasinya secepat dan seefisien mungkin, termasuk melalui teknologi AI tercanggih saat ini," ujar Alessandro Curioni selaku Vice President Accelerated Discovery di IBM seprti dikutip techradar.

Dalam upaya melawan perubahan iklim, keunggulan dapat diperoleh melalui pemanfaatan teknologi terbaru untuk meramalkan dan mengatasi cuaca ekstrem, selain dari kemampuan untuk menganalisis dampak proyek-proyek seperti reboisasi.

Melalui kemitraan ini, IBM berambisi untuk mengembangkan model dasar yang dapat diadaptasi untuk mendukung prediksi cuaca dan iklim. Ketika model ini telah diselesaikan, tujuannya adalah untuk menjadikannya sebagai sumber terbuka yang dapat diakses oleh publik secara bebas. Hal ini diharapkan dapat menghilangkan hambatan dalam melakukan penelitian global.

"Model dasar AI yang memanfaatkan data geospasial dapat menjadi pengubah permainan karena memungkinkan kita untuk lebih memahami, mempersiapkan, dan mengatasi berbagai peristiwa terkait iklim yang mempengaruhi kesehatan planet kita dengan cara dan kecepatan yang belum pernah ada sebelumnya," jelas Curioni.

Baca juga:

IKLIM Fest, Festival Sadar Iklim yang Terapkan Reuse Protocol

Isu iklim dunia menjadi sorotan di ajang COP28 Dubai. (Foto: Matt Palmer/Unsplash)

Pada 2022, European Centre for Medium-Range Weather Forecasting memulai penggunaan emulator kecerdasan buatan dengan menggunakan data historis untuk menghasilkan prakiraan cuaca yang lebih akurat dibandingkan dengan sebelumnya.

Emulator kecerdasan buatan tersebut dikembangkan dengan tujuan untuk menangani satu tugas khusus dari satu set data, namun memberikan keuntungan karena tidak memerlukan solusi komputasi kinerja tinggi (HPC). Sebagai alternatif, emulator kecerdasan buatan ini dapat dijalankan pada komputer desktop dalam waktu yang singkat.

Dengan demikian, dengan membuat model dasar yang dilatih berdasarkan pengamatan cuaca selama 40 tahun dalam kumpulan data MERRA2, emulator kecerdasan buatan yang telah dilatih dapat dikembangkan dan disebarluaskan kepada para peneliti, memungkinkan terciptanya penemuan ilmiah dengan lebih cepat.

"Kami berharap teknologi ini dapat membantu mempercepat kecepatan kita dalam memperoleh dan menerapkan solusi untuk planet yang lebih aman dan sehat bagi generasi mendatang,” pungkas Curioni. (aqb)

Baca juga:

Adaptasi Perubahan Iklim lewat Adopsi Hutan Mangrove

#Sains #Perubahan Iklim #Artificial Intelligence #Teknologi
Bagikan
Ditulis Oleh

Ananda Dimas Prasetya

nowhereman.. cause every second is a lesson for you to learn to be free.
Bagikan