Wisata
Berkunjung ke Kampung Adat Ciptagelar Sukabumi Kampung adat Ciotagelar. (Foto: Instagram/adifest_organizer1)

SEBAGAI negeri yang bhineka, Indonesia memiliki banyak kampung adat. Salah satunya Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kampung adat ini merupakan sebuah desa yang masyarakatnya masih memegang erat tradisi leluhur sebagai orang Sunda.

Berbagai kegiatan dilakukan sesuai kebiasaan nenek moyang seperti cara bertani hingga gaya berpakaian. Keunikan tersebut menjadi daya tarik bagi para wisatawan, walaupun Kampung Adat Ciptagelar bukan tempat wisata.

Baca juga:

Kawasan Malioboro akan Dibuat ala Tempo Dulu

Meski demikian, Gede Kasepuhan Ciptagelar terbuka bagi tamunya atau wisatawan yang berkunjung biasanya untuk mengenali dan mempelajari cara hidup budaya lokal. Wisatawan juga bisa merasakan suasana asri dan sejuk yang jauh dari kehidupan kota yang ingar bingar.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar mempunyai ciri khas dalam lokasi dan bentuk rumah serta tradisi yang masih dipegang kuat oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat yang tinggal di Kampung Ciptagelar disebut masyarakat kasepuhan.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar mempunyai ciri khas dalam lokasi dan bentuk rumah. (Foto: Instagram/ nila_ahp)
Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar mempunyai ciri khas dalam lokasi dan bentuk rumah. (Foto: Instagram/ nila_ahp)

Istilah kasepuhan berasal dari kata sepuh dengan awalan /ka/ dan akhiran /an/. Dalam bahasa Sunda, kata sepuh berarti ‘kolot’ atau ‘tua’ dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan pengertian ini, muncullah istilah kasepuhan, yaitu tempat tinggal para sesepuh.

Sebutan kasepuhan ini pun menunjukkan model ‘sistem kepemimpinan’ dari suatu komunitas atau masyarakat yang berasaskan adat kebiasaan para orang tua (sepuh atau kolot). Kasepuhan berarti ‘adat kebiasaan tua’ atau ‘adat kebiasaan nenek moyang’.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar sendiri merupakan nama baru untuk Kampung Ciptarasa. Artinya sejak tahun 2001, sekitar bulan Juli, Kampung Ciptarasa yang berasal dari Desa Sirnarasa melakukan “hijrah wangsit” ke Desa Sirnaresmi yang berjarak belasan kilometer.

Baca juga:

Ada Destinasi Wisata Baru di Jabar, Jembatan Merah dan Situwangi

Di desa inilah, tepatnya di Kampung Sukamulya, Abah Anom atau Bapa Encup Sucipta sebagai puncak pimpinan kampung adat memberi nama Ciptagelar sebagai tempat pindahnya yang baru. Ciptagelar artinya terbuka atau pasrah.

Kepindahan Kampung Ciptarasa ke kampung Ciptagelar lebih disebabkan karena “perintah leluhur” yang disebut wangsit. Wangsit ini diperoleh atau diterima oleh Abah Anom setelah melalui proses ritual beliau yang hasilnya tidak boleh tidak, mesti dilakukan.

Masyarakat atau warga Kampung Ciptagelar sebenarnya tidak terbatas di kampung tesebut saja tetapi bermukim secara tersebar di sekitar daerah Banten, Bogor, dan Sukabumi Selatan. Namun demikian sebagai tempat rujukannya, “pusat pemerintahannya” adalah Kampung Gede, yang dihuni oleh Sesepuh Girang (pemimpin adat), Baris Kolot (para pembantu Sesepuh Girang).

Kampung adat Ciptagelar. (Foto: Instagram/adifest_organizer1)
Kampung adat Ciptagelar. (Foto: Instagram/adifest_organizer1)

Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar juga tidak menolak modernisasi. Buktinya di sana terdapat aliran listrik yang bersumber dari PLTA yang dibangun secara swadaya. Selain itu juga didirikan stasiun televisi dan radio yang dikelola oleh masyarakat sekitar.

Untuk mencapai lokasi, Kampung Ciptagelar, pertama-tama perlu diketahui bahwa kampung ini berada di wilayah Kampung Sukamulya Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok. Jarak Kampung Ciptagelar dari Desa Sirnaresmi 14 kilometer, dari kota kecamatan 27 kilometer, dari pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi 103 kilometer dan dari Bandung 203 kilometer ke arah Barat.

Kampung Ciptagelar dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat (mobil) dan roda dua (motor). Jenis kendaraan roda empat harus mempunyai persyaratan khusus, yakni mempunyai ketinggian badan cukup tinggi di atas tanah serta dalam kondisi prima.

Apabila tidak mempunyai persyaratan yang dimaksud kecil kemungkinan kendaraan tersebut sampai ke lokasi. Dan umumnya mobil-mobil demikian hanya sampai di kantor Desa Sirnaresmi yang sekaligus merupakan tempat parkirnya. Selebihnya menggunakan kendaraan ojeg atau mobil umum (jenis jeep) yang hanya ada sewaktu-waktu atau jalan kaki. (Imanha/Jawa Barat)

Baca juga:

Kawasan Malioboro akan Dibuat ala Tempo Dulu

Tag
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Sate Bulayak Khas Bumi Mandalika
Kuliner
Sate Bulayak Khas Bumi Mandalika

Dihidangkan bersama bulayak yang unik.

Kuliner Nusantara Sajian Favorit Berbuka Puasa
Kuliner
Kuliner Nusantara Sajian Favorit Berbuka Puasa

Beragam kuliner juga dijajakan menjelang buka puasa mulai dari jalanan, hingga rumah makan, hotel, dan restoran.

Adventure Family Package, Staycation Sambil Bertualang Bersama Keluarga di JHL Solitaire
Travel
Adventure Family Package, Staycation Sambil Bertualang Bersama Keluarga di JHL Solitaire

Menginap di kamar mewah sambil bermain bersama si kecil.

Perang Ketupat di Bangka Belitung, Tradisi Pengusir Bala
Tradisi
Perang Ketupat di Bangka Belitung, Tradisi Pengusir Bala

Perang ketupat digaler di Desa Tempilang, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung.

Tradisi Tato Tiga Suku Adat Papua Terancam Punah
Tradisi
Tradisi Tato Tiga Suku Adat Papua Terancam Punah

Tato merupakan salah satu budaya di pesisir utara Papua.

Proses Kreatif Dolanan Keren Membuat Collectible Action Figure Gundala
Indonesiaku
Proses Kreatif Dolanan Keren Membuat Collectible Action Figure Gundala

Melalui tahapan yang harus dijalankan dengan saksama

Kopi Sontoloyo di Batu, Nasi Lodehnya Juara
Kuliner
Kopi Sontoloyo di Batu, Nasi Lodehnya Juara

Kopi Sontoloyo menghadirkan nuansa masa lampau.

Rahasia Senjata Si Buta Dari Gua Hantu
Indonesiaku
Rahasia Senjata Si Buta Dari Gua Hantu

Ia salah seorang mahir memainkan jurus Golok Elang Putih dengan kemampuan kecepatan tebasan.

Pangeran Diponegoro Ledakan Perang Jawa yang Hampir Bikin Bangkrut Belanda
Tradisi
Pangeran Diponegoro Ledakan Perang Jawa yang Hampir Bikin Bangkrut Belanda

Dengan taktik gerilya, Pangeran Diponegoro memusingkan Belanda.

Wisata Kuliner Seru Bareng Keluarga di Pergikuliner Festival Kekinian Yuk
Kuliner
Wisata Kuliner Seru Bareng Keluarga di Pergikuliner Festival Kekinian Yuk

Diselenggarakan di Mal Artha Gading hingga tanggal 29 Mei 2022.