Benarkah 'Rebel' Pemimpin yang Baik? Menjadi rebel tidak selamanya buruk. (Foto Great Performers Academy)

BORN to stand out, not to fit in menjadi acuan berbagai tindakan para remaja rebel yang tidak suka disama-samakan satu sama lain. Sering dikatakan sebagai pemberontak dan sulit diatur, namun sesungguhnya sifat suka mengambil risiko dari para rebel ini bisa menjadikan seseorang sebagi pemimpin yang baik loh!

Fransesca Gino, seorang ilmuwan tentang perilaku manusia dari Harvard mengatakan bahwa pemikiran para rebel ini bisa memecahan rutinitas yang membosankan sekaligus memberikan inovasi dan ide baru yang tidak membosankan. "Saat memikirkan tentang para pemberontak, saya berpikir tentang orang-orang yang melanggar aturan untuk mengeksplorasi ide-ide baru dan membuat perubahan yang positif," ungkap Gino.


Baca Juga: Kebiasaan Bohong itu Buruk

Nakal bukan berarti kriminal, ini beberapa sudut pandang positif yang bisa kamu ambil dari menjadi seorang yang nakal dan rebel!

1. Tidak terpenjara oleh rutinitas

pemberontak
Rebel biasanya tidak terjebak dalam rutinitas. (Foto Acts of Revision)

Gino mengatakan bahwa sangatlah mudah bagi kita untuk jatuh kepada rutinitas yang membosankan dan mengikuti aturan berulang-ulang tanpa mengasah otak kita setiap hari. Jika kamu rebel, kemungkinan kamu akan menemukan strategi, ide, dan inspirasi yang baru dari sikapmu yang selalu ingin melanggar aturan.


2. Pandai berkomunikasi lewat teknik pembicaraan plussing

pemberontak
Rebels tahu cara berkomunikasi yang baik. (Foto VideoBlocks)

Dilansir dari inc.com, Gino juga mengatakan bahwa para rebel cenderung mempertahankan pemikiran mereka agar selalu terbuka, dan mereka pandai dalam mengolah dan mempertahankan pembicaraan agar terus berlangsung dengan memperluas pemikiran seperti mengatakan, "iya, dan.." serta "iya, tetapi..." yang mana merupakan teknik yang disebut sebagai plussing.

Intinya, teknik plussing ini adalah cara yang digunakan untuk memperluas ide tanpa menggunakan bahasa yang judgemental atau menghakimi seseorang, yang mana akan membuat orang merasa nyaman berbicara dengan para rebel. Taktik yang digunakan para rebel ini juga bisa menggali opini yang berbeda-beda dari orang lain sehingga tidak terpaku pada satu perspektif saja.

"Ini mendorong sikap kolaboratif sehingga mendorong orang lain untuk ikut berbicara dan menambahkan nilai dan pemikiran mereka sendiri," tambah Gino.


Baca Juga: Anak Muda itu Harus ‘Out of the Box’

3. Pribadi orisinil

pemberontak
Rebel cenderung ekspresif dan otentik. (Foto pinterest.com)

Para rebel biasanya cenderung tidak menyembunyikan diri mereka karena mereka sangat ekspresif dan menampilkan diri mereka apa adanya. Gino mengatakan mereka cenderung untuk tidak sok tahu ketika mereka tidak mengetahui sesuatu, dan mereka tidak pernah berusaha menjadi sosok yang bukan diri mereka sendiri.

"Ketika kamu mengungkapkan dirimu sendiri, baik itu kelebihanmu atau kekuatanmu, maka kamu akan meraih respect dan juga status sosial di mata orang lain."


4. Bisa mengambil hikmah dari segala yang terjadi

pemberontak
Redbel mengambil hikmah dari yang terjadi. (Foto bu.edu)


Gino menemukan bahwa terkadang kecelakaan yang memberikan kebahagiaan sesungguhnya adalah kecelakaan asli yang diubah oleh para rebel sebagai sesuatu hal yang luarbiasa. Gino memberikan contoh pada toko es krim Toscanini's di Cambridge. MA yang terkenal karena rasa es krim burnt-caramel. Cerita sesungguhnya dibalik rasa burnt-caramel itu adalah ketika pembuat es krim tidak sengaja membakar karamel ketika membuat eskrim tersebut, dan bukannya membuang es krim tersebut, ia malah menawarkannya ke para pelanggan dan mereka menyukainya. Sampai saat ini, eskrim rasa karamel terbakar menajdi rasa favorit di toko eskrim tersebut. (shn)

Baca Juga: Mengaku Sebagai Anak Muda Berjiwa Bebas? Penting Lakukan 4 Hal Ini!


Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH