Balai Kota Cirebon, Bangunan Ikonik yang Penuh Mitos Balai Kota Cirebon bukti sejarah ramainya Kota Cirebon pada masa kolonial. (Foto: MP/Mauritz)
indonesiaku-singlepost-banner-2
indonesiaku-singlepost-Mobile-banner-7

BALAI Kota Cirebon merupakan salah satu bangunan yang ikonik peninggalan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bangunan bercat putih yang terletak di Jalan Siliwangi Kota Cirebon ini, merupakan salah satu saksi bisu perjalanan sejarah di Kota Cirebon.

Bangunan Balai Kota Cirebon berbentuk seperti anjungan kapal berupa area persegi panjang dengan empat pilar di sudut-sudutnya. Bangunan ini berdiri di atas lahan seluas 15.770 meter persegi. Salah satu hal yang unik dari bangunan ini berupa hiasan udang yang menempel di empat sudut atas gedung. Udang tersebut merupakan perlambangan dari Kota Cirebon yang kala itu melimpah di perairan Cirebon.

Baca Juga:

Merayakan Natal dan Tahun Baru Sambil Menikmati Sajian di Cirebon

cirebon
Dibangun pada masa kolonial Belanda. (Foto: MP/Mauritz)

Keberadaan hiasan udang itu menunjukkan arsitektur Eropa yang menangani pembangunannya, menghargai kearifan lokal Cirebon. Setidaknya sejak itu pulalah sebutan Kota Udang melekat bagi Kota Cirebon.

Ketika memasuki lobi, maka akan ditemukan sebuah piala Adipura yang pernah diraih oleh Kota Cirebon. Dulunya, tempat diletakkannya piala Adipura merupakan sebuah kolam air, yang berfungsi sebagi pendingin ruangan.

Keunikan lain Balaikota Cirebon adalah keberadaan tulisan kaca berbahasa latin di atas pintu masuk ruang kerja wali kota. Meski kerap luput, sejak dibangun hingga kini, tulisan tersebut masih tertera di sana yang berbunyi Per Aspera Ad Astra, yang artinya Bersusah Payah Menuju Bintang. Kalimat ini sama dengan semboyan Negara Bagian Arkansas, Amerika Serikat.

Selain itu, konon di bagian bawah gedung disebut-sebut terdapat terowongan yang mengarah ke laut. Namun, belum ada bukti kongkrit terkait hal tersebut.

Baca Juga:

Kaladama, Tahu Gejrot ala Cirebon Timur

cirebon
Balai Kota Cirebon awal didirikan untuk dewan perwakilan kota. (Foto: MP/Mauritz)

Gedung Balaikota Cirebon didirikan pada tahun 1924, dan selesai pada tahun 1927. Pembangunannya diprakarsai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Staadsgemeente Cheribon ketika itu, Joost Jacob Jeskoot, dengan dua arsitek masing-masing bernama H. P Handl fan C.F.H Koll.

Sejak awal, bangunan ini difungsikan sebagai Raadhuis atau Dewan Perwakilan Kota. Hal tersebut dikarenakan Cirebon ditetapkan sebagai Kotapraja (gemeente) pada tahun 1906 oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Lalu, pada 1926, statusnya ditingkatkan menjadi stadsgemeente (kotamadya). Untuk itu, guna mendukung kegiatan lembaga pemerintahan di kota ini, dibangunlah Staadhuis (balai kota), Raadhuis (dewan perwakilan kota), maupun infrastruktur kota lainnya.

Adapun anggota dewan perwakilan kota yang mengisi Balaikota, didominasi oleh warga negara Belanda. Selain itu, juga ada orang asing lain seperti Tiongkok dan Arab, yang berjumlah setidaknya 30 orang. Sedangkan porsi warga pribumi Indonesia dalam dewan ini sangatlah kecil dan keberadaannya nyaris tak bernilai.

Tugas dewan perwakilan kota sendiri merumuskan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kota saat itu. Gedung tersebut juga diketahui kerap dijadikan tempat pertemuan dan pesta bangsa Eropa.

Setelah kemerdekaan, bangunan ini dijadikan sebagai kantor Balaikota Cirebon dan tempat kerja Walikota Cirebon.Kini Balai Kota Cirebon ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya pada tahun 2001, bersama 51 bangunan bersejarah se-Kota Cirebon lainnya. (*)


Baca Juga:


Tulisan dari Mauritz kontributor merahputih.com untuk wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Kredit : mauritz

indonesiaku-singlepost-Mobile-banner-3

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


indonesiaku-singlepost-banner-4
indonesiaku-singlepost-banner-5
indonesiaku-singlepost-banner-6