Kaladama, Tahu Gejrot ala Cirebon Timur Kaladama khas dari Cirebon Timur. (foto: MP/Mauritz)

SAJIAN tahu gejrot khas Cirebon tentu sudah tak asing lagi buat kamu. Makanan tradisional satu ini sangat khas di Cirebon dan sangat diburu warga lokal maupun wisatawan. Makanan ini terbuat dari irisan tahu yang diberi kecap manis dan gurih, irisan cabe rawit dan bawang merah. Uniknya, makanan disajikan di atas piring gerabah kecil dengan menggunakan tusukan atau biting.

Khusus wilayah timur Cirebon, tepatnya di daerah Kecamatan Astanajapura, Lemahabang, dan Karangwareng, Kabupaten Cirebon, ada makanan yang mirip dengan tahu gejrot ini, yakni kaladama. Biasanya, ada juga masyarakat yang menyebutnya dengan kupat tahu.

BACA JUGA: Sambut Natal dan Tahun Baru, Takebayashi Hadirkan Menu Khusus

Sekilas, kaladama memang tidak jauh berbeda dengan tahu gejrot. Namun yang membedakan, terdapat irisan ketupat dan tahu yang lebih tebal. Karena itulah, banyak juga masyarakat yang menyebutnya dengan kupat tahu.

Salah seorang pedagang Kaladama di daerah Cipeujeuh, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Marta, 49, mengatakan nama kaladama diambil dari bahasa Sunda, yakni 'ka lada, ma' yang artinya 'yang banyak sambalnya, Mang'. Memanglah makanan ini sangat nikmat disajikan pedas. "Karena banyak yang berbicara bahasa Sunda di daerah ini, makanya jadilah makanan ini namanya kaladama," jelasnya, Sabtu (7/12).

kaladama
Kaladama nikmat disajikan pedas. (foto: MP/Mauritz)

Marta menjelaskan, meskipun terlihat mirip, kaladama berbeda dengan tahu gejrot. Jika dilihat dari tahunya, dalamnya lebih tebal dan berisi dibandingkan tahu gejrot di Kota Cirebon yang agak 'kopong' atau berongga. Hal ini dikarenakan di wilayah Cipeujeuh sendiri terdapat banyak pabrik tahu yang biasa digunakan untuk dijual di pasar, dan juga untuk pedagang kaladama.

"Produsen tahu di sini kebanyakan buat pedagang Kaladama. Ada juga yang untuk dijual di pasar," tuturnya.

Satu hal lagi yang membuatnya berbeda dengan tahu gejrot, lanjutnya, adalah dari keberadaan ketupat tersebut di tahunya. Untuk satu porsinya saja, susah bisa membuat perut kenyang. Sehingga, makanan ini bisa dijadikan sebagai alternatif untuk mengganjal rasa lapar.

Para pedagang kaladama ini biasanya menjajakan dagangannya dengan menggunakan gerobak dorong, atau gerobak pikul. Bahkan, ada juga yang menggunakan sepeda. Di antara para pedagang ada yang memilih menetap di satu tempat, ada juga yang berkeliling.

"Satu porsi Rp 5000 saja susah dapat banyak," pungkasnya.(*)

Artikel ini merupakan laporan kontributor Merahputih.com untuk Cirebon dan sekitarnya, Mauritz.

Kredit : mauritz


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH