Balai Arkeologi Temukan Papan Batu hingga Tangga Peninggalan Megalitik di Bukit Yomokho Papua Penelitian Balai Arkeologi Papua di Bukit Yomokho berhasil menemukan tinggalan megalitik. (ANTARA /HO-Balai Arkeologi Papua)

MerahPutih.com - Penelitian Balai Arkeologi Papua berhasil menemukan peninggalan megalitik di Bukit Yomokho, Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura.

"Eksplorasi Balai Arkeologi Papua di Bukit Yomokho sebelah timur berhasil menemukan sebuah papan batu di puncak Bukit Yomokho," kata Hari Suroto, peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua di Kota Jayapura, Rabu (30/10).

Baca Juga:

Ekskavasi Situs Yomokho Ungkap Kehidupan Danau Sentani Ribuan Tahun Lalu

Papan batu ini, kata dia, berorientasi utara-selatan, memiliki panjang 110 cm, lebar 58 cm, dan tebal 10 cm.

Menurut dia, papan batu ini berjenis batuan beku peridotit yang tidak terdapat di Bukit Yomokho. Batuan ini banyak didapatkan di Pegunungan Cyclops yang terletak 11,6 kilometer di sebelah utara Dondai.

Situs Yope di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. (ANTARA /HO-Balai Arkeologi Papua)
Situs Yope di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. (ANTARA /HO-Balai Arkeologi Papua)

"Jadi dapat dipastikan batu ini dibawa sejauh 11,6 kilometer dari Pegunungan Cycloops, diangkut menggunakan perahu menyusuri sungai dan danau, selanjutnya digotong beramai-ramai menuju puncak bukit," ujarnya.

Selain itu, kata alumnus Universitas Udayana Bali ini, pada lereng Bukit Yomokho sebelah tenggara juga ditemukan sebuah menhir.

"Menhir ini merupakan sebuah monolit yang tidak dikerjakan dengan dimensi panjang 100 cm, lebar 80 cm dan tebal 20 cm. Menhir ini didirikan tegak di permukaan tanah. Menhir ini berjenis batuan beku peridotit," katanya.

Tidak jauh dari menhir, kata Hari, juga terdapat susunan jalan batu, memanjang dari kaki bukit hingga lereng bukit, jalan batu ini pada masa prasejarah berfungsi sebagai jalan untuk memudahkan dalam mendaki bukit.

Baca Juga:

Arkeolog Papua Hari Suroto Sarankan Mumi Yamen Silok Dikonservasi

"Lebar jalan batu ini sekitar 3,1 meter. Menhir dan papan batu pada masa prasejarah berfungsi sebagai media pemujaan pada roh nenek moyang," katanya.

Hari mendeskripsikan, Bukit Yomokho memanjang berbentuk huruf U, di mana eksplorasi dari Balai Arkeologi Papua di seluruh bagian bukit, menemukan artefak, ekofak lebih banyak di bukit sebelah timur, sedangkan bukit sebelah selatan dan barat temuan lebih sedikit.

Para mahasiswa dari kelas Pengantar Arkeologi, Jurusan Antropologi Uncen Jayapura berkunjung ke lokasi ekskavasi yang dilakukan oleh Tim Balai Arkeologi Papua di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Sentani Barat, Kabupaten Jayapura.  (ANTARA /HO-Balai Arkeologi Papua)
Para mahasiswa dari kelas Pengantar Arkeologi, Jurusan Antropologi Uncen Jayapura berkunjung ke lokasi ekskavasi yang dilakukan oleh Tim Balai Arkeologi Papua di Kampung Dondai, Distrik Waibu, Sentani Barat, Kabupaten Jayapura. (ANTARA /HO-Balai Arkeologi Papua)

Hal ini menunjukkan bahwa hunian manusia prasejarah waktu itu lebih banyak di sebelah timur bukit dan berdasarkan temuan hasil survei permukaan tanah maupun ekskavasi diketahui kronologi hunian Situs Yomokho yaitu neolitik hingga megalitik.

"Sementara itu, di saat penelitian Balai Arkeologi Papua di Situs Yomokho, sejumlah mahasiswa antropologi Universitas Cenderawasih melakukan kuliah lapangan di Situs Yomokho. Kuliah lapangan ini didampingi oleh Ichsan Rahmanto," katanya. (*)

Baca Juga:

Melacak Peradaban Masyarakat Minangkabau Tempo Dulu


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH