Sains
Arkeolog Ungkap Fungsi Stonehenge sebagai Kalender Matahari Sudah sekian lama Stonehenge diperkirakan untuk seremonial, bukan untuk melacak hari, bulan, dan musim. (Freepik/wirestock)

PENJAJARAN astronomis dibangun ke dalam desain dan orientasi Stonehenge, monumen megah yang mendominasi dataran rata di barat daya Inggris. Sumbu pusat megalit itu sejajar dengan matahari terbit di pertengahan musim panas dan matahari terbenam di pertengahan musim dingin. Batu-batu itu dengan sempurna membingkai matahari terbit dan terbenam saat hari-hari terpanjang dan terpendek. Sudah sekian lama monumen itu diperkirakan digunakan untuk tujuan seremonial. Bukan sebagai sarana akurat untuk melacak hari, bulan, dan musim.

Namun, sebuah studi baru oleh Timothy Darvill, seorang profesor arkeologi di Universitas Bournemouth di Inggris, telah menyimpulkan bahwa Stonehenge berfungsi sebagai kalender matahari dan mengidentifikasi cara kerjanya.

BACA JUGA:

Arkeolog Ungkap Asal Batu Stonehenge

Penghitungan kalender matahari

stonehenge
Lingkaran dari 30 batu sarsen tegak, yang menopang 30 ambang horizontal, melambangkan hari dalam sebulan. (CNN)

Stonehenge terbuat dari dua jenis batu: batu sarsen yang lebih besar dan monolit bluestone yang lebih kecil dari Wales. Batu jenis kedua dianggap yang pertama didirikan di Stonehenge pada 5.000 tahun yang lalu. Itu berabad-abad sebelum batu sarsen yang lebih besar, yang berasal dari situs yang lebih dekat dari monumen itu, didirikan.

Sebuah lingkaran dari 30 batu sarsen tegak, yang menopang 30 ambang horizontal, melambangkan hari dalam sebulan. Batu khas dalam lingkaran menandai dimulainya tiga minggu 10 hari. Demikian dijelaskan para penelitian.

Dua belas bulan seperti itu akan menjadi 360, tetapi sekelompok trilithon, struktur yang terbentuk dari dua batu vertikal besar yang menopang batu ketiga yang dipasang secara horizontal di bagian atas, disusun dalam bentuk tapal kuda di tengah situs. "Itu mewakili lima hari ekstra yang dibutuhkan untuk menyamai 365 hari tahun matahari," kata Darvill.

Empat batu kecil yang terletak di luar lingkaran dalam bentuk persegi panjang merupakan cara untuk melacak tahun kabisat, dengan satu hari ekstra setiap empat tahun.

"Menemukan kalender matahari yang diwakili dalam arsitektur Stonehenge membuka cara baru untuk melihat monumen sebagai tempat untuk mereka yang masih hidup. Inilah tempat waktu upacara dan festival terhubung dengan tatanan alam semesta dan gerakan selestial di surga," kata Darvill dalam sebuah pernyataan yang diberitakan CNN (4/3).

Namun, para ahli lain tidak yakin dengan argumen Darvill. "Angka-angkanya tidak benar-benar cocok, mengapa dua tegak lurus dari sebuah trilithon sama dengan satu tegak lurus lingkaran sarsen untuk mewakili 1 hari? Dan, ada penggunaan bukti selektif untuk mencoba membuat angka-angka itu cocok: beberapa batu telah ditinggalkan karena mereka ternyata tidak dapat dibuat sesuai," kata Mike Parker Pearson, seorang profesor di Institut Arkeologi Universitas College London dan pemimpin proyek penelitian The Stones of Stonehenge, melalui e-mail kepada CNN.

Artefak ungkap rahasia Stonehenge

Stonehenge
Kalender matahari itu digunakan di Mesir kuno dan budaya lain di Mediterania timur. (Unsplash/Ankit Sood)

Titik awal untuk penjelasan Darvill ialah penelitian baru yang menemukan 30 batu sarsen besar yang semuanya bersumber dari area yang sama dan ditambahkan selama fase konstruksi yang sama. Hal itu menunjukkan mereka merupakan satu kesatuan.

Saat hanya 17 dari 30 batu tegak yang berada di posisi aslinya dan 22 ambangnya hilang, pekerjaan arkeologi di situs tersebut menunjukkan monumen itu tidak selesai. Batu-batu besar itu hilang pada zaman kuno.

Kalender matahari tersebut tidak dikenal saat ini, tapi digunakan di Mesir kuno dan budaya lain di Mediterania timur sekitar waktu yang sama. "Ada kemungkinan para pembangun Stonehenge dipengaruhi oleh orang-orang ini," kata Darvill.

Penemuan kuburan dan artefak baru-baru ini di dekat lingkaran batu telah menunjukkan bahwa Stonehenge bukanlah rumah bagi satu kelompok yang terisolasi, melainkan bagian dari dunia yang sangat berhubungan. Temuan tersebut dipublikasikan di jurnal Antiquity, pekan lalu.(aru)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
21 Tahun Lalu, Novel ‘Supernova’ Pertama Kali Rilis
Fun
21 Tahun Lalu, Novel ‘Supernova’ Pertama Kali Rilis

Novel Supernova juga sempat diadaptasi ke layar lebar.

Pandemi Jadi Momentum Tepat untuk Ajukan Jamu Sebagai WBTB UNESCO
Fun
Pandemi Jadi Momentum Tepat untuk Ajukan Jamu Sebagai WBTB UNESCO

Jamu untuk warisan budaya tak benda (WBTB) UNESCO.

Kembangkan Agrowisata, JHL Land Siap Jadikan Banten Bali Kedua
Hiburan & Gaya Hidup
Kembangkan Agrowisata, JHL Land Siap Jadikan Banten Bali Kedua

Siap membangun vila dan perkebunan vanili terbesar.

Dior Sisipkan Elemen Proteksi di Paris Fashion Week
Fashion
Dior Sisipkan Elemen Proteksi di Paris Fashion Week

Dior memamerkan beberapa koleksi di Paris Fashion Week.

29 Peserta Lolos Audisi Serial 'Bang Maing dan Djoewita'
Hiburan & Gaya Hidup
29 Peserta Lolos Audisi Serial 'Bang Maing dan Djoewita'

Untuk ikut meramaikan produksi serial musikal.

Ryan Reynolds Rehat dari Industri Film?
ShowBiz
Ryan Reynolds Rehat dari Industri Film?

Pemberitahuan ini disampaikan sang aktor lewat akun Instagram pribadi Ryan Reynolds.

Intip 3 Tren Fesyen 2021 yang akan Terus Berlangsung Sampai Tahun Depan
Fashion
Toge Productions Akuisisi Tahoe Games
Fun
Toge Productions Akuisisi Tahoe Games

Developer Game Indonesia ini mengeluarkan Rp 4 miliar untuk berkolaborasi dengan Tahoe Games.

Mengandung Elektrolit, Air Kelapa Baik untuk Pemulihan COVID-19
Hiburan & Gaya Hidup
Mengandung Elektrolit, Air Kelapa Baik untuk Pemulihan COVID-19

Penting bagi mereka yang terinfeksi COVID-19 untuk memastikan mengonsumsi banyak cairan bersama dengan makananan yang kaya akan mineral, vitamin, dan protein.

Jangan Keliru, Bedakan Pasangan Perhatian dan Tukang Atur
Fun
Jangan Keliru, Bedakan Pasangan Perhatian dan Tukang Atur

Perhatian dan suka ngatur bisa dilihat bedanya.