5 Bangunan Bersejarah Gambaran Puisi 'Karawang Bekasi' Chairil Anwar Gedung Juang 45 (Instagram/aguskuya_dbeejie)

CHAIRIL Anwar menjadi salah satu sastawan terkemuka di Indonesia. Ia lahir dan dibesarkan Medan, sebelum akhirnya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) bersama ibunya tahun 1940.

Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, Chairil dinobatkan sebagai aktor-aktor penting Angkatan '45' sekaligus pelopor puisi modern Indonesia. Sepanjang hidupnya, pria berjuluk Si "Binatang Jalang" itu telah melahirkan beberapa karya. Salah satu karya paling tersohor berlatar masa revolusi, puisi berjudul Karawang Bekasi.

Setiap bait puisi ini menggambarkan beratnya perjuangan laskar-laskar di sekitar Karawang dan Bekasi melawan gempuran serangan pasukan Belanda. Karawang-Bekasi bahkan menjadi saksi kebrutalan tentara NICA kala menerjang masyarakat sipil tak bersenjata, seperti terjadi pada Kasus Rawagede.

Selain mengenang perjuangan melalui puisi, jika ada waktu senggang, kamu sangat bisa mendatangi tempat-tempat bersejarah perlawanan para laskar dan badan-badan perjuangan di dua kota itu. Penasaran, di mana saja Lokasinya?

1. Monumen Rawa Gede

Bangunan berbentuk piramida ini dibangun kali pertama semasa pemerintahan Soeharto tahun 1995 dan diresmikan pada 12 Juli 1996. Monumen Rawa Gede merupakan kenangan pahit masyarakat Karawang korban kebrutalan tentara Belanda.

Monumen Rawa Gede (Instagram/bubun.burhanudin_)
Monumen Rawa Gede (Instagram/bubun.burhanudin_)

Pembantaian Rawagede sendiri terjadi pada tanggal 9 Desember 1947 saat agresi militer pertama. Sebanyak 431 penduduk tewas di kejadian itu. Sayangnya hanya 181 korban ditemukan. Kamu bisa melihat diorama kebiadaban tentara Belanda ketika membantai rakyat, termasuk anak-anak dan perempuan.

Alamat: Jl. Monumen Rawagede, Mekarjaya, Rawamerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

2. Rumah penculikan Proklamator di Rengasdengklok

Rumah ini memang tampak seperti rumah tua pada umumnya. Namun bangunan bercat putih itu menjadi saksi bisu penculikan Sukarno dan Hatta oleh tokoh pemuda di antaranya Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh.

Ruang dalam rumah penculikan di Rengasdengklok (Instagram/ketut.wijaya)
Ruang dalam rumah penculikan di Rengasdengklok (Instagram/ketut.wijaya)

Para pemuda membawa Dwi Tunggal di rumah tersebut mendesak agar keduanya segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka merasa Pemerintahan Pendudukan Jepang sudah status quo, menyerah terhadap Sekutu.

Rumah tempat 'penculikan' Sukarno-Hatta merupakan milik seorang keturuan Tionghoa bernama Djiauw Kie Siong. Sosok ini menjadi pasukan Pembela Tanah Air (Peta).

Alamat: Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

3. Tugu Kebulatan Tekad

Tak jauh dari rumah penculikan, terdapat sebuah tugu untuk mengenang kebulatan tekad tokoh-tokoh bangsa untuk melepaskan tanah air dari para penjajah. Tugu ini berbentuk tangan kiri yang mengepal ke atas.

Tugu Kebulatan Tekad (Instagram/randiradisa)
Tugu Kebulatan Tekad (Instagram/randiradisa)

Tugu Kebulatan Tekad dibangun saat pemerintahan Soekarno tahun 1950 di atas tanah seluas 1.500 m2. Dulunya tempat ini juga menjadi markas PETA dengan titik koordinat GPS: 06° 09′ 430″ LS dan 107° 17′ 340″ BT.

Alamat: Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

4. Gedung Juang 45

Sebelum kemerdekaan, rumah ini disebut Gedung Tinggi atau Landhuis Tamboen. Dimiliki oleh keluarga Khouw van Tamboen, bangunan bergaya Eropa itu diperuntukan untuk pusat tanah partikelir.

Gedung Juang 45 (Instagram/taufanarditi)
Gedung Juang 45 (Instagram/taufanarditi)

Saat masa penjajahan Belanda, Gedung Juang 45 sering diperuntukan untuk tuar tawanan antara penjajah dan pejuang. Kini Gedung Juang 45 diperuntukan untuk kantor pemerintahan.

Alamat : Jalan Sultan Hasanuddin No. 5 Tambun, Bekasi, Jawa Barat.

5. Rumah Tuan Tanah Pebayuran

Saat masa penjajahan Belanda, banyak orang Eropa dan Tiongkok yang menjadi landheer atau tuan tanah. Mereka membangun rumah-rumah megah di sekitar tanah yang dikuasai. Salah satunya adalah Rumah Tuan Tanah Pebayuran.

Rumah Tuan Tahan Pebayuran (Sumber/situsbudaya)
Rumah Tuan Tahan Pebayuran (Sumber/situsbudaya)

Rumah ini menjadi saksi bisu perjalanan Soekarno ke Rengasdengklok. Di sini sang Proklamator menginap untuk sementara. Di saat menginap itu Soekarno sempat memberikan arahan keada pejuang setempat. Kini Rumah Tuan Tanah Pebayuran diperuntukan untuk kantor polisi Sektor Pebayuran.

Alamat: Jalan Raya Pebayuran, Desa Pebayuran, Kecamatan Pebayuran, Bekasi, Jawa Barat.

Sahabat Merah Putih, itulah lima tempat yang bisa kamu kunjungi sebagai objek wisata bersejarah. Selain berwisata, kamu juga bisa belajar sejarah dari bangunan-bangunan itu.

Selain artikel ini kamu juga bisa baca 5 Fakta Menarik tentang 'Binatang Jalang' Chairil Anwar



Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH