5 Fakta Menarik tentang 'Binatang Jalang' Chairil Anwar Satrawan Pembaru Puisi Indonesia, Chairil Anwar. (Foto/Screenshoot YouTube)

HARI ini, 28 April 2018, masyarakat Indonesia merayakan Hari Puisi Nasional. Beragam akun media sosial milik lembaga negara maupun kementerian, juga perorangan ramai-ramai memajang muka Penyair Chairil Anwar, dibubuhi penggalan puisi Aku, Sia-Sia, dan Diponegoro.

Hari Puisi Nasional selalu lekat dengan sosok Si "Binatang Jalang". Tanggal kepergiannya menjadi penanda kelahiran peringatan tersebut. Tapi, inisiator dan penetapannya masih misterius, serupa misteri penyebab kematiannya.

Chairil meninggal di usia mudia, pada umur 27 tahun. Hingga kini belum ada bukti komprehensif tentang penyebabnya. Menurut catatan rumah sakit, ia dirawat karena tifus. Namun, ada juga beberapa sumber mengatakan sebenarnya Chairil sudah lama menderita penyakit paru-paru dan infeksi, sehingga menjalar sampai memicu penyakit usus.

Chairil Anwar tercatat meninggalkan warisan berupa 94 karya sastra, puisi dan prosa. Beberapa karyanya terutama berlatar masa revolusi memiliki pengaruh luas terhadap perkembangan Sastra Indonesia. Tak heran, bila Jurnali cum Sastrawan HB Jassin menabalkanny sebagi pelopor puisi modern Indonesia.

Selain menjadi pelopor puisi modern, ternyata banyak fakta menarik tentang Chairil Anwar dan tak banyak orang tahu. Penasaran? Simak paparan merahputih.com merangkum 5 fakta menarik tentang Si "Binatang Jalang";

Lukisan Chairil Anwar dan potongan sajaknya di dinding jalan. (Foto/urusandunia.com)
Lukisan Chairil Anwar dan potongan sajaknya di dinding jalan. (Foto/urusandunia.com)

1. Seorang Nasionalis

Meski tak ikut berperangan secara fisik atau masuk dalam sebuah laskar untuk mengusir penjajah, namun Chairil berjuang melalui puisi-puisinya. Terbukti, melalui puisinya 'Siap Sedia' ia terbukti begitu membenci Jepang yang saat itu menjajah Indonesia.

“Kawan, kawan. Mari mengayun pedang ke dunia terang,” tulisnya dikutip HB Jassin dalam Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1969). Karena karyanya itu ia didakwa dengan tuduhan menganjurkan pemberontakan pada Jepang melalui puisinya yangberjudul 'Siap Sedia'.

Tak hanya satu karya saja, Chairil juga pernah mengeluarkan karya monumental berjudul Karawang-Bekasi untuk membangkitkan semangat bangsa Indonesia. Puisi ini bercerita tentang kekejaman Belanda yang bantaian ratusan orang Indonesia di Rawagede.

2. Pemikat Wanita

Chairil dikenal orang yang urakan, akan tetapi karena parasnya yang terbilang tampan banyak gadis-gadis semasa itu yang mengidolakannya. Terlebih, Chairil juga mempunyai sifat mudah bergaul dengan siapa saja.

Selama hidup 27 tahun, Chairil tertarik kepada beberapa wanita. “Di antara gadis yang pernah menarik perhatian Chairil ialah Karinah Moorjono, Dien Tamaela, Gadis Rasid, Sri Arjati, Ida, dan Sumirat,” tulis Pamusuk Eneste dalam buku berjudul Mengenal Chairil Anwar.

3. Penggagas Slogan 'Boeng Ajo Boeng'

Dalam buku Kisah Istimewa Bung Karno diceritakan, suatu hari pelukis besar Indonesia, Sudjojono diminta Presiden Soekarno mengajak para seniman untuk membuat poster-poster perjuangan. Semula Sudjojono menyerahkan tugas itu pada Balai Pustaka yang sering menangani rancang grafik.

Namun, belakangan pelukis Affandi-lah yang diminta membuat poster. Affandi meminta Dullah menjadi modelnya, jadilah suatu lukisan gambar lelaki dengan tangan menjotos ke atas. Kemudian poster itu diberi teks "Boeng Ajo Boeng" oleh Chairil Anwar.

4. Anak Seorang Bupati

Ayahnya Chairil yang bernama Toeloes adalah seorang Bupati Inderagiri, Riau. Sejak umur 19 tahun ia sudah berpisah dengan ayahnya karena kedua orangtuanya bercerai. Ia lebih memilih ikut dengan ibunya Saleha ke Batavia yang saat ini bernama Jakarta.

Bupati Toeloes meninggal 4 bulan lebih dulu dari Chairil pada tragedi pembantaian pribumi oleh pasukan Belanda. Ayahnya meninggal ditembak pasukan Belanda di hadapan ibu tiri dan adiknya.

5. Hidup Luntang-Lantung

'Binatang Jalang' ini keliatannya sangat tidak suka dengan hidup teratur. Terlihat dari ucapannya setelah memutuskan berhenti kerja di bawah Bung Hatta. “Mana bisa tahan kerja dengan Hatta, masuk jam delapan pagi pulang jam dua siang,” kata Chairil.

Ia lebih suka gaya hidup yang bebas dan tak terikat dengan apapun. Chairil lebih memilih kelayapan ke lingkungan seni atau ke tempat-tempat temannya yang bisa dia mintai pertolongan. “Dia punya sifat yang kadang-kadang membuat menggelegak. Misalnya dia biasa datang ke rumah meminjam buku, meminjam mesin tulis, tapi ada kalanya dia meminjam tanpa tanya, terus dibawa saja,” kata Jassin. (Zai)

Kredit : zaimul


Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH