Pilot Activity, Program Pengelolaan Sampah di Labuan Bajo oleh Sekretariat TKN

Feb 25, 2021 | annehs

SUASANA yang asri dan sejuk serta berbagai spot wisata yang unik dan beragam, itulah gambaran yang tepat untuk mendeskripsikan Labuan Bajo. Berlokasi di Flores, Nusa Tenggara Timur, kamu bisa merasakan keindahan sunset di Bukit Cinta, menjelajahi cantiknya Pulau Kelor, snorkeling di Pulau Manjerite, dan pastinya menatap keindahan bebatuan dan pantai di Pulau Padar.

Sayangnya, permasalahan sampah yang berlimpah menjadi masalah yang cukup serius di Labuan Bajo. Dilansir dari Berita Lingkungan, terdapat berbagai sampah plastik bekas kemasan minuman, kayu, dan kaca bekas botol minuman.

Menanggapi hal ini, pihak Sekretariat TKN PSL (Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut) mengadakan sebuah proyek untuk mengelola sampah yang dimulai sejak Agustus 2020. Proyek ini berupa sosialisasi program pilot activity untuk pengelolaan sampah mandiri di Labuan Bajo bagi masyarakat.

Pulau Padar. (Foto Unslash/vnhaven)

Pelaksanaan kegiataan pilot activity ini terbagai menjadi 3 tahapan, antara lain persiapan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi. Pada tahap persiapan, sekretariat TKN PSL melakukan inisiasi dan mempersiapkan kondisi wilayah dan masyarakat. Mereka juga menganalisis sumber permasalahan sampah.

Baca juga:

Bakso, Memang Tidak Ada Matinya di Negeri Aing

sekretariat TKN PSL juga melakukan instalasi di 100 tempat sampah, pembentukan unit pengelola sampah, dan pembangunan workshop pengelolaan sampah. Mereka juga tidak lupa menyediakan gerobak sampah.

Kegiatan sosialisasi ini dibuka dengan penyerahterimaan tempat sampah dan Unit Pengelolaan Sampah (UPS) secara simbolis oleh Novrizal Tahar Direktur Pengelolaan Sampah, PSLB3, KLHK kepada Kepala Desa Gorontalo, Labuan Bajo.

Penyerahterimaan tempat sampah oleh Novrizal Tahar kepada Kepala Desa Gorontalo. (Foto Ist)

Lokasi pelaksanaan pilot activity di Desa Gorontalo pun bukan tanpa alasan. Desa Gorontalo termasuk sebagai destinasi pariwisata super prioritas di Indonesia yang memiliki keindahan bahari yang khas. Pada 2018 silam, Wisata Komodo sendiri telah menarik lebih dari 170.000 pengunjung ke Taman Nasional Komodo.

Sayangnya, Desa Gorontalo juga menghadapi lingkungan dalam pengelolaan sampah sejak beberapa tahun lalu. Pada 2018, terdapat timbunan sampah yang mencapai 12,8 ton per hari. Pemerintah pun mengidentifikasi dua masalah mendasar dalam pengelolaan sampah di Desa Gorontalo, antara lain rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah serta kurangnya fasilitas persampahan di kawasan tersebut.

Mengatasi pengelolaan sampah dengan pelaksanaan pilot activity. (Foto Ist).jpeg

“Aktivitas ini dapat dilihat sebagai sebuah manifestasi dari kepedulian terhadap permasalahan sampah dan instrumen peningkatan kesadaran dari berbagai stakeholder terhadap usaha pengelolaan sampah, terutama sampah yang bersumber dari darat”, ujar Novrizal.

Kegiatan ini tidak hanya didukung oleh pemerintah Indonesia. Organisasi internasional PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) juga mendukung dan mengapresiasi langkah ini. Natural Resource and Climate Governance Adviser UNDP (United Nation Development Programme) Indonesia, Dr Abdul Wahib Situmorang, “Kegiatan ini merupakan bukti nyata dari usaha pemerintah Indonesia dalam hal ini Sekretariat TKN PSL, untuk mewujudkan Perpres Nomor 83 Tahun 2018. UNDP juga telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan strategi ekonomi sirkuler nasional," jelasnya.

Ini Cara Sekretariat TKN PSL menganggapi pengelolaan sampah. (Foto Ist)

Ia juga berharap semoga kegiatan yang dilakukan oleh Sekretariat TKN PSL ini dapat dilanjutkan dan didukung oleh setiap pihak. (SHN)

Baca juga:

Theme Park Lido Sukabumi Bakal Bikin Indonesia Didatangi 65 Juta Wisatawan Asing

Baca Original Artikel