Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Swasembada Pangan Butuh Bank Tani dan Nelayan Kuat

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Senin, 02 Maret 2015
Swasembada Pangan Butuh Bank Tani dan Nelayan Kuat

Petani sedang menyiangi pupuk di pematang sawah. (Foto: Antara)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Nasional - Memperkuat swasembada pangan tidak hanya cukup dengan upaya pemerintah memperluas lahan, membagikan pupuk murah dan memperbaiki irigasi agar pengairan sawah lancar. Bank tani dan nelayan adalah salah satu solusinya. Kaum petani dan juga nelayan di pesisir juga membutuhkan kemandirian dana sebagai modal kerja.

Penguatan pendanaan dan modal kerja petani adalah salah satu kendala dari kaum petani serta nelayan kecil. "Rata-rata memang kalau menurut saya keberpihakan pemerintah, pendampingan, masalah air, pupuk. Kemudian pendanaan. Jika itu semua dijalankan secara baik dan simultan maka swasembada pangan dalam tiga tahun cukup realistis," ujar Heni Purnawati pakar agronomi dan hortikultura dari Institut Pertanian Bogor kepada merahputih.com, beberapa waktu lalu.

Menurut Heni, masalah yang dihadapi petani adalah selalu berhadapan dengan pendanaan. Mereka kemudian lari meminta bantuan pada rentenir dan pengijon. Apalagi, bagi para petani yang tidak memiliki lahan. Mereka sangat bergantung dengan para penyandang dana.

"Saya setuju sekali ada bank petani dan nelayan."

BACA JUGA:  Ironi Negeri Subur Pangan: Dulu Berdaulat, Kini Bergantung Negara Lain

Heni menambahkan, modal untuk produksi padi setiap hektarenya dengan lahan menyewa dan berlokasi di dekat perkoataan seperti Karawang, Jawa Barat sebesar Rp10 juta-Rp15 juta. Jika tidak menyewa hanya sebesar Rp3 juta-Rp5 juta saja.

"Kalau itu enggak ada sewa lahan, Rp3 juta-5 juta. Tapi itu bervariasi, tergantung pupuk juga," kata Heni.

Lalu berapa untung yang didapat petani? Menurut asumsi Heni, setiap kilogramnya, petani bisa menjual gabah basah seharga Rp2.500-Rp3.000. Harga tersebut, kata Heni, sebenarnya masih untung.

"Kalau satu hektare menghasilkan 4 ton-6 ton, kalau 6 ton dikalikan saja Rp3.000. Di daerah bisa ada yang Rp3.200, ada juga yang sampai Rp2.500 tapi itu sudah untung. Sekarang harganya rata-rata Rp3.000, gabah panen basah," tandasnya.

 

DPR Dorong Pemerintah Bangun Bank Tani dan Nelayan


Menyongsong swasembada pangan, DPR mendorong pemerintah membangun bank khusus untuk melayani para petani dan nelayan. Meskipun dalam Undang-Undang Perbankan membolehkan bank-bank yang sudah ada diperbolehkan melayani petani dan nelayan kecil.

"Bank tani perlu sekali, supaya jangan sampai petani pinjam ke tengkulak atau pengijon. Petani paling banyak pinjam Rp100 juta, kalau kasih Rp1 miliar bukan bank tani," ujar anggota Komisi IV DPR, Sjachrani Mataja, di Jakarta.

Menurut Sjachrani, pemerintah juga harus mendorong terbentuk bank tani. Pasalnya, swasta dipastikan tidak akan sanggup lantaran margin keuntungannya sangat tipis dan sangat berisiko.

Dulu, kata politikus Gerindra ini, salah satu bank BUMN memang fokus melayani petani dan nelayan. Namun, setelah besar ia melupakan tugas pokoknya.

"Mestinya dia layani candak kulak Rp50 juta. Daripada pinjam ke tengkulak atau rentenir, nanti harga gabah dibeli murah," katanya.

DPR, kata dia, akan berusaha membuat regulasi yang memudahkan rakyat untuk mengakses perbankan. Jika hal itu dirasa menyulitkan, maka revisi menjadi hal yang memungkinkan.

Terkait apakah memanfaatkan bank yang ada atau membuka bank baru, DPR menyerahkan sepenuhnya pada pemerintah. "Terserah pemerintah, sebenarnya lewat koperasi bisa," tukasnya.

Semoga upaya bersama dari semua elemen untuk penguatan petani dan nelayan menjadi modal bagi kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Agar tidak ada lagi cerita soal kelaparan dan kemiskinan melanda bangsa ini saat merayakan 100 Tahun Indonesia Merdeka. (mad)

 

#70 Tahun Indonesia Merdeka #Petani #Swasembada Pangan #Swasembada Beras
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Luncurkan B50, Prabowo: Berdosalah Pemimpin Yang Berbohong Kepada Rakyat
Presiden juga mengatakan sejak sebelum dilantik dirinya telah menekankan kepada tim inti dan para penasihatnya pentingnya mewujudkan swasembada pangan
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 09 Juli 2026
Luncurkan B50, Prabowo: Berdosalah Pemimpin Yang Berbohong Kepada Rakyat
Indonesia
Prabowo Ungkap Indonesia Mau Buka Ekspor Bahan Pangan, Asal Petani Tak Rugi
Prabowo mengatakan Indonesia kini memiliki surplus pupuk sehingga dapat memenuhi kebutuhan negara lain yang mengajukan permintaan.
Dwi Astarini - Rabu, 24 Juni 2026
Prabowo Ungkap Indonesia Mau Buka Ekspor Bahan Pangan, Asal Petani Tak Rugi
Indonesia
Presiden Prabowo: Kita tak akan Swasembada Satu Tahun, tapi Seterusnya
Prabowo menegaskan hasil yang mulai terlihat saat ini merupakan buah dari kerja keras yang telah dilakukan selama beberapa waktu.
Dwi Astarini - Rabu, 24 Juni 2026
Presiden Prabowo: Kita tak akan Swasembada Satu Tahun, tapi Seterusnya
Indonesia
Prabowo Ingin Tiap Desa Swasembada, Bakal Tercapai Dengan Inovasi
Peningkatan produktivitas pertanian itu memperkuat upaya Indonesia menuju swasembada pangan dan lumbung pangan dunia.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 24 Juni 2026
Prabowo Ingin Tiap Desa Swasembada, Bakal Tercapai Dengan Inovasi
Indonesia
Prabowo Klaim Indonesia Surplus Pangan, Australia Minta Pasokan Pupuk dari RI
Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia berada dalam posisi kuat di sektor pangan. Ia mengungkap Australia dan sejumlah negara lain meminta pasokan pupuk.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 24 Juni 2026
Prabowo Klaim Indonesia Surplus Pangan, Australia Minta Pasokan Pupuk dari RI
Berita Foto
Audiensi Koalisi Nasional Reforma Agraria dengan Pimpinan DPR Bahas Reforma Agraria
Sejumlah perwakilan petani yang tergabung dalam Koalisi Nasional Reforma Agraria (KNARA) mengikuti audiensi di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Didik Setiawan - Senin, 22 Juni 2026
Audiensi Koalisi Nasional Reforma Agraria dengan Pimpinan DPR Bahas Reforma Agraria
Indonesia
Kemarau 2026: Pemerintah Genjot Teknologi Hemat Air dan Pola Tanam Efisien Jaga Target Swasembada
Pemerintah siapkan teknologi hemat air, percepatan tanam, dan 57 ribu pompa untuk menghadapi kemarau 2026.
Wisnu Cipto - Rabu, 17 Juni 2026
Kemarau 2026: Pemerintah Genjot Teknologi Hemat Air dan Pola Tanam Efisien Jaga Target Swasembada
Indonesia
Topang Swasembada Pangan, Pemerintah Percepat Pemulihan 42.702 Hektare Lahan Pertanian Pascabencana di Sumatera
Pemerintah mempercepat rehabilitasi lahan pertanian terdampak bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Bantuan disiapkan untuk mendukung swasembada pangan.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 08 Juni 2026
Topang Swasembada Pangan, Pemerintah Percepat Pemulihan 42.702 Hektare Lahan Pertanian Pascabencana di Sumatera
Indonesia
Peringatan Hari Lahir Pancasila, Prabowo Singgung Lagi Indonesia Produsen Terbesar Mineral Penting
Indonesia telah mengalami swasembada pangan. Di saat, kata Prabowo, masih banyak negara lain yang kesulitan terkait pangan.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 01 Juni 2026
Peringatan Hari Lahir Pancasila, Prabowo Singgung Lagi Indonesia Produsen Terbesar Mineral Penting
Indonesia
Usai Beras dan Jagung, Prabowo Targetkan Indonesia Swasembada Daging dalam 5 Tahun
Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mencapai swasembada daging dalam 4-5 tahun ke depan setelah berhasil swasembada beras, jagung, telur, dan ayam.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 23 Mei 2026
Usai Beras dan Jagung, Prabowo Targetkan Indonesia Swasembada Daging dalam 5 Tahun
Bagikan