Ironi Negeri Subur Pangan: Dulu Berdaulat, Kini Bergantung Negara Lain

Noer ArdiansjahNoer Ardiansjah - Senin, 23 Februari 2015
Ironi Negeri Subur Pangan: Dulu Berdaulat, Kini Bergantung Negara Lain

Ilustrasi Pertanian (Foto: Antara)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Nasional - Indonesia yang digembar-gemborkan oleh para leluhur nusantara sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi, toto titi tentrem kerto raharjo, tukul kang sarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku, yang artinya negara yang subur makmur dan tertata sesuai dengan hukum, serta tentram, ramai, dan tumbuh yang serba ditanam, serta murah barang-barang yang akan dibeli, ternyata semuanya itu hanya slogan belaka.

Ketika rakyat Indonesia masih hidup susah, makan bulgur, memakai pakaian bekas serta berperang melawan penjajah, berkarung-karung beras pun rela dikirim untuk negeri sahabat. Kini, ribuan karung-karung beras dari luar salah satunya dari India membanjiri pasar-pasar di Tanah Air. Sekarang impor beras sudah menjadi bagian dari komoditas pasar bebas. Semua berbau komersial dan tidak ada kemauan untuk memperkuat ketahanan pangan domestik.

Di era Perang Kemerdekaan tahun 1946, pemerintahan Sukarno-Hatta yang masih bayi itu justru masih mampu mengekspor beras hingga ratusan ribu ton ke India agar rakyat bisa mendapatkan pakaian layak serta upah bagi petani. Kala itu, Belanda memblokade hasil panen petani sebagai senjata politik. Diplomasi barter beras dengan sandang itu berbuah hasil karena India merasa berutang budi dengan kiriman beras itu karena mereka sedang dirundung bencana. Tidak cuma itu, India pun mendukung kedaulatan Republik Indonesia dan termasuk negara luar pertama yang mengakui negara baru bernama Indonesia.

Kondisi di era 1950-an hingga akhir 1960-an, kondisi ketahanan pangan Indonesia relatif tidak terlalu baik. Rencana pengembangan swasembada pangan dengan menggiatkan lahan pertanian, pembibitan serta perkebunan lebih banyak untuk menutupi konsumsi dalam negeri. Impor beras masih sering dilakukan. Program besar-besaran untuk intensifikasi pertanian terjadi di era Orde Baru 1969-1983 yang akhirnya membuahkan hasil di era 1984-1993. Digulirkan Revolusi Hijau membuat produktivitas lahan pertanian melambung meski menurut kalangan akademisi dan pegiat lingkungan berdampak pada ekosistem serta kesehatan manusia. Hingga akhirnya Presiden RI Soeharto menerima penghargaan dari Food Agriculture Organization (FAO) sebagai badan pangan sedunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1985 karena berhasil menetapkan swasembada beras. Beras IRRI I-VI yang dihasilkan dari benih lokal menjadi dikenal dunia. Indonesia masih mampu mengekspor beras ke luar negeri baik secara komersial maupun demi kebutuhan kemanusiaan.

Apa betul Indonesia masih dikenal sebagai negeri remah jipah loh jinawi? Silakan simak data dari hasil sensus pertanian Badan Pusat Statistik (BPS) 2013. Pada tahun 2003, impor pangan baru senilai US$3,34 miliar, tahun 2013 nilainya sudah mencapai US$14,9 miliar atau naik lebih dari 400% dalam kurun waktu 10 tahun. Sebuah lonjakan yang dahsyat, padahal luas lahan dan potensi pertanian Indonesia bisa mencukupi kebutuhan rakyatnya tanpa perlu mengimpor. Berikut data dan fakta mengenai posisi dan kondisi ketahanan pangan Indonesia. (bro)

 

Terburuk di ASEAN

Di regional Asia Tenggara, posisi Indonesia dalam indeks ketahanan pangan di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina. Posisi Indonesia selalu nomor buncit sejak tahun 2012. Artinya, tidak ada peningkatan perbaikan dalam ketahanan pangan.

Penyebab naiknya impor pangan, adalah meningkatnya konsumsi pangan masyarakat Indonesia, naiknya angka kedatangan turis ke Indonesia dan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia. Adapun di sisi lain, pertumbuhan produktivitas pangan berjalan normal. Kenaikan impor bahan pangan tak bisa dibendung lantaran pemerintah tak siap menghadapi lonjakan permintaan pangan penduduk.

 

 


Vietnam Pemasok Beras Terbesar

Sejak tahun 2013, negeri yang 36 tahun silam porak poranda karena perang, Vietnam menjadi pemasok terbesar beras impor Indonesia. Dari total impor 472 ribu ton beras senilai US$246 juta, Vietnam mendominasi dengan jumlah beras 171.286 ton atau senilai US$97,3 juta. Impor beras dari Vietnam menyumbang 36,3 persen dari total impor beras Indonesia tahun 2012.

Di urutan kedua, Thailand dengan jumlah 194.633 ton beras senilai US$61,7 juta. Kemudian di urutan ketiga, India sebesar 107.538 ton beras senilai US$44,9 juta ke Indonesia. Berikutnya Pakistan yang mengirim berasnya sebesar 75.813 ton beras senilai US$29,9 juta. Pemasok kelima adalah Myanmar dengan jumlah 18.450 ton atau US$6,5 juta.

Pada semester 1-2014, selama Januari-Juni 2014, Thailand 90.763 ton atau US$42,6 juta, India 61.546 ton atau US$22,3 juta, Pakistan 8.950 ton atau US$3,33 juta, Vietnam 6.206 ton atau US$ 3,3 juta, Myanmar 8.136 ton atau US$ 2,7 juta, dan negara lainnya 675 ton atau US$1,9 juta.

 

Kedelai Juga Impor

Di luar beras sebagai makanan paling pokok rakyat nusantara, pemerintah Indonesia juga sampai saat ini masih mengizinkan keran impor kedelai. Seperti diketahui, produksi kedelai Indonesia setiap tahun sekitar 700 ribu ton-800 ribu ton. Sedangkan kebutuhan kedelai Indonesia mencapai 2,2 juta ton-2,3 juta ton setiap tahun. Sisanya sebanyak 1,4 juta ton-1,5 juta ton kedelai dipasok dari impor. Kedelai impor dipasok dari dari Amerika Serikat, Brasil, dan Malaysia. Karena itu, jangan heran ketika harga kedelai internasional melambung, produsen tahu dan tempe kelimpungan bahkan sampai mogok produksi. Kondisi ini membuat masyarakat penyuka tahu dan tempe gigit jari.

 

 

 

#Ketahanan Pangan #Swasembada Beras #Pertanian #70 Tahun Indonesia Merdeka
Bagikan
Ditulis Oleh

Noer Ardiansjah

Tukang sulap.

Berita Terkait

Indonesia
Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng di Perpanjang Sampai Juni, Bantu Stabilisasi Harga
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan implementasi program bantuan pangan turut andil mendukung stabilitas harga pangan, termasuk komoditas minyak goreng.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 25 Mei 2026
Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng di Perpanjang Sampai Juni, Bantu Stabilisasi Harga
Indonesia
Kisah Ketahanan Pangan dari Kebun SD Kanisius Pucangsawit, Solo
Bapak dan ibu guru bersama siswa bersama-sama menjalankan kebun sekolah.
Dwi Astarini - Jumat, 01 Mei 2026
Kisah Ketahanan Pangan dari Kebun SD Kanisius Pucangsawit, Solo
Indonesia
Cadangan Beras Melimpah Hingga 5 Juta Ton, Indonesia Dinilai Siap Guncang Dunia dengan Swasembada
Keberhasilan ini bersumber dari berbagai program strategis, mulai dari ekstensifikasi sawah, optimalisasi lahan, hingga penyediaan benih unggul dan bantuan alat mesin pertanian
Angga Yudha Pratama - Kamis, 30 April 2026
Cadangan Beras Melimpah Hingga 5 Juta Ton, Indonesia Dinilai Siap Guncang Dunia dengan Swasembada
Indonesia
Sejarah Baru, Cadangan Stok Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton
Stok beras nasional per Kamis 23 April 2026 mencapai angka 5.000.198 ton. Ketersediaan beras itu tertinggi yang pernah dicapai Indonesia sepanjang sejarah.
Wisnu Cipto - Jumat, 24 April 2026
Sejarah Baru, Cadangan Stok Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton
Indonesia
Antisipasi El Nino 2026, Pemprov DKI Siapkan Strategi Ketahanan Pangan
Pemprov DKI siapkan strategi hadapi El Nino 2026. Dari hidroponik hingga pemanfaatan air AC untuk jaga ketahanan pangan kota.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 21 April 2026
Antisipasi El Nino 2026, Pemprov DKI Siapkan Strategi Ketahanan Pangan
Indonesia
Swasembada Pangan Dikebut, 8 Komoditas Diproyeksi Surplus Juni 2026
Pemerintah targetkan 8 komoditas pangan swasembada Juni 2026. Data Bapanas menunjukkan surplus beras, jagung, gula, hingga telur ayam.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 20 April 2026
Swasembada Pangan Dikebut, 8 Komoditas Diproyeksi Surplus Juni 2026
Indonesia
GNTI Bersiap Panen Raya 1.500 Hektare Jagung, Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Program pengembangan jagung di area seluas 1.500 hektare ini merupakan salah satu upaya konkret dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Dwi Astarini - Rabu, 08 April 2026
GNTI Bersiap Panen Raya 1.500 Hektare Jagung, Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Indonesia
Pembangunan PLTS Jangan Sampai Korbankan Pertanian, Pakar: Konsep Agrivoltaics Sangat Relevan
Konsep agrivoltaics memungkinkan penggunaan lahan ganda, di mana pertanian dan produksi listrik surya berjalan beriringan di ruang yang sama.
Frengky Aruan - Senin, 06 April 2026
Pembangunan PLTS Jangan Sampai Korbankan Pertanian, Pakar: Konsep Agrivoltaics Sangat Relevan
Indonesia
Swasembada Pangan Naik Kelas, 2.280 Ton Beras RI Mulai Dikirim ke Tanah Suci
Pengiriman ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya beras petani Indonesia dikirim khusus untuk konsumsi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci.
Dwi Astarini - Kamis, 05 Maret 2026
Swasembada Pangan Naik Kelas, 2.280 Ton Beras RI Mulai Dikirim ke Tanah Suci
Indonesia
Presiden Prabowo Targetkan Swasembada Pangan Total Usai Cadangan Beras Bulog Pecah Rekor
Sektor kelautan turut menjadi pilar utama dalam misi swasembada protein melalui program modernisasi kawasan pesisir secara masif
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 14 Februari 2026
Presiden Prabowo Targetkan Swasembada Pangan Total Usai Cadangan Beras Bulog Pecah Rekor
Bagikan