MerahPutih Budaya - Gapura berwarna merah tua yang memiliki desain seperti masa kerajaan dulu menyambut kedatangan merahputih.com di salah satu masjid tertua di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (13/6).
Masjid yang bagian eksteriornya didominasi warna putih dan interiornya berwarna merah itu mempunyai nama Masjis Merah Pasalakan. Mungkin namanya tak setenar masjid-masjid tua lainnya yang ada di Cirebon. Masjid yang berada di Kelurahan Pasalakan, Kecamatan Sumber itu, diyakini masyarakat setempat sudah berdiri berabad-abad lamanya. Bahkan, sebelum ada Cirebon masjid tersebut sudah berdiri.

Masjid Pasalakan (Foto: MerahPutih/Irm)
Salah satu pengurus Masjid Pasalakan Sukendra (66) menceritakan bahwa masjid tua di Cirebon itu dibangun oleh Syekh Syarif Abdurrahman Al Usmani yang berasal dari Timur Tengah, tepatnya Baghdad, Irak. Jika dihitung dari awal masjid itu berdiri, menurut Sukendra, maka usia masjid sudah mencapai 753 tahun.
Pada saat itu, Wali Songo sering menggunakan masjid tersebut untuk melakukan musyawarah dan merencanakan pendirian sejumlah masjid di nusantara untuk syiar Islam.
Menurut Sukendra, Masjid Pasalakan yang berusia kurang lebih 752 tahun itu dapat dipastikan masjid adalah masjid tertua di Kabupaten Cirebon. “Wali itu berkumpul di sini untuk menyusun strategi syiar Islam," ucapnya.
Menurut cerita secara turun temurun, masjid tersebut dibangun dalam satu malam. Dan, saat Masjid Pasalakan berdiri, lokasi tepat berada dibagian timur sungai. Lantaran masyarakat sekitar sering menggunakan kali tersebut untuk buang hajat dan lain sebagainya. Dipindahkanlah masjid itu ke bagian barat.

Masjid Pasalakan (Foto: MerahPutih/Irm)
Selain itu, di samping masjid terdapat makam Syekh Syarif Abdurrahman Al Usmani dan putranya Pangeran Pasarean. Di dalam masjid juga terdapat sumur yang bernama Sumur Andong Kamulyan. "Arti kemulyan itu adalah 'kemuliaan,' Mas. Oleh karena itu, bagi siapa yang meminum air sumur tersebut dipercaya akan membawa kemuliaan baginya," jelasnya.
Di sini juga terdapat potongan kayu sawo kecik yang dijadikan tiang-tiang masjid dan usianya sama dengan masjid ini. Anehnya, kayu ini tidak lapuk atau tetap keras dan sulit dipotong sampai sekarang.

Masjid Pasalakan (Foto: MerahPutih/Irm)
Masjid yang berada di sekitar pemakaman umum ini banyak dikunjungi warga dan masih berfungsi layaknya masjid yang lain, untuk salat maupun untuk mencari ketenangan bagi orang yang mempercayai keistimewaanya.
Bila masuk ke Makam Syekh Syarif Abdurrahman Al Usmani, maka akan terasa dingin sejuk seperti ada sumber udara. Padahal, ruangannya tertutup oleh beton zaman dulu yang sangat tebal. (Irm)
BACA JUGA: