Katrin Bandel, Kritikus Sastra yang Memilih Mualaf Katrin Bandel (Foto: MP/Fredy WP)

MerahPutih Budaya- Cuaca tampak cerah. Meski di salah satu sudut langit terlihat kelam. Petanda akan turun hujan itu membuat perjalanan menuju Jalan Kaliurang Km 10 semakin cepat. Jika tidak, hujan siap menghantam.

Sesampainya di Jalan Kaliurang Km 10, Sleman, DI Yogyakarta, tepatnya di SPBU Getan, perjalanan harus melalui jalan kecil lagi. Tidak terlalu kecil memang, hanya saja lebih kecil dari jalan raya. Meski sempat mengalami salah alamat akibat kesemrawutan penomoran rumah, akhir siang itu, Sabtu (17/9), merahputih.com menemukan tempat tinggal orang yang ingin ditemui. Sambutannya hangat. Terbilang ramah. Gaya bicaranya santun. Jauh dari kesan tokoh-tokoh sejarah Jerman.
Meski ia keturunan dan berdarah asli Jerman, kepalanya tertutup jilbab. Ia tak lain seorang bule mualaf yang belakangan menjadi buah bibir pegiat sastra maupun budayawan.

Namanya Katrin Bandel. Ia perempuan kelahiran Wuppertal, Jerman. Ia menempuh studi gelar doktoral di Hamburg, Jerman, tahun 2004. Ia telah melahirkan beberapa karya tulis tentang kritik sastra. Salah satu karyanya ialah buku Sastra, Perempuan, dan Seks. Kini ia menjadi pengajar di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Tanpa panjang lebar, merahputih.com berbincang ihwal pilihannya menjadi muslimah. Baginya, menjadi muslimah adalah kehendak hati. Tidak atas perintah ataupun rayuan orang di sekitarnya. Ia menjelaskan, suatu hal yang membuat hatinya tenang sehingga muncul kehendak hati tersebut ialah murotal. Suatu waktu, ia pernah mendengarkan murotal tanpa sengaja. "Memilih masuk Islamnya, tidak ada peristiwa apa-apa. Muncul dari dalam diri sendiri. Dari dalam hati," katanya dengan gaya bicaranya yang ramah.

Katrin mulai memasuki "dunia Islam" akhir tahun 2010. Sejak saat itu ia mulai mencari tahu sendiri seperti apa "agama murotal" itu hingga membuat hatinya tenang. Ia pun belajar tentang Islam sendiri. Itu ia lakukan diam-diam, tanpa seorang pun yang tahu.
Begitu pula saat mengucap syahadat. Ia memilih bersyahadat sendiri, tanpa saksi. "Setelah mengucap itu, ada teman saya, bilang, harusnya ada saksi. Tapi (alm) Mbah Zainal (red, ulama Pondok Pesantren Al Munawir, Krapyak), tidak ada saksi juga sah. Karena hukumnya sunah," katanya.

Baginya, syahadat merupakan komunikasi personal dengan Sang Khalik. Ia sadar, menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW akan mendapat banyak tantangan. Terutama datang dari keluarga besarnya di Jerman. Tantangan ini seperti apa yang terjadi pada dirinya saat mudik Lebaran tahun ini, 2016. Ia pernah menuliskan sekelumit pengalaman pahitnya itu di media sosial facebook, yang kemudian diangkat kembali oleh media online nonmainstream.

"Sejauh menjadi Muslimah, dan lebih-lebih sejak berjilbab, pengalamanku semakin unik," katanya dalam tulisannya tentang perjalanan mudik ke Jerman.
Keluarga besarnya saat ini semua masih bermukim di Jerman. Semua anggota keluarganya tidak mengakui adanya Tuhan.

"Ibu saya dari Belgia, yang awalnya Katolik. Tapi kemudian tidak beragama. Keluarga besar saya atheis," ujarnya.

Apa pun tantangan itu, ia tetap melaluinya dengan tenang. Hidup tanpa Tuhan begitu sepi dan sakitnya. Jadi manusia ber-Tuhan kini menjadi jalan hidupnya menuju ketenangan. "Terserah Allah hidup ini mau dibawa ke mana," pungkasnya. (Fre)

BACA JUGA:

  1. Festival Budaya Tangerang International Folklore
  2. Kota Tangerang Jadi Tuan Rumah Festival Budaya International Folklore
  3. Pemerintah Kurang Berikan Perhatian Bagi Atlet Tinju Tangerang
  4. Pemburu Takjil Menyemut di Pasar Lama Tangerang
  5. Masjid di Serpong Tangerang Ini Hasil Karya Ridwan Kamil


Zulfikar Sy

YOU MAY ALSO LIKE