September Kangen

GOOD bye Jakarta! Presiden Joko Widodo, Senin lalu (26/8), resmi menetapkan sebagian Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara jadi lokasi ibu kota baru Indonesia.

Jakarta akan jadi masa lalu. Cap 'Orang Metropolitan' pun kelak menghilang berganti 'Putra Daerah'.

Orang Jakarta, Si Putra Daerah, cepat atau lambat akan kangen masa-masa indah sebagai anak kandung Ibu Kota.

Ibu Kota selalu dapat prioritas, previlage, lantaran jadi episentrum penggerak tumbuh kembang negara. Segala hal, bahkan fashion, teknologi, gaya hidup, dan kesenian beroleh eksposure di Ibu Kota. Tak heran ketika semua itu beralih, orang Jakarta pasti kangen keseruan tren, hype, booming, lagi in, nan biasa meledak di Ibu Kota.

Kekangenan itu semakin terasa saat penyelenggaraan peringatan hari besar nasional- internasional. Di bulan September, terdapat peringatan Hari Pelanggan Nasional, Radio Nasional, Perhubungan, dan Pos Indonesia.

Kami, merahputih.com, mengetengahkan tema September Kangen untuk mengenang segala romansa, kehebohan orang Jakarta di masa lalu, sebagai Orang Metropolitan, pada momen indah peringatan hari besar tersebut.

Di hari pelanggan, tentu saja banyak kemudahan didapat orang kota, Jakarta, lantaran kemudahan akses, keterjangkauan pengiriman, dan kecepatan beroleh tanggapan bila terjadi kesalahan. Apakah segala kemudahan itu tetap bisa dinikmati orang Jakarta kelak?

Di momen Hari Radio Nasional, bila memori kita ditarik sedikit ke belakang, tentu masyarakat Jakarta mendapat banyak kecepatan informasi lewat radio. Kabar Proklamasi Kemerdekaan RI pun lebih dahulu diterima orang Jakarta ketimbang daerah lain.

Orang Jakarta juga lebih cepat mendengar lagu-lagu baru musisi nasional-internasional lewat siaran radio daripada orang daerah. Tak heran, booming turunannya, seperti fashion lebih awal terjadi di Jakarta.

Kecanggihan moda transportasi bahkan lebih awal dirasakan orang Jakarta. Tak usah jauh-jauh, MRT dan LRT misalnya, telah jadi keistimewaan orang Jakarta. Begitu pula kuota penerbangan dalam dan luar negeri.

Bagaimana dengan komunikasi? Di masa lalu, ketika orang satu sama lain terhubung lewat surat-menyurat, lagi-lagi orang Jakarta mendapat kemudahan pelayanan, dan kecepatan beroleh surat dan kiriman barang ketimbang daerah lain.

Semua soal kemudahan, kecepatan, dan kualitas pelayanan bagi masyarakat Ibu Kota. Tentu, kita akan mengenang itu sebagai sejarah, atau malah Jakarta, meski tak lagi jadi ibu kota, tetap mencetak sejarah? Will see.