Yuk, Menikmati Surga Wisata di Jawa Tengah Sejumlah pengunjung berwisata di Candi Prambanan. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

MerahPutih.com - Kekayaan wisata Provinsi Jawa Tengah tak boleh dianggap sebelah mata. Betapa tidak, para wisatawan nusantara dan mancanegara yang berkunjung ke sana bakal dimanjakan oleh keindahan budaya dan alam di wilayah yang memiliki luas 3,24 juta hektare atau sekitar 25,04 persen dari total luas Pulau Jawa ini.

Dalam soal wisata agro, wisata air, wisata budaya, wisata gunung, wisata museum, wisata pantai, dan wisata taman nasional, provinsi kekayaan ini juga tak bisa dipandang sebelah mata. Melengkapi kekayaan dan keragaman wisata Jawa Tengah itu adalah kulinernya yang tak kalah dari daerah-daerah lain di Tanah Air.

Bahkan, foodie kondang Bondan Winarno memilih delapan makanan khas dari Jawa Tengah yang masuk dalam 100 makanan tradisional Indonesia dalam bukunya "100 Makanan Tradisional Indonesia Mak Nyus" (2013).

Jumlah makanan tradisional yang mewakili Jawa Tengah itu melebihi jumlah makanan asal Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Adapun kedelapan makanan tradisional asal Jawa Tengah pilihan Bondan itu adalah Mangut, Nasi Pindang, Nasi Gambul, Tengkleng, Nasi Goreng Babat, Sate Buntel, Garang Asem, dan Tauto.

Karenanya, para wisatawan nusantara dan mancanegara memiliki banyak pilihan destinasi dan menu bersantap ketika berkesempatan mengunjungi daerah ini.

Bagi turis yang tertarik menelusuri rekam jejak manusia purba di tanah Jawa, mereka bisa mendapatkannya dengan mengunjungi Museum Purbakala Sangiran di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

Bagi para penyuka wisata bahari, salah satu surga wisata bawah laut Indonesia justru ada di provinsi yang kini memiliki 29 kabupaten dan enam kota dengan 545 kecamatan dan 8.490 desa/kelurahan ini.

Surga wisata bahari Jawa Tengah itu berada di Karimunjawa. Untuk masuk ke kepulauan seluas 71,2 kilometer persegi yang masuk dalam wilayah Kabupaten Jepara itu, wisatawan bisa mencapainya dari Pelabuhan Kartini dengan menumpang kapal cepat Express Bahari dan KMP Siginjai itu.

Tidak sedikit dari ribuan turis asing yang berkunjung ke Jawa Tengah setiap bulannya menjadikan Kepulauan Karimunjawa salah satu destinasi utama mereka.

Seperti dicatat Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, pada Mei 2017, misalnya, ada 2.265 kunjungan wisatawan mancanegara ke provinsi ini melalui pintu masuk bandara Adi Sumarmo dan Ahmad Yani.

Di antara para turis asing yang terpikat dengan pesona wisata bahari Karimunjawa yang terkenal dengan pantai-pantai berpasir putih dengan air laut hijau membiru dan deretan batu-batu karangnya itu adalah Will Dyson dan Dan Anderson.

Dua pemuda asal Sutton dan Sheffield, Inggris, itu memuji keindahan alam bawah laut perairan Karimunjawa ketika Antara meminta kesan mereka setibanya kembali di Pelabuhan Kartini, Jepara, Minggu pagi (16/7) setelah berlibur di kepulauan itu selama empat hari.

"Saya sempat melakukan snorkeling (selam permukaan) di Karimunjawa dan bertemu ikan Nemo. Terus terang, bagus sekali," kata Dan Anderson dan diamini Will Dyson.

Kedua pemuda Inggris ini mengatakan mereka baru pertama kali mengunjungi Indonesia dan mengaku langsung jatuh cinta pada pesona wisata Indonesia setelah berkunjung ke Yogyakarta, Solo, Gunung Lawu, dan Karimunjawa.

Dalam kunjungan pertama mereka ke Kepulauan Karimunjawa itu, Will Dyson dan Dan Anderson mengalami pelayanan di tengah kondisi ombak yang relatif tinggi sehingga tidak sedikit penumpang yang mabuk laut.

Cuaca buruk yang sewaktu-waktu dapat terjadi di rute pelayaran Jepara-Karimunjawa itu menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang hendak berkunjung ke sana.

Jika cuaca buruk terjadi, pihak syahbandar dan manajemen PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Jepara langsung mengumumkan penundaan pelayaran kapal-kapal penyeberangan yang melayani rute Jepara-Karimunjawa dari Pelabuhan Kartini.

"Saya yakin dengan keamanan kapal yang saya tumpangi tadi," kata pemuda asal Sheffield yang mengaku sudah berada di Indonesia selama 10 hari dan akan melanjutkan kunjungannya ke Bali itu.

Berbeda halnya dengan Dan Anderson, Juliawan, warga Klaten yang berwisata bersama beberapa orang rekan sekantornya, mengaku tidak banyak yang bisa dia dan teman-temannya lakukan selama di Karimunjawa dalam kondisi cuaca yang buruk.

Karenanya, mengutip saran pemandu wisata yang mendampingi mereka, waktu berkunjung terbaik di Karimunjawa adalah sekitar April, kata pemuda yang berada dalam satu kapal dengan sejumlah turis asing, termasuk Dan Anderson, itu. (*)

Sumber: Antara



Thomas Kukuh

YOU MAY ALSO LIKE