Yuk, Hadiri Kemeriahan Perayaan Imlek Nasional di JIEXPO Kemayoran (Ki-Ka) Tokoh Masyarakat Islam Tionghoa Serian, Sekretaris Panitia Eddy Hussy, Ketua Panitia Sudhamek AWS, Wakil Ketua Panitia Teddy Sugianto dan Rudi Halim (MP/Asropih)

MerahPutih.com - Perayaan Imlek Nasional akan dilangsungkan pada 7 hingga 10 Februari 2019 di di Hall B3 & C3 JIEXPO, Kemayoran, Jakarta Pusat. Rencananya, perayaan imlek bertema “Merajut Kebinekaan Memperkokoh Persatuan” ini akan dihadiri Presiden Joko Widodo. Perayaan ini menghadirkan berbagai kegiatan seru dan dibuka untuk umum.

“Tahun Baru Imlek merupakan hari terpenting dalam tradisi masyarakat Tionghoa dan telah menjadi ekspresi tradisi yang dirayakan di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia,” tutur Ketua Panitia Imlek Nasional Sudhamek AWS dalam keterangan tertulisnya, Kamis (7/2).

Menurut Sudhamek, Penetapan Hari Raya Imlek sebagai hari libur Nasional merupakan salah satu bentuk pengakuan negara terhadap suku Indonesia-Tionghoa yang tak lepas dari pasang surut sejarah Indonesia. Salah satunya terekam dalam Harian Merdeka edisi 17 Februari 1946 yang meneguhkan komitmen suku Indonesia-Tionghoa dalam menegakkan kedaulatan Indonesia.

Perayaan ini sejatinya sarat akan nilai keberagaman yang mencerminkan spirit kebangsaan seperti yang diwariskan oleh para pendiri bangsa. Nah, ini diingatkan kembali oleh Presiden keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. “Melalui Keppres RI No. 6/2000, Gus Dur memberikan kebebasan untuk merayakan Imlek. Dan kemudian Imlek sebagai Hari Libur Nasional ditetapkan sejak tahun 2003 oleh Ibu Megawati Sukarnoputri selaku Presiden kelima,” imbuhnya.

Perayaan Imlek Nasional

Wakil Ketua Imlek Nasional 2019, Teddy Sugianto (kanan) bersama panitia lainnya (MP/Dickie)

Sudhamek menuturkan, asal usul perayaan Tahun Baru Imlek sesungguhnya adalah untuk merayakan datangnya musim semi di daratan Tiongkok. Perayaan ini diisi dengan rangkaian kegiatan berupa doa, berkumpul dan makan bersama keluarga, kerabat dan para sahabat.

Hidangan yang umumnya ada saat makan bersama adalah ikan bandeng, pangsit dan aneka kue khas Imlek semisal kue nian gao atau kue keranjang. Berbagai simbol dan tradisi yang sering terlihat pada saat Tahun Baru Imlek ini, masing-masing memiliki makna sebagai pembawa keberuntungan dan harapan baik untuk tahun mendatang.

Perayaan Imlek Nasional ini diperkirakan akan dihadriri lebih dari 12 ribu warga. Dalam kegiatan ini Sudhamek didampingi oleh Teddy Sugianto dan David Herman Jaya sebagai Wakil Ketua, dibantu oleh Sekretaris Eddy Hussy dan Ulung Rusman, serta Pui Sudarto, Husin Widjajakusuma, Ferry Salman sebagai Bendahara.

Kepanitiaan ini juga melibatkan tokoh serta berbagai elemen masyarakat Tionghoa yang membawahi beberapa bidang lainnya.

Perayaan Imlek Nasional ini terasa istimewa karena pilihan desain, susunan acara dan pesertanya dirangkai sedemikian rupa sehingga sesuai dengan temanya.

Warna dasar yang menjadi latar belakang acara ini adalah merah putih (dimensi kebangsaan) yang dirangkai dengan motif batik mega mendung (dimensi akulturasi budaya). Untuk itu rangkaian acara juga dibuat untuk menjiwai kesatuan dalam kebinekaan Indonesia. “Misalnya, alat musik klasik Guzheng digunakan untuk mengiringi lagu-lagu kebangsaan Indonesia. Sebaliknya Kolintang digunakan untuk mengiringi lagu-lagu daerah Indonesia maupun lagu Mandarin,” kata dia.

Atraksi khas Tionghoa Barongsai juga ditampilkan bersama dengan Reog dan Ondel-ondel. Selain itu, lanjutnya, panitia juga mengundang total 29 raja dari seluruh nusantara serta tokoh-tokoh nasional yang mewakili bidangnya.

Dalam festival terdapat pagelaran budaya nusantara, atraksi naga, akulturasi kebudayaan, atraksi reog, ondel-ondel dengan barongsai, pameran produk dalam negeri, kuliner khas Tionghoa dan makanan dari berbagai daerah di Indonesia, food truck, ditutup dengan kemeriahan kembang api setiap harinya. Festival ini terbuka untuk dihadiri oleh masyarakat umum setiap harinya mulai pukul 10.00 - 22.00 WIB.

“Tahun Baru Imlek 2570 atau tahun 2019 Masehi ini diharapkan menjadi rumah bersama, bagi berbagai golongan etnis Indonesia-Tionghoa yang terdiri dari beragam sub etnis dengan marga dan agama yang berbeda-beda untuk mensyukuri keberagamannya yang sekaligus menjadi kekuatan bangsa Indonesia, demi merajut kebinekaan dan memperkokoh persatuan Indonesia,” tutur Sudhamek. (*)


Tags Artikel Ini

Thomas Kukuh

LAINNYA DARI MERAH PUTIH