Yudi Latif: Pancasila Mempersatukan Kemajemukan di Indonesia Kepala Unit Kerja Presiden (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif. (MP/Ponco Sulaksono)

MerahPutih.com - Tanggal 1 Oktober setiap tahun diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Ibarat pohon, Pancasila harus selalu dipupuk dan dipelihara agar tetap tumbuh mengayomi NKRI sepanjang masa.

"Perkembangan Pancasila itu seperti 'pohon' kehidupan Indonesia. Perjalanan bangsa ini dengan ideologi Pancasila tidak akan selamanya baik, bila tidak dirawat dan dipelihara. Karena itu melalui momentum Hari Kesaktian Pancasila, mari kita rawat dan kita amalkan Pancasila agar bangsa ini terus tumbuh baik dan kokoh," kata Kepala Unit Kerja Presiden (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif di Jakarta, Jumat (29/9).

Pancasila titik dimana segala kemajemukan Indonesia itu bersatu. Pancasila sebagai titik temu dan titik pijak dimana kebijakan negara, hukum, kebijakan nasional harus berlandaskan Pancasila. Pancasila juga sebagai titik tuju pemberi orientasi kemana bangsa ini akan diarahkan.

Dengan demikian, bila nilai-nilai Pancasila itu tidak dibudayakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka negara majemuk seperti Indonesia dengan keanekaragamanan agama, ras, suku, partai, lapisan sosial, sampai kapan pun akan sulit mencari titik temu atau kesepahaman bagaimana ini negara ini ke depan.

Akhir-akhir ini, banyak terjadi gangguan baik politik maupun sosial. Hal itu tidak lepas dari adanya sesuatu yang putus dalam pembelajaran dan pengamalan Pancasila di masa lalu.

Ia menilai pada masa Orde Baru, penataran Pancasila itu sifatnya vertikal mengerucut pada peranan negara. Negara yang menaksir, negara yang mengambil inisiatif, negara yang menatar, sehingga seolah-olah Pancasila itu hanya kepentingan negara, sementara rakyat hanya diminta melaksanakan.

"Sekarang Pancasila tidak bisa lagi dikembangkan secara horizontal. Pancasila itu kepentingan kita semua. Negara majemuk seperti Indonesia kalau kita tidak sama-sama mengamalkan Pancasila akan rugi. Mari semua kita berperan merawat dan mengamalkan Pancasila," jelasnya.

Selain itu, selama ini, negara hanya memikirkan pembangunan fisik sehingga pembangunan jiwa bangsa ini agak dilalaikan. Hal itulah yang kini banyak menimbulkan krisis kebangsaan. Menurutnya, membangun fisik seperti gedung, jembatan, dan lain-lain itu penting, tapi membangun jiwa bangsa ini juga tidak kalah penting.

"Kita tidak perlu mencari ideologi lain. Marilah kita jalankan saja Pancasila secara sungguh-sungguh dan konsisten," tukas Yudi. (*)



Luhung Sapto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH