Yang Penting Suka Dulu, Cara Kenalkan Fotografi ke Anak Berkebutuhan Khusus Pengunjung di pameran foto Selamat Datang di Duniaku. (foto: Antara/Galih Pradipta)

SEKOLAH Anak Berkebutuhan Khusus Spectrum bersama Galeri Foto Jurnalistik Antara menggelar pameran foto Selamat Datang di Duniaku. Pameran foto yang digelar di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, 12-22 April 2018, itu menampilkan karya foto anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

Pendiri Sekolah ABK Spectrum Tisna Chandra, saat acara bincang-bincang sebelum pameran dibuka, menjelaskan bahwa potensi para siswa Spectrum memang digali di bidang seni rupa, musik, juga art and craft.

"Anak-anak berkebutuhan khusus ini enggak hanya belajar daily living activity, tapi juga kami gali potensi mereka lewat workshop agar bisa tampil di dunia luar," jelas Tisna yang telah berkecimpung menangani ABK lewat Spectrum sejak 1998.

Dalam hal seni rupa, para ABK di Spectrum dibimbing Eko Wibowo. Awalnya, mereka hanya belajar melukis, tapi kemudian Eko memerhatikan banyak anak yang suka memotret dengan kamera ponsel.

"Semua mereka foto. Bahkan saya pun difoto terus dikirimkan ke saya," ujar Eko saat ditemui di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Kamis (12/4).

Suatu saat, Eko melihat anak yang memperlihatkan hasil foto yang ia ambil. Itu merupakan foto sebuah gedung. Gambar itu membuat Eko berpikir.

"Wah, ini gambar apa ya. Saya tanya, 'ini gambar apa?', dijawab, 'ini ambar mbak'. Padahal, di dalam foto itu enggak ada sama sekali gambar mbak. Jadi rupanya, dia pernah lihat ada mbak di gedung itu. Dan itu menarik buat dia," kenang Eko.

Dari sanalah ia memiliki ide mengajukan ke sekolah untuk mengadakan workshop fotografi. Ia berpikir bahwa anak-anak Spectrum bisa diarahkan ke bidang seni rupa lain, yakni fotografi. Gayung bersambut, pihak sekolah pun menyetujui, kebetulah mereka juga punya alat penunjang berupa kamera.

Anak-anak didik Spectrum memamerkan karya fotografi mereka dalam pameran Selamat Datang di Duniaku. (foto: Facebook)

Di bawah bimbingan Eko dan beberapa guru lain, para ABK di Spectrum belajar fotografi selama kurang lebih setahun. Suatu saat, ada siswa magang yang membawa buku fotografi Voice. Eko pun amat tertarik untuk membuat hal serupa bagi para ABK di Spectrum. Demi mewujudkan niat itu, ia mengajak seorang kawan yang pernah menjadi jurnalis foto di media cetak nasional untuk ikut membimbing para siswa.

"Kurang lebih enam bulan kami bersiap dalam workshop foto khusus untuk berpameran ini," ujar pengajar melukis dan seni keramik di Sekolah Spectrum tersebut.

Adanya workshop fotografi rupanya memantik semangat para ABK. Meskipun awalnya banyak yang ogah ikut hingga sembunyi di kolong meja, pendekatan yang dilakukan Eko membuat anak-anak berkebutuhan khusus itu malah menyukai fotografi.

"Ada satu anak yang enggak mau belajar. Maunya cuma main drum. Diajak kelas fotografi, malah ngumpet di kolong meja. Ya sudah, diajak motret. Setelah dia lihat hasilnya, dia senang. Jadi pede," ujarnya.

Kolase tulisan dan hasil foto ABK Spectrum. (foto: MP/Dwi Astarini)

Eko mengakui memang tak mudah mengajar ABK. Butuh trik dan cara tersendiri. Ia pun menyebut 'suka dulu' sebagai kuncinya. Dari 20 anak yang ikut workshop, Eko menyebut memang tak semuanya langsung suka fotografi. Ada yang sukanya jadi model, ada yang jadi pengarah gaya.

"Yang penting, ini anak-anak suka dulu dengan fotografi. Baru belajar," jelasnya.

Ia pun mengakui bahwa ia pernah mencoba berbagai modul pengajaran yang didesain guru, tapi tak berhasil. Hingga akhirnya, ia mencoba sebaliknya, yakni mengikuti alur atau keinginan para anak dalam belajar. Menurutnya, hal itu justru membuahkan hasil. Anak-anak mulai antusias dengan workshop fotografi.

"Workshop digelar tiap Jumat, tapi dua hari sebelumnya mereka sudah tanya, nanti Jumat jadi kan. Begitulah, mereka bersemangat untuk belajar," jelas Eko.

Hal senada juga diungkapkan Lusy, ibunda dari Taha, salah seorang ABK.

"Anaknya jadi lebih ceria, lebih bersemangat ke sekolah dan belajar," ujarnya saat ditemui di acara yang sama.

Tak dimungkiri, fotografi menjadi salah satu cara ABK berekspresi dalam ungkapan nonverbal. Lewat foto-foto, mereka bisa menuangkan ide dan pemikiran yang sulit mereka ungkap lewat kata.

Seiring berjalan waktu, saat melihat hasil jepretan anak-anak didikya yang punya karakteristik tersendiri, muncul keinginan untuk memamerkan karya-karya tersebut.

"Saya pikir, bagus juga karya anak-anak ini dipamerkan. Lalu saya tanya kawan saya, dikenalkanlah denga GFJA ini," jelasnya.

Pihak Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) pun tertarik dengan karya-karya yang dibuat para ABK di Spectrum. Pihak GFJA kemudian mengutus Danny Wiijaya dan Mosista Pambudi untuk memberikan bimbingan lanjutan bagi para ABK di Spectrum. Jika di sekolah mereka belajar teknik foto, instruktur dari GFJA membekali mereka dengan pengetahuan konten.

Setelah melewati 5-6 kali pertemuan, jadilah foto-foto dahsyat yang menggugah hati siapa pun yang melihat. Oscar Motuloh selaku kurator pameran Selamat Datang di Duniaku mengaku foto-foto hasil karya para ABK memiliki kejujuran, kemerdekaan, dan orisinalitas.

Sebanyak 24 karya dipamerkan di GFJA sepanjang 12-22 April 2018. Salah seorang pameris ialah Taha. Siswa kelas 2 SMA di Spectrum tersebut mengaku amat menyukai fotografi.

"Suka fotografi sejak kecil. Aku suka motret pemandangan yang bagus-bagus, teman aku, yang bagus-bagus," ujarnya saat ditemui Merahputiih.com di GFJA, Kamis (12/4).

Taha ialah salah seorang anak berkebutuhan khusus yang punya talenta mengagumkan di bidang seni rupa. Tak hanya memotret, Taha juga jago melukis.

"Taha suka menuangkan karya fotonya kembali dalam bentuk lukisan," jelas Eko saat mendampingi Taha.

'Topeng Favorit' karya Taha. (foto: MP/Dwi Astarini)

Dua karya Taha yang dipamerkan menunjukkan dengan jelas betapa ia amat perhatian dengan lingkungan sekelilingnya. Karya 'Aldo Datang' memperlihatkan bagaimana ia amat memperhatikan aktivitas kawan sekolahnya dalam keseharian.

Pada karya lainnya, Taha memotret kawannya yang lain, Ikhsan, dalam balutan topeng Batman.

"Ini Ikhsan. Dia suka sekali Batman. Makanya pakai topeng," jelasnya.

Taha hanya satu dari sekian banyak anak berkebutuhan khusus dengan bakat terpendam yang butuh digali dan diasah hingga bersinar, layaknya emas.

"Sesuai dengan judul pameran ini, Selamat Datang di Duniaku, harapannya masyarakat bisa melihat inilah dunia mereka. Bisa amat berbeda, bisa juga enggak terlalu berbeda. Bahwa mereka tidak bisa dianggap remeh. Mereka bisa punya karya," harap Eko.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa fotografi membuat anak-anak berkebutuhan khusus ini bersatu dalam keberagaman, meskipun mereka punya kekurangan yang berbeda-beda.

Di masa depan, Eko merencanakan membentuk klub foto Spectrum untuk mewadahi minat fotografi ABK. Hal itu sejalan dengan harapan yang dilontarkan Tisna Chandra.

"Semoga di masa depan, Spectrum bisa bekerja sama untuk pembelajaran fotografi lanjutan dengan GFJA. Sehingga anak-anak kami setelah dari Spectrum bisa belajar di GFJA," harap Tisna.

Tak hanya tampil dalam pameran fotografi, para ABK Spectrum juga rutin tampil di Titan Center, Bintaro, dalam pentas seni. Tahun ini, pentas seni ABK Spectrum akan digelar pada 13 Mei mendatang.(dwi)

Kredit : dwi


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH