hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-1
Yang Harus Diubah dari Kampus Gue! Ilustrasi kegiatan kampus. (Pixabay)
hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-2
hiburan-gaya-hidup-mobile-singlepost-banner-7

LAUREN langsung bergegas begitu melihat jarum jam menuding angka 13.50 WIB. Ia cuma punya kala 10 menit sampai di ruang kuliah. Sementara jarak rumah dan kampusnya di daerah Tangerang sekira 20 menit. Ia pun langsung meraih tas, memakai sepatu, dan memacu kencang sepeda motornya.

Peraturan di kampusnya memang memberi dispensasi telat tak lebih 15 menit dari waktu normal perkuliahan. Dispensasi itu coba dimanfaatkan baik-baik. Setiba di parkiran, Lauren berlari kencang menuju kelas. Napasnya terengah-engah. Keringat jagung mengucur deras. Kemejanya basah.

Begitu pintu kelas disibak, tak nampak sosok dosen di bangku depan. Ia justru disambut bising obrolan dan suara video dari media sosial teman sekelasnya. Ia pun menghela napas panjang. Lega!

Sejam berlalu tanpa kegiatan perkuliahan. Teman-temannya masih sibuk masing-masing. Mereka pun berniat meninggalkan kelas. Namun, mendadak dosen itu hadir. Ia dan teman-temannya lantas saling berbisik tentang mekanisme peraturan bila dosen telat hadir lebih dari satu jam.

Salah satu temannya memberanikan diri berdiskusi dengan dosen agar memberi kelas pengganti di lain kesempatan sesuai dengan peraturan kampus. Namun, dosen itu bersikeras ingin melanjutkan kelas.

Lauren dan teman-temannya tak berkutik. Muka mereka berubah masam. Masih tak terima dengan inkonsistensi dosen terhadap peraturan keterlambatan saat kegiatan belajar-mengajar. "Kalau mahasiswa telat satu menit aja, langsung kena absensi. Dianggap enggak masuk kuliah," keluh Lauren kepada merahputih.com.

hak asasi milenial
Ilustrasi suasana di ruang kuliah. (Pixabay)

Ia sering jengkel dengan sikap tebang pilih penerapan peraturan di kampus. Seakan, menurut Lauren, peraturan itu dibuat cuma tertuju pada mahasiswa sementara dosen tak terjamah.

Ia bukan tanpa risiko mengebut laju kendaraan di jalan raya demi terhindar telat masuk kelas. Sementara dosennya, lebih dari satu jam, tetap bisa melanjutkan kelas. Ia sejatinya menuntut kesamaan hak di hadapan peraturan kampus. Tak kecuali dosen.

Kejadian serupa pun pernah dialami Kelly, teman satu almamater Lauren. Dosennya telat hadir dan bersedia melakukan mekanisme kelas pengganti. Namun, Kelly dan teman sekelasnya jengkel sebab kelas pengganti diadakan di hari sabtu.

"Padahal ada mahasiswa udah punya acara keluarga atau kerja," kata Kelly. Tak semua teman sekelasnya "Kupu-Kupu" alias Kuliah Pulang-Kuliah Pulang. Banyak di antara mereka bekerja paruh waktu di akhir pekan untuk menambah tabungan atau sekadar menambah uang jajan membeli boba milk tea.

Kelas pengganti di hari sabtu membuat jadwal kerja paruh waktu mereka berantakan. Alih-alih memprotes keputusan kelas pengganti, Kelly dan teman sekelasnya hanya bisa pasrah meski tambahan dari kerja paruh waktu harus ditanggalkan.

Masuk kampus di akhir pekan memang butuh tenaga ekstra. Selain harus merelakan kerja paruh waktu terganggu, juga harus tahan godaan beraktivitas di saat orang lain bersantai ria. Vero, rekan satu almamater Lauren dan Kelly, merasa perlu hadir di acara seminar kampus pada hari sabtu.

Belum sampai duduk di kursi, Vero harus menerima pil pahit dipulangkan dari kampus lantaran mengenakan sepatu selop. Pilihannya, ia pulang mengganti sepatu agar bisa mengikuti seminar, atau pulang namun dihitung menggunakan "jatah" ketidakhadiran.

"Emang melanggar peraturan kampus sih, tapi kenapa peraturan soal berpakaian ketat banget. Toh enggak menganggu. Masih sopan juga," keluh Vero mengenai peraturan berpakaian di kampusnya.

Keinginan mendasar generasi Z kepada kampusnya enggak muluk. Selain setiap ekosistem saling menaati peraturan dengan konsisten, juga tak perlu dibuat peraturan nan tak berkaitan dengan dunia akademik.

Di lain kampus, Dedi mengambil mata kuliah nan mengharuskannya mengikuti kerja kelompok dengan frekuensi cukup padat. Ia harus berkutat dengan kuliah analisis resiko, manajemen sumber daya informasi, dan statistika. Di samping kuliah, Dedi juga harus mengatur kala untuk membantu usaha orang tuanya di rumah. Alhasil, segala passionnya harus ditanggalkan sejenak demi fokus lulus kuliah.

hak asasi milenial
Ilustrasi wisuda. (Pixabay)

Hampir tiap hari Dedi kerja kelompok di kost temannya sampai jam 3 pagi, lalu senin harus datang ikut kelas pengganti sampai jam 8 malam. Saban hari berulang sepeti itu.

"Capek banget cuy! Main 'Mobile Legends' aja enggak sempat! Apalagi besoknya harus kuliah full time. Pengen pindah jurusan aja deh!" kata Dedi.

Di tengah kesibukan itu, Dedi terkadang beroleh masalah baru ketika ada dosen tidak hadir tanpa kabar. Ia terhitung rugi bensin karena jarak rumah dan kampus cukup jauh. Seturut pula waktu kosong itu bisa dijadikannya sarana untuk beristirahat.

Dedi, karena sibuk berkegiatan, tak memiliki banyak teman di kampus. Di saat pembagian kelompok, ia selalu mendapat kesulitan berkomunikasi dengan anggota kelompok.

"Ya sudah kayak 70 persen mahasiswa di kelas udah punya kubu dan circle sendiri. Rasanya pengen kayak Batman aja kerja kelompok sendiri dapet nilai sendiri." Ujar Dedi sambil tertawa. (*)


hiburan-gaya-hidup-mobile-singlepost-banner-3
Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-4
hiburan-gaya-hidup-singlepost-banner-5