Yaman Jajaki Investasi dan Impor Mesin Bubut Indonesia Mesin Bubut (Foto: Bukalapak)

MerahPutih.Com - Kerja sama perdagangan Indonesia dan Yaman diprediksi akan terus meningkat seiring ketertarikan para pengusaha Yaman untuk investasi di Indonesia.

Beberapa pengusaha dari kamar dagang Yaman pada Selasa (27/3) menyatakan siap menjajaki investasi dan impor alat-alat mesin bubut karena kualitas produk tersebut baik dan harganya bersaing di pasar.

Keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis menyebutkan bahwa keinginan tersebut disampaikan dua pengusaha Yaman, yaitu Hasan Saleh Al-Mesyadi dan Ostman Mohammed Othman saat mengunjungi KBRI Sana'a pada Selasa (27/3).

Hasan Saleh Al-Mesyadi adalah General Manager perusahaan Import Export and General Trading di Kota Aden dan Ostman Mohammed Othman, General Manager perusahaan Technical Workshop di Kota Sana'a. Pengusaha tersebut diterima oleh KUAI KBRI Sana'a, Sulthon Sjahril, didampingi Staf Ekopensosbud KBRI Sana'a, Muhaimin Ahmad Yasin.

Ostman menyampaikan keinginannya berkunjung ke Indonesia untuk menjajaki kemungkinan peluang mengimpor alat-alat mesin bubut, seperti hydraulic-pneumatic, machinery-machine tools, automobile industry, fluid power, pumps-compressors, glass manufacturing industry, oil gas equipment, stell machinery, miscellaneous dan bahan-bahannya (besi, aluminium, tembaga, artelon, teflon) dari Indonesia yang memiliki kualitas baik dan harga bersaing di pasar Yaman serta untuk ke depannya kemungkinan akan berinvestasi pada sektor pembuatan mesin bubut di Indonesia.

Mesin Bubut Impor
Mesin bubut kualitas impor (Foto: Ist)

Perusahaan Technical Workshop didirikan pada tahun 1970 di kota Sana'a dan memiliki empat kantor cabang di kota-kota besar Yaman (Aden, Taiz, Ibb dan Hudaidah), sebelumnya perusahaan ini telah mengimpor mesin bubut dari Tiongkok dan bahan-bahannya dari Tiongkok, Korea, Turki dan Belgia), rata-rata per bulannya perusahaan ini mengimpor mesin bubut dan bahan-bahannya sekitar 2 - 4 kontainer.

Saat ini, kantor pusat perusahaan di Sana'a, Aden dan Ibb masih dapat beroperasi 100 persen, di kantor cabang kota Hudaidah 70 persen dan kota Taiz 50 persen karena kedua kota tersebut sedang dilanda krisis bentrokan senjata antara pihak-pihak yang terlibat konflik di Yaman.

Hasan, General Director perusahaan Al-Mesyadi perusahaan Al-Mesyadi for Import Export and General Trading di Kota Aden dan sejak tahun 1990 telah mendirikan perusahaan cargo pengiriman barang dan ekspor PT. Wadi Lazer, di Jakarta yang bermitra dengan Amir Sakim Balahmar.

Sebelum Yaman dilanda konflik bersenjata, dalam setiap bulannya perusahaan ini dapat mengirim rata-rata 10 kontainer barang komoditi (pakaian, sepatu, kaos olahraga, batik, abaya, gamis, sarung) ke Yaman, Dubai, dan Jeddah sebanyak 10 kontainer, tetapi setelah perang meletus di Yaman, perusahaan hanya dapat mengirim rata-rata per bulannya 2-3 kontainer saja.

Menurut Hasan sebagaimana dilansir Antara, saat ini banyak pengusaha Yaman yang tinggal di berbagai negara-negara Teluk, tanduk benua Afrika (Somalia, Etiopia, Eriteria, Djibouti, dan Tanzania), serta Yaman.

Ke depannya, Hasan akan mengembangkan usaha investasinya di sektor lain.

Sementara itu, KBRI telah menyampaikan daftar perusahaan ekportir mesin bubut bahan-bahannya di Indonesia kepada Othman Mohammed Othman dan menyampaikan informasi jadwal penyelenggaraan pameran INACRAFT bulan April 2018 dan pameran dagang Indonesia TEI bulan Oktober 2018.

KBRI mengajak mereka untuk bergabung dalam delegasi kunjungan KBRI Sana'a untuk menghadiri pameran tersebut bersama pengusaha Yaman lainnya.

KBRI juga menyampaikan gambaran secara umum peluang, kemudahan, dan prosedur berinvestasi di Indonesia.

Hingga saat ini, situasi politik dan keamanan di Yaman masih belum kondusif akibat terus dilanda konflik bersenjata.

Namun, KBRI Sana'a tetap berupaya untuk terus mengembangkan kerjasama ekonomi RI-Yaman.(*)


Tags Artikel Ini

Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH