WHO Sebut Rentannya Timur Tengah dari Serangan Wabah Corona Penyemprotkan desinfektan ke tangan beberapa anak selama kampanye kesadaran melawan COVID-19 di Sanaa, Yaman, Minggu (22/3/2020). ANTARA/Xinhua/Mohammed Mohammed/aa.

MerahPutih.com - Pemerintah negara-negara di Timur Tengah perlu bertindak cepat untuk menghentikan penyebaran virus corona setelah kasus naik menjadi hampir 60.000. Angka itu hampir dua kali lipat dari seminggu sebelumnya, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kamis (2/4).

"Kasus baru telah dilaporkan di beberapa negara paling rentan dan memiliki sistem kesehatan yang rapuh," kata Ahmed Al-Mandhari, Direktur WHO untuk wilayah Mediterania Timur.

Baca Juga:

Batuk Depan Polisi dan Ancam Tularkan Corona, Seorang Pria Dijebloskan ke Penjara

Wilayah tugas Ahmed meliputi Pakistan, Afghanistan, Somalia dan Djibouti, juga negara-negara Timur Tengah.

"Bahkan di negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih kuat, kita telah melihat lonjakan yang mengkhawatirkan terkait jumlah kasus dan kematian yang dilaporkan," katanya dalam sebuah pernyataan, dikutip Antara.

Kecuali Iran yang telah melaporkan lebih dari 50.000 kasus, jumlah orang yang mengidap virus corona di Timur Tengah relatif rendah dibandingkan dengan Eropa, Amerika Serikat dan Asia.

Tetapi, para pejabat kesehatan khawatir bahwa kasus-kasus penyakit pernapasan akibat virus yang sangat menular itu tidak banyak dilaporkan.

Sejumlah relawan Palestina mensterilkan ruas jalan di Gaza City, Minggu (22/3/2020). Dua warga Palestina di Gaza dinyatakan positif terjangkit COVID-19, yang menjadi laporan kasus pertama di daerah kantong yang diduduki Hamas itu, kata seorang pejabat kesehatan pada Minggu (22/3) pagi. Sebanyak 53 warga Palestina terinfeksi coronavirus sejak 5 Maret, dan 17 di antaranya telah dinyatakan sembuh, menurut pihak Kementerian Kesehatan di Tepi Barat pada Sabtu (21/3) pagi. ANTARA/Xinhua/Khaled Omar/aa.
Sejumlah relawan Palestina mensterilkan ruas jalan di Gaza City, Minggu (22/3/2020). Dua warga Palestina di Gaza dinyatakan positif terjangkit COVID-19, yang menjadi laporan kasus pertama di daerah kantong yang diduduki Hamas itu, kata seorang pejabat kesehatan pada Minggu (22/3) pagi. Sebanyak 53 warga Palestina terinfeksi coronavirus sejak 5 Maret, dan 17 di antaranya telah dinyatakan sembuh, menurut pihak Kementerian Kesehatan di Tepi Barat pada Sabtu (21/3) pagi. ANTARA/Xinhua/Khaled Omar/aa.

Para pejabat juga khawatir bahwa banyak negara, dengan pemerintahan yang lemah serta sistem kesehatan yang rusak karena konflik, akan kewalahan mengatasi penyebaran wabah tersebut.

"Saya memperingatkan dengan sangat serius betapa darurat keadaan ini," kata Mandhari. "Peningkatan jumlah kasus menunjukkan bahwa penularan terjadi dengan cepat di tingkat lokal dan masyarakat."

"Kita masih punya peluang, tetapi peluang ini tertutup hari demi hari," ia menambahkan.

WHO mengatakan jumlah kasus corona di kawasan itu telah meningkat menjadi 58.168 dari 32.442 pada tanggal 26 Maret, yaitu ketika kasus COVID-19 secara global melampaui angka satu juta.

Salah satu negara yang paling parah terkena dampak konflik adalah Yaman. Untuk negara itu, Bank Dunia mengatakan pada Kamis bahwa pihaknya akan menyediakan dana darurat senilai 26,9 juta dolar AS (sekitar Rp444 miliar) guna membantu WHO serta otoritas lokal meningkatkan kemampuan untuk mendeteksi, menampung dan merawat para pasien virus corona.

Baca Juga:

Kasus Terinfeksi Corona di Spanyol Lampaui 100.000

Yaman belum melaporkan satu pun kasus virus corona. Tapi, negara itu terutama dianggap sangat rentan karena konflik lima tahun telah membawa sistem kesehatannya ke jurang kehancuran.

Yaman sudah terlebih dahulu bergelut dengan krisis yang tumpang tindih menyangkut penyakit menular, termasuk kolera, difteri dan demam berdarah. Selain itu, warga dalam jumlah besar terlantar akibat perang.

Sekitar 24 juta dari 29 juta penduduk di negara itu membutuhkan bantuan kemanusiaan. Tidak ada dokter di 18 persen distrik negara itu, sebagian besar petugas layanan kesehatan belum dibayar setidaknya selama dua tahun, dan alat uji COVID-19 tersedia hanya untuk 600 orang, menurut Bank Dunia. (*)

Baca Juga:

Pangeran Charles Sembuh dari Infeksi Virus Corona


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH