WhatsApp Ubah Batas Usia Pengguna Kebujakan ini hanya diberlakukan di Eropa. (Foto: Pixabay/geralt)

POPULARITAS SMS menurun seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna WhatsApp. Saat ini jumlah pengguna WhatsApp telah mencapai 1,5 miliar.

Banyaknya jumlah pengguna WhatsApp tak lantas membuat penyedia layanan chatting ini berhenti membuat kebijakan baru. Mereka justru menjadi lebih peduli pada pengguna.

Kebijakan terbaru mereka mengatur batas usia minimim. Sebelumnya syarat usia pengguna minimal 13 tahun. Sekarang usia minumum diubah menjadi 16 tahun. Bisa dibilang ini merupakan kabar baik bagi orangtua. Anak dapat terhindar dari kecanduan chatting.

Namun, rupanya kebijakan ini tidak diberlakukan terhadap pengguna di seluruh dunia. Eropa menjadi wilayah yang akan merasakan kebijakan terbaru tersebut. Hal ini diberlakukan khusus di Eropa lantaran sebagai upaya untuk mematuhi peraturan perlindungan data baru yang dikenal sebagai Peraturan Perlindungan Data Umum Eropa (GDPR).

Ada latar belakang lain yang mendorong lahirnua kebijakan baru tersebut. Dengan adanya perlindungan data, terutama di media sosial, niat jahat pelaku pedofil dapat dicegah.

Sebagai contoh di Kenya. Di negara Afrika tersebut tidak ada ketentuan khusus bagi batas usia pengguna. Menurut laman U Report diperkirakan tidak ada kebijakan batasan umur menjadi penyebab banyaknya pelaku pedofil. Mereka dapat mengincar sasaran mereka melalui profil data WhatsApp yang bisa diakses.

Facebook memiliki kebijakan yang sama.(Foto: Pixabay/LoboStudioHamburg)

Kendati demikian, kebijakan ini tidak hanya diberlakukan untuk WhatsApp. Pengguna Facebook juga harus melalui verifikasi umur di atas 16 tahun. Akan tetapi Facebook memiliki kebijakan data terpisah. Ada penanganan berbeda bagi remaja berusia 13-15 tahun untuk mematuhi GDPR. Jika belum mencapai usia tersebut bisa dibantu dengan data pribadi wali atau orangtua.

Seperti diketahui, regulator dan pembuat undang-undang seluruh dunia telah mengawasi Facebook sejak kasus Cambridge Analytica. Dalam kasus ini data Cambriddge Analytica diduga menggunakan data dari profil pengguna Facebook demi keperluan Pemilu Presiden AS 2016 lalu.

Agar data semakin transparan, WhatsApp menegaskan akan merilis informasi soal data apa saja yang terkumpul dari pengguna. Meskipun WhatsApp tidak membeberkan bagaimana aplikasi berlogo gagang telepon hijau itu mengetahui kebenaran dari data yang dimasukkan pengguna nantinya.

GDPR merupakan perombakan terbesar privasi daring. Perombakan ini telah ada sejak pertama kali terciptanya internet. Regulasi ini membantu warga Eropa mengetahui data yang disimpan serta memiliki kewenangan dan hal untuk menghapus data.

Fenomena ini turut menggerakkan beberapa perusahan teknologi lain seperti Apple. Perusahaan-perusahaan teknologi itu memiliki rencana untuk memberikan perlindungan data tidak hanya di Eropa, melainkan di luar Eropa.

Menurut Sahabat Merah Putih, perlukah kebijakan tersebut diberlakukan di Indonesia? (Ikh)

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH