Waspadai Propaganda Teroris Bermodus "Teror Rekayasa" Ilustrasi Densus 88 Antiteror (MP/Win)

MerahPutih.com – Setiap kali terjadi peristiwa teror di Indonesia, nyaris selalu muncul ujaran dari pihak tertentu yang menyebutkan bahwa aksi tersebut adalah rekayasa. Bahkan, seorang tokoh menyebut bahwa aktor bom bunuh diri di Polrestabes Medan (13/11) adalah negara seperti pada zaman orba.

Begitu juga dengan insiden penusukan terhadap mantan Menkopolhukam Wiranto beberapa waktu lalu, ada yang menyebutnya sebagai rekayasa.

Baca Juga:

Ikut Perang Bareng ISIS di Suriah, Empat Orang Terduga Teroris Diciduk Densus 88

Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta mengatakan, tuduhan dan komentar yang bias ini tentu harus diluruskan agar tidak menjadi hal yang kontraproduktir terhadap penanggulangan terorisme di Indonesia.

"Fakta paling mudah untuk membuktikan adanya kasus terorisme adalah adanya proses hukum. Sejak tahun 2000 hingga pertengahan 2018 tercatat sebanyak 1.499 orang menjalani proses hukum karena peristiwa terorisme," kata Stanislaus dalam keterangannya, Sabtu (16/11).

Petugas Kepolisian menyita sejumlah barang dari rumah pelaku bom bunuh diri RMN (24) di Mapolrestabes Medan. (Antara Sumut/Nur Aprilliana Br Sitorus)
Petugas Kepolisian menyita sejumlah barang dari rumah pelaku bom bunuh diri RMN (24) di Mapolrestabes Medan. (Antara Sumut/Nur Aprilliana Br Sitorus)

Anggota program doktoral dan kajian intelijen UI ini menambahkan, dengan banyaknya korban dari masyarakat maupun dari aparat kepolisian dalam kasus terorisme di Indonesia, sekaligus adanya fakta-fakta persidangan yang sudah dilakukan, maka jika ada pihak yang meragukan adanya terorisme di Indonesia patut diduga bahwa pihak tersebut adalah bagian dari aksi tersebut.

"Mereka bertugas untuk melakukan propaganda di masyarakat dan melemahkan program penanggulangan terorisme," imbuh Stanislaus.

Stanislaus melihat, aksi terorisme di Indonesia dipengaruhi oleh dinamika terorisme transnasional.

Saat ini, kelompok atau orang dengan paham radikal di Indonesia, yang menggunakan aksi teror sebagai cara untuk mencapai tujuan, lebih dominan terpengaruh oleh ISIS.

Beberapa kelompok di Indonesia yang berafiliasi dengan berbaiat dengan ISIS antara lain JAD, JAT, JAKDN, dan MIT. Kelompok-kelompok ini bisa dengan cepat berubah, namun kiblatnya tetap sama yaitu ISIS.

Baca Juga:

Lebih Radikal, Istri Bomber Polrestabes Medan Diduga Rencanakan Aksi Teror di Bali

Dengan terdesaknya ISIS di Timur Tengah saat ini dan pasca kematian pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi, maka dinamika kelompok radikal di Indonesia diprediksi justru akan menguat.

"Setelah sebelumnya target utamanya adalah polisi dan biasanya rumah ibadah, maka karena Abu Bakar Al Baghdadi tewas oleh pasukan Amerika, simbol-simbol Amerika atau orang asing di Indonesia diperkirakan akan menjadi target prioritas dari kelompok atau orang yang berafiliasi dengan ISIS," kata Stanislaus.

Pelaku bom bunuh diri di Malpolrestabes Medan. Foto: Net
Pelaku bom bunuh diri di Malpolrestabes Medan. Foto: Net

Aksi terorisme di Polrestabes Medan (13/11) lalu misalnya, diduga kuat menjadi aksi balasan pertama dari kelompok atau orang yang berafiliasi dengan ISIS terhadap pihak yang dianggap sebagai thagut di Indonesia.

Dengan kondisi saat ini maka potensi aksi teror ke depan masih cukup kuat terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru yang biasanya menjadi momentum dengan daya tarik kuat bagi teroris untuk melakukan aksinya.

"Kewaspadaan terhadap ancaman terorisme di Indonesia tidak boleh melemah. Berbagai logika yang menyesatkan serta persepsi yang menyudutkan pemerintah terutama Polri tidak perlu ditanggapi," pungkas dia. (Knu)

Baca Juga:

Kapolri Idham Azis Dikritik karena Gagal Antisipasi Serangan Teroris


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH