Waspadai Adiksi Digital Mengganggu Hidup Adiksi digital bisa berbahaya untuk kesehatan fisik dan mental. (foto: pixabay/ColiN00B)

DI era digital, keberadaan gawai atau gadget menjadi hal yang lumrah. Tua, muda, laki-laki, perempuan, hingga kakek-nenek pun lekat dengan gawai. Ponsel pintar jadi gawai yang jamak lekat dibawa ke mana-mana.

Jika kamu termasuk tipe orang yang enggak bisa jauh dari gawai, bisa jadi kamu tengah mengalami adiksi digital. Kecanduan menggunakan gawai dan kebutuhan untuk selalu terhubung dengan dunia maya dalam bentuk eksis di media sosial bisa amat mengganggu.

Kamu mungkin tak menyadari betapa tak sehatnya jika terlalu lekat dan bergantung dengan gadget. Adiksi digital dalam level tertentu punya dampak negatif pada kehidupanmu. Tak hanya untuk mental, adiksi digital akan memberi impak negatif pada kesehatan dan kehidupan sosialmu.

Seperti dikutip laman It's Time to Log Off, adiksi digital berpotensi menggangu kehidupan kamu dalam sisi kesehatan mental, fokus dan konsentrasi, kesehatan otak, mata, pengurangan waktu tidur hingga keterputusan dari koneksi dengan sesama manusia.

Agar lebih waspada pada adiksi digital, berikut beberapa fakta adiksi digital di beberapa negara di dunia.

1. Nomofobia

Adiksi Digital Nomofobia
Takut berjauhan dari ponsel? Kamu kena nomofobia. (foto: plimbi.com)

Apakah kamu kerap merasa ketakutan atau merasa kurang tanpa ponsel di tangan? Jika iya, bisa jadi kamu mengidap nomofobia.

Nomofobia adalah ketakutan akan kehilangan atau tanpa memegang ponsel selama beberapa waktu. Pengidap nomofobia akan secara konstan mengecek keberadaa ponsel mereka. Selain itu, mereka juga memastikan bahwa ponsel itu selalu berada dekat, dalam jangkauan. Pengidap nomofobia juga punya kekhawatiran akan menghilangkan ponsel mereka di seuatu tempat.

Jumlah pengidap nomofobia tak sedikit loh. Sebanyak 66% pemilik ponsel di Inggris dilaporkan mengalami nomofobia. Di Amerika Serikat, sebuah fasilitas khusus untuk menyembuhkan fobia ini bahkan didirikan pada 2013. Sementara itu, Tiongkok membuka kamp yang menampung 300 remaja yang menjalani detoks digital untuk menghilangkan nomofobia.

2. Gangguan mental

Gangguan Mental
Adiksi digital menimbulkan kecemasan berlebih. (foto: pixabay)

Mengecek media sosial secara konstan ternyata amat berbahaya untuk mental kamu. Tak sedikit remaja usia 18-34 tahun mengaku feed media sosial membuat mereka merasa tak menarik.

Sebuah studi yang dilakukan American Journal of Preventive Medicine menemukan bahwa pengguna aktif media sosial dua kali lebih mungkin mengalami isolasi sosial. Sebagai bukti buruknya pengaruh medsos bagi mental ialah ditahbiskannya Instagram sebagai platform medsos terburuk di 2017. Hal itu disebabkan pengaruh medsos tersebut terhadap kesehatan mental generasi muda.

Tak hanya medsos, kecanduan bermain gim juga sama buruknya. Pada 2018, organisasi kesehatan dunia WHO mencantumkan kecanduan main gim sebagai kondisi mental yang harus ditangani.

Selain itu, sebuah studi yang dirilis National Institute of Mental Health menemukan bahwa ada kaitan signifikan antara penggunaan media sosial dan depresi. Pengguna aktif media sosial terbukti lima kali lebih mungkin menderita depresi ketimbang mereka yang hanya sesekali menggunakan medsos.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa pengguna Facebook lebih mungkin menunjukkan gejala depresi, termasuk rendahnya harga diri dan kecemasan berlebihan.

3. Hilangnya fokus

Hilangnya Fokus Ponsel Pintar
Ponsel pintar mengalihkan fokus dari pekerjaan. (foto: pixabay/Jshoots-com)

Tidak mengherankan jika ponsel pintar bisa mengalihkan fokus kamu dari pekerjaan. Hal itu disebabkan dalam 11 tahun keberadaan ponsel pintar, fokus manusia telah amat menurun jauh. Kini, tingkat fokus manusia bahkan lebih rendah daripada seekor ikan mas.

Kebiasaan manusia dalam memakai teknologi menghalangi otak untuk beristirahat. Hal itu berdampak pada kemampuan otak untuk berpikir secara mendalam dan mempertahankan fokus.

Bukan hanya maslaah kurangnya istirahat buat otak, menengok notifikasi, bahkan hanya sebentar, cukup untuk mengalihkan pikiran dan fokusmu.

4. Kerusakan otak

Kerusakan Otak
Waktu melihat layar berlebihan dapat merusak otak. (foto: pixabay/thedigitalartist)

Riset terhadap gambar neuron otak menunjukkan bahwa waktu melihat layar yang berlebih akan merusak otak. Studi itu menemukan bahwa terjadi perubahan struktural dan fungsional di bagian otak yang mengatur proses emosi, perhatian, pembuatan keputusan, dan kontrol kognitif.

Berdasarkan riset yang dijalankan University College London, multitasking dan selalu beralih dari satu tugas ke tugas lain bisa melemahkan bagian anterior cingulate cortex, bagian otak yang bertanggung jawab untuk memproses informasi rumit dan emosi.


5. Kehilangan waktu tidur

Ponsel Pintar menyebabkan Kekurangan Tidur
Membuat kekurangan waktu tidur. (foto: sleepsavvy)

Cahaya biru yang dipancarkan ponsel pintar atau gawai lain meningkatkan keawasan. Cahaya itu menekan hormon melatonin hingga 22%. Dampaknya, kualitas tidurmu akan berkurang.

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa remaja yang menghabiskan 4 jam per hari di depan layar terbukti 3,5 kali mengalami kurang tidur. Mereka bahkan tidur kurang dari 5 jam setiap malam. Yang lebih parahnya, mereka butuh lebih dari 1 jam untuk jatuh tertidur.

6. Kelelahan mata

Ponsel Pintar Menyebabkan Kelelahan Mata
Gawai membuat mata lelah. (foto: pixabay)

Sebuah survei di Amerika Serikat menemukan bahwa 73% remaja di bawah 30 tahun menderita gejala kelelahan mata akibat terlalu lama memandang layar. Simptom yang ditunjukkan meliputi kekeringan, iritasi, pandangan kabur, sakit kepala dan leher, hingga sakit kepala.


7. FOMO

FOMO, Fear of Missing Out
Kebutuhan untuk selalu 'on' membuat lelah. (foto: pixabay)

Apakah kamu selalu tergoda untuk mengecek e-mail saat berlibur? Hal itu bisa jadi penanda bahwa kamu tengah berada dalam budaya selalu 'on' alias tak mau ketinggalan. Istilah kerennya fear of missing out (FOMO).

Budaya selalu 'on' menuntut kamu untuk selalu merespons notifikasi secepat kilat, termasuk selalu update di media sosial.

Dalam jangka waktu tertentu, hal itu akan sangat melelahkan secara emosional.


8. Melewatkan waktu keluarga

Melewatkan Waktu Keluarga
Interaksi keluarga hanya lewat pesan singkat atau medsos. (foto: pixabay)

Saat berselancar di dunia maya, seseorang cenderung asyik sendiri, bahkan hingga mengabaikan sekitar.

Selain itu, mayoritas keluarga belakangan ini lebih banyak berkomunikasi lewat media sosial, pesan singkat ataupun telepon. Hal itu bisa jadi membantu menyingkat jarak dan waktu, tapi dalam frekuensi berlebih, komunikasi hanya lewat gawai akan mengeliminasi interaksi fisik antaranggota keluarga.

Jadi, jika kamu mengalami tanda-tanda adiksi digital, saatnya untuk lebih waspada.(dwi)


Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH