Waspada Gaslighting, Taktik manipulatif untuk Memutarbalikkan Fakta Apa yang dimaksud Gaslighting? (Foto: psychbytes)

GASLIGHTING menjadi kalimat yang populer sejak beberapa tahun yang lalu. Menurut Oxford Dictionary, gaslighting menjadi salah satu kata yang paling populer di tahun 2018 semenjak pelantikan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

Baca juga:

Jangan Tertipu, Begini Cara Mengetahui Niat Seseorang di Aplikasi Kencan Online!

Seiring dengan munculnya kasus mengenai predator seks oleh remaja di Indonesia, taktik manipulatif yang dikenal dengan nama gaslighting mulai diperbincangan masyarakat.

Gaslighting secara singkat bisa diartikan sebagai trik menyelamatkan diri dengan cara memutarbalikkan fakta agar korban merasa bingung dan mempertanyakan realita.

Waspada Gaslighting, Taktik manipulatif untuk Memutarbalikkan Fakta
Korban dibuat bingung dan merasa bersalah (Foto: loveisrespect)

Dilansir dari Psychology Today, gaslighting adalah taktik yang dilakukan satu pihak untuk membuat sang korban mempertanyakan kebenaran mereka demi meraih kekuatan.

Gaslighting bisa terjadi dimana saja oleh siapa saja. Baik figur politik, influencer, teman, keluarga, atau dirimu sendiri kemungkinan pernah menjadi korban maupun pelaku gaslighting.

Baca juga:

Merasa Dibohongi? Ketahui Modus Perselingkuhan dalam Hubungan Asmara

Dr. Robin Stern, seorang psikoanalis berlisensi dan direktur asosiasi di Yale Center for Emotional Intelligence yang telah berhadapan dengan ratusan kasus gaslighting menyebutkan fenomena ini sebagai gaslight effect dalam bukunya yang berjudul The Gaslight Effect: How to Spot and Survive the Hidden Manipulation Others Use to Control Your Life.

Waspada Gaslighting, Taktik manipulatif untuk Memutarbalikkan Fakta
Memanipulasi pikiran korban (Foto: workplaceinsight)

Biasanya gaslighting merupakan teknik yang sering digunakan oleh pelaku kekerasan, penculik, diktator, narisis, atau pemimpin aliran sesat. Keahlian pelaku dalam berbicara mampu memanipulasi korban sehingga seolah-olah kesalahan yang ia lakukan itu bukan sepenuhnya salah mereka. Dalam kasus yang lebih parah, bisa jadi mereka malah play victim dan menyalahkan korban.

Menurut Stern, gaslighting dalam hubungan interpersonal biasanya bergantung pada dinamika kekuatan. Dalam hubungan percintaan, gaslighting bisa terjadi dimana satu pihak terasa lebih penting, dan pasangannya akan melakukan apapun agar tidak mengecewakan atau tidak kehilangan pasanganya tersebut.

Ciri-ciri gaslighting adalah ketika ada ketidakseimbangan kekuatan dalam suatu hubungan dan kurangnya rasa saling respect satu sama lain. (Shn)

Baca juga:

Bagaimana Seorang Psikopat Jatuh Cinta?

Kredit : shenna


shenna

LAINNYA DARI MERAH PUTIH