Warisan Bangsa yang Menjadi Masterpiece di Jakarta Fashion Week Pergelaran busana Anne Avantie di Jakarta Fashion Week mengusung tema Badai Pasti Berlalu. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

JAKARTA Fashion Week secara konsisten menjadi barometer industri mode di Indonesia. Pekan mode tahunan tersebut bahkan menjadi yang terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara. Sejumlah desainer Indonesia menunjukkan karya terbaik mereka di panggung megah Jakarta Fashion Week. Salah satunya adalah desainer paling berpengaruh di Indonesia, Anne Avantie.

jfw 2018
Maia Estianty. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Setelah terakhir kali mengikuti gelaran Jakarta Fashion Week 2017, ia kembali menyemarakkan panggung Jakarta Fashion Week 2019. Dari tangan dinginnya, kecantikan dan keindahan sejati budaya Indonesia berhasil ditonjolkan dengan sempurna. Sejumlah warisan bangsa mulai dari kebaya hingga kain tenun ikat diubahnya menjadi masterpiece yang megah dan menawan. Hal tersebut terlihat dari pagelaran busana Jakarta Fashion Week 2019, Selasa (23/10) malam.

jfw 2018
Rayin RAN. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Malam itu, ia mengangkat kain tenun ikat Lombok. Ada filosofis di balik pemilihan kain tenun ikat Lombok dalam pameran busananya. “Menenun adalah kegiatan yang diajarkan secara turun-temurun baik untuk keperluan ekonomi hingga pelestarian budaya. Pola yang ada di selembar kain tenun merupakan manifestasi dari kehidupan masyarakat adat dan memiliki ikatan emosional tersendiri para penenunnya,” tuturnya. Di Indonesia, sejumlah daerah memiliki kain tenun ikat dengan berbagai keunikan corak. Namun Anne Avantie memilih kain tenun ikat asal Lombok.

jfw 2018
(Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Dipilihnya kain tenun ikat asal Lombok bukan tanpa sebab. Hadirnya kain tenun ikat Lombok mewakili kepedulian Anne Avantie akan duka yang merundung Lombok beberapa waktu belakangan. Acara Jakarta Fashion Week 2019 menjadi saksi bagaimana Anne Avantie turut berduka atas bencana alam yang terjadi di Lombok, Palu dan Donggala.

jfw 2018
(Foto: MP/Rizki Fitrianto)

“Perhelatan ini menjadi bentuk nyata bahwa hingar bingar industri tak begitu saja menjadi simbol kemewahan tetapi juga bisa menjadi cahaya yang menerangi bagi sfashion esama,” tuturnya sesaat sebelum memulai pertunjukkan. Gelaran seni kali ini tak hanya menunjukkan semarak dan gemerlapnya dunia fashion Indonesia tetapi juga menggugah kesadaran masyarakat akan duka yang hadir di Indonesia.

jfw 2018
(Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Anne Avantie bahkan terjun langsung dalam proses pengolahan kain tenun Lombok. Mulai dari memintal helai demi helai serat putih untuk menjadi benang lungsin hingga menghasilkan selembar kain tenun Lombok dengan corak dan warna khas Wastra Nusantara.

jfw 2018
(Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Kain tenun lombok yang ia tampilkan memiliki tiga corak berbeda. Corak pertama yakni kombinasi warna cokelat bata, cokelat gelap, merah marun dan kuning gading. Corak kedua yakni warna merah dan hijau. sementara corak ketiga percampuran antara warna merah dan biru. Kain tenun tersebut dikombinasikan dengan kebaya khas rancangan Anne Avantie.

jfw 2018
Anne Avantie dan Susi Pudjiastuti. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Selain menghadirkan kain tenun Lombok, kepedulian Anne Avantie juga terlihat dari kesediaannya untuk memberikan kapal bagi nelayan Donggala yang harus berhenti melaut karena kapalnya hancur akibat tsunami. Ia berharap pertunjukkannya membawa dampak positif besar bagi seluruh lapisan masyarakat mulai dari menggeliatnya kembali industri tenun di Indonesia, kembali melautnya nelayan hingga kepedulian masyarakat akan saudara-saudaranya yang tertimpa musibah. (avia)

Baca juga: Anne Avantie Gandeng Susi Pudjiastuti di Jakarta Fashion Week

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH