Warga Sumba Anggap Tenun Adalah Ibadah Dian Sastro yang melihat kain ikat Sumba (Instagram @therealdisastr)

Seni tenun adalah budaya tua yang ditekuni manusia untuk menghasilkan busana dan merupakan peradaban yang hampir merata ditemukan di seluruh pelosok bumi.

Pada masa modern ini, ketika pabrik pemintalan benang mampu menghasilkan ribuan, bahkan jutaan meter tekstil dengan cara yang praktis, tradisi memintal benang untuk membuat kain masih ditekuni di beberapa tempat, tak terkecuali di Pulau Sumba, satu daratan kecil di Nusa Tenggara Timur.

Bagi orang Sumba, memiliki dan mengenakan kain serta sarung dari tenun ikat merupakan suatu "keharusan" karena kain tenun adalah busana penting yang dikenakan pada acara adat, seperti menghadiri pesta pernikahan, upacara kematian, dan beribadah.

Kain ikat Sumba (Instagram @therealdisastr)

Menurut Mikhael Molan Keraf, Direktur Yayasan Sosial Donders, kaum perempuan di pedesaan menenun kain dianggap sebagai ibadah, untuk memuji kebesaran Tuhan yang diwujudkan dalam motif-motif bentuk hewan, alam, dan benda-benda yang lekat dalam kehidupan keseharian.

Memaknai kain sebagai bagian dari ibadah juga diakui oleh Angela Lele Biri, perempuan Sumba yang bekerja di Kantor Dinas Agama Kabupaten Sumba Barat.

Berdasar pepahamnya, tenun Sumba adalah rajutan hari-hari orang Sumba yang dilukiskan melalui tenun dan merupakan doa pujian yang harus didaraskan setiap hari.

"Ketika memakai kain atau sarung Sumba, kita merenungi makna kehidupan," kata Angela.

Mengenakan sarung pun sebenarnya merupakan cara untuk menjaga martabat diri dengan memakainya secara patut.

Dian Sastro dan warga Sumba memakai kain ikat Sumba (Instagram @therealdisastr)

Angela menerawang, terkenang akan kakeknya, Yosep Nudu yang selalu marah ketika melihat orang membetulkan sarung yang dipakainya di depan umum, seperti yang saat ini lazim dilakukan banyak orang.

"Membenahi sarung di muka umum menurut kakek Nudu sama dengan memperbaiki rok dalam (tidak patut dilakukan di depan orang banyak)," katanya.

Selain perwujudan ibadah, menenun juga menjadi sumber nafkah bagi banyak perempuan Sumba. Meskipun mereka baru bisa merajut helai demi helai benang setelah selesai mengerjakan tugas rumah tangga. (*)

Sumber: Antara

Selain artikel ini Anda juga bisa baca Anak Gimbal Dieng, Potong Rambut Buang Energi Buruk


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH