Warga Karadenan Yakin Masjid Jami Al Atiqiyah Tertua di Bogor Masjid Jami Al Atiqiyah, Karadenan, Bogor, Selasa (23/2). (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

MerahPutih Budaya - Masjid Jami Al Atiqiyah yang beralamat di Jalan Kaum I No. 41 Karadenan, diyakini oleh warga setempat merupakan masjid tertua di Kota Bogor. Kepercayaan tersebut dipegang erat warga karena pada saat renovasi pertama masjid, salah seorang warga yang ketika itu masih berusia dini pernah diceritakan oleh orang tua tentang tahun pembuatan Masjid Jami Al Atiqiyah.

Sejarah demikian, kata lelaki itu, merupakan kisah lisan yang harus tetap terjaga meski sudah hilang bukti daripada tulisan tersebut. "Ada tulisan angka pada salah satu pilar utama sebelum masjid direnovasi total. Angka yang tertera adalah tulisan Sunda yang jika diartikan merujuk pada tahun 1667," kata Raden Ahmad (53) di Masjid Jami Al Atiqiyah Jalan Kaum I No. 41, Karadenan, Bogor, Selasa (23/2).

Ihwal tersebut terang saja berbenturan dengan Masjid Al Mustofa yang merupakan masjid tertua di Kota Bogor yang dibangun sekitar tahun 1728 oleh Tubagus Al Mustofa Bakrie dari Banten.

"Kalau melihat catatan dari Pemerintah Kota Bogor, Masjid Al Mustofa dibangun pada tahun 1728 dan diresmikan sebagai cagar budaya tahun 2010. Dari tahun pembangunan sudah jelas kalau masjid ini lebih tua. Yang sangat disayangkan, itu dia, buktinya hilang pas direnovasi. Yang tersisa hanya batu sajadah yang konon kepunyaan Pangeran Sanghyang dan batu lantai yang kami simpan saat renovasi kedua," jelas R Ahmad.

Adapun pembangunan masjid, tambah dia, mulai dilakukan pada masa Abah Raden Syafe'i, cucu dari Pangeran Sanghyang.

Ide pembangunan tersebut, masih dari penuturan R Ahmad, berdasarkan bangunan masjid pertama yang dilakukan Pangeran Sanghyang selaku raja dari Kerajaan Muara Beres.

Meski dari informasi yang marak di luar mengatakan bahwa Pangeran Sanghyang memegang ajaran leluhur, namun bagi masyarakat Karadenan yakin sang raja sudah memeluk agama Islam.

"Saya sendiri yakin, Abah Sanghyang sudah masuk Islam. Namanya juga sejarah, pasti banyak versi yang berlainan. Semua ini kan, balik lagi kepada diri masing-masing dalam menyikapinya," tambahnya.

Banyaknya kisah kerajaan yang mewarnai bangsa ini, tentu menambah warna dalam catatan sejarah Bangsa Indonesia. Dan tetap, antara pendapat satu dengan yang lainnya tidak bisa sepenuhnya menyingkap segala kebenaran.

Bagaimana dengan Anda? (Ard)

 

BACA JUGA:

  1. Raden Adjeng Kartini Digunakan Sebagai Nama Jalan di Belanda
  2. Den Haag Belanda Resmi Miliki Nama Jalan "Munir"
  3. 4 Pahlawan Indonesia yang Dijadikan Nama Jalan di Luar Negeri
  4. Yuk, Rekreasi Sejarah ke Monumen Daan Mogot
  5. Mengingat Patriotisme Daan Mogot di Palagan Lengkong


Ana Amalia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH