Wapres Jusuf Kalla Tidak Takut Kritiknya Gerus Elektabilitas Jokowi Wapres Jusuf Kalla. (Facebook/Jusuf Kalla)

MerahPutih.Com - Jelang masa akhir masa baktinya bersama Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla saban kali lantang melontarkan kritik tajam kepada pemerintahan Jokowi.

Kritik Wapres JK terhadap pemerintah beragam mulai dari kebijakan pembangunan hingga pendapatnya yang kerap bertolak belakang dengan pernyataan dari partai koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf.

Dikhawatirkan kritik Jusuf Kalla itu menurunkan elektabilitas Jokowi. Apalagi posisi Wapres JK adalah Ketua Dewan Pengarah TKN Jokowi-Ma'ruf pada Pilpres 2019.

Terhadap kekhawatiran elektabilitas Jokowi-Ma'ruf jadi taruhan atas kritik-kritiknya, Wapres Jusuf Kalla menjelaskan justru bisa mendongkrak suara untuk Jokowi.

Wapres JK bersama Jokowi-Ma'ruf
Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf Erick Thohir bersama Jusuf Kalla dan kedua Capres-Cawapres (Foto: MP/Fadhli)

"Justru mungkin akan naik, berarti pemerintah memperhatikan harus efisien. Karena kita akan mengubah menjadi efisien, maka akan bisa naik. Jangan lupa itu," tegas Wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Selasa, (19/2).

Menurut Wapres JK, apa yang disampaikannya merupakan pernyataan yang jujur untuk kebaikan pembagunan Indonesia.

"Untuk kebaikan, saya bicara apa yang menurut pikiran saya itu benar. Saya itu kalau menganggap sesuatu tidak sesuai, saya ngomong, tapi tetap dalam konteksnya," kata JK.

Ada beberapa pernyataan dan kritik Jusuf Kalla terhadap kebijakan Jokowi seperti pembangunan "light rail transit" (LRT) Jabodebek, TranSulawesi, serta bergabung Basuki Tjahaja Purnama di partai pendukung capres petahana tersebut.

Wapres Jusuf Kalla dan Presiden Jokowi
Presiden Jokowi bersama Wapres Jusuf Kalla (Ant/Rosa Panggabean)

Terkait pembangunan LRT Jabodebek menurut Wapres JK terlampau mahal dan tidak efisien karena dibangun melayang, JK mengatakan pembangunan itu justru 'overinvestment sehingga ketika LRT dibangun "elevated" maka anggaran yang dikeluarkan lebih mahal serta tidak dapat dilakukan perluasan jalan tol di bawahnya.

"Waktu saya bicara tentang LRT itu di muka para konsultan. Saya sampaikan semua konsultan harus berpikir jernih, jangan membiarkan terjadi 'overinvestment' yang tidak seharusnya. Jadi bukan konteksnya investasi, tapi para konsultan itu harus objektif," terang Jusuf Kalla.

Sedangkan terkait pembangunan jalur kereta Trans-Sulawesi, JK yang sudah dua kali menjabat Wapres itu juga mempertanyakan manfaat infrastruktur tersebut belum terlalu bisa dirasakan.

Menurut Wapres JK sebagaimana dilansir Antara, pembangunan jalur kereta api Trans-Sulawesi tidak akan efisien seperti di Pulau Jawa yang memiliki penduduk 160 juta orang, sehingga JK mengatakan sebaiknya jalur kereta api di Sulawesi digunakan untuk mengangkut batu bara dan komoditas lain yang menghasilkan keuntungan ekonomi.

"Justru kampung saya juga itu bahwa Trans-Sulawesi itu diubah dulu untuk mengangkut batu bara dan semen, supaya menghasilkan dulu. Baru nanti di situ dikembangkan. Bukan saya kritik, saya kasih solusi juga, supaya kau jangan rugi," pungkas Wapres Jusuf Kalla.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Direktur Riset KedaiKopi Sayangkan Prabowo Tak Bisa Uji Keberhasilan Jokowi



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH