Wanita vs Perempuan, Pilih (Mau Jadi yang) Mana? Pilihan perempuan dan wanita bisa menimbulkan implikasi mendalam. (foto: pixabay/bruloos)

DUA kata bisa bersinonim. Itu berarti kedua kata memiliki atau merujuk pada satu hal yang sama. Meskipun demikian, ketika ada nilai rasa, makna kedua kata bersinonim tak lagi terasa sama.

Sebagai contoh kata 'wanita' dan 'perempuan'. Tanpa memerhatikan nilai rasa, kedua kata merujuk pada makna yang sama. Perdebatan baru akan muncul ketika kedua kata dibenturkan dengan nilai rasa.

Manakah yang punya makna lebih positif, wanita atau perempuan.

1. Ada Kata Betina sebelum Wanita dan Perempuan

lioness, africa
Kata betina akan bermakna negatif bila diterapkan pada manusia. (foto: pixabay/PublicDomainPictures)


Sebelum membahas kata 'wanita' dan 'perempuan', kita lihat dulu kata 'betina'. Kata betina amat mungkin berasal dari kata batina dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) (Kamus Jawa Kuno Indonesia, Mardiwarsito, 1986).

Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata 'betina' diartikan perempuan (biasanya dipakai untuk binatang atau benda) dan pasangan (bagi binatang jantan).

Dengan makna itu, jelaslah bahwa kata betina lebih umum digunakan untuk binatang. Selain itu, kata betina jelas menjadi penanda jenis kelamin. Makna kata itu pun netral saja, tanpa nilai rasa.

Konotasi untuk kata betina baru muncul ketika dikenakan menyebut manusia. Pernah dengar ungkapan 'dasar betina' atau 'benar-benar betina'? Ungkapan 'dasar betina' diartikan sebagai 'sifat yang cerewet, usil, dan kepoan', sedangkan 'benar-benar betina' dimaknai 'nympomania, perempuan dengan nafsu berahi menggebu-gebu'. Keduanya berkonotasi negatif.

Sangat berbeda kan? Begitulah nilai rasa (konotasi) berperan mengubah makna sebuah kata.


2. Eufemisme Wanita

dharma wanita
Dharma Wanita membuat kaum hawa hanya punya peran di bidang domstik. (foto: dharmawanitapersatuan.com)


Banyak teori yang disodorkan tentang asal-usul kata 'wanita'. Old Javanese English Dictionary (Zoetmulder, 1982) menyebut wanita berasal dari kata 'wanted a' yang berarti 'sesuatu yang diinginkan'. Dalam hal ini, jelas sekali wanita sesuatu yang diinginkan para pria.

Secara mendalam, wanita baru dilihat dan dianggap ada karena diinginkan pria. Secara tidak langsung, wanita hanya dijadikan objek saja bagi para lelaki.

Makna minor tersebut juga muncul dalam Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara karya Prof Dr Slametmuljana. Dalam buku itu, disebutkan bahwa wanita bukanlan penanda pembeda jenis kelamin. Ia menyebut wanita berasal dari bahasa Sanskerta vanita yang salah satu maknanya ialah 'yang diinginkan'. Kata itu kemudian diserap ke bahasa Jawa Kuno (Kawi) menjadi wanita.

Penegasan bahwa wanita inferior dan hanya objek bagi lelaki juga muncul dalam etimologi rakyat Jawa. Kata wanita secara kultural Jawa diartikan 'wani ditoto'. Secara bebas, terjemahannya ialah 'berani diatur' atau secara kontekstualnya 'bersedia diatur'.

Jelas sekali, dalam budaya Jawa, wanita punya posisi inferior. Sebagai manusia, wanita harus berada di bawah perintah suami. Tunduk. Apa pun kata suami, wanita harus ikut. Wanita dinilai tinggi jika bisa bersikap manut kepada suami. Tak ada apresiasi untuk kemandirian wanita.

Ternyata pemaknaan etimologi Jawa tersebut merasuk ke bahasa Indonesia. KBBI memaknai kata 'wanita' sebagai 'perempuan dewasa', kaum putri. Makna itu mengesankan bahwa wanita amat erat dengan segala hal keputrian, hal-hal kemayu khas kaum hawa. Wanita dicirikan dengan sifat-sifat keputrian, seperti lemah lembut, sabar, halus, tunduk, patuh, mengabdi, dan menyenangkan pria. Indah ya?

Bahkan makna utopis itu sampai dipakai untuk perkumpulan kaum hawa. Pernah dengar nama organisasi Dharma Wanita? Organisai yang beranggotakan istri para pegawai negeri sipil itu mengesahkan 'wanita' hanya punya peran domestik. Meskipun demikian, anehnya, kata 'wanita' justru menjadi eufemisme (penghalusan makna untuk perempuan).

Hal itu mungkin amat terkait dengan bagaimana Orde Baru mengidealkan peran kaum hawa dalam lima kewajiban wanita (pancadarma) Dharma Wanita, yaitu wanita sebagai istri pendamping suami, wanita sebagai ibu pendidik dan pembina generasi muda, wanita sebagai pengatur ekonomi rumah tangga, wanita sebagai pencari nafkah tambahan, dan wanita sebagai anggota masyarakat, terutama organisasi wanita, badan-badan sosial, dan sebagainya yang menyumbangkan tenaga kepada masyarakat.

Meskipun terlihat memberdayakan wanita, tetap saja dalam kewajiban itu menjadi istri yang mendampingi suami merupakan tugas utama. Setelah itu diikuti tugas domestik. Kemandirian finansial dan suara dalam masyarakat sosial baru ada di dua poin terakhir. Masih tetap inferior kan ya?

3. Perempuan yang Menguatkan

womder women
Kata perempuan mulai muncul sebagai pernyataan bahwa kaum hawa kuat. (foto: pixabay/erikawittlieb)


Penggunaan kata 'wanita' untuk eufemisme perempuan justru memberikan makna inferior bagi kaum hawa. Seiring berjalan waktu, eufemisme itu terasa makin tak tepat. Bagaimana dengan kata 'perempuan'?

KBBI mengartikan kata 'perempuan' sebagai orang (manusia) yang mempunyai vagina, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita, istri; bini, betina (khusus untuk hewan). Sebagai tambahan, KBBI memasukkan lema 'keperempuanan'. Salah satu makna 'keperempuanan' ialah 'kehormatan sebagai perempuan'. Makna itu menyiratkan bahwa kaum hawa seharusnya enggak dipandang inferior. Perempuan punya harga diri.

'Perlawan' dimulai dengan kembali menggunakan kata 'perempuan' dalam lembaga pergerakan kaum hawa. Sebagai contoh, ada Solidaritas Perempuan, Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan, hingga Lembaga Studi Pengembangan Perempuan dan Anak.

Lembaga dan organisasi tersebut seperti membawa kembali makna perempuan ke posisinya sebelum mengalami peyorasi akibat disandingkan dengan kata 'wanita'. Bahwa perempuan punya suara dan bukan kaum inferior.

Memang, dalam sejarah Indonesia, pergerakan perempuan sudah ada sejak dulu. Pada 22 Desember 1928, para perempuan berkumpul di Dalem Jayadipuran, Yogyakarta, untuk menggelar Kongres Perempuan Indonesia. Tujuan utama kongres itu ialah memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan pernikahan.

Penggunaan kata 'perempuan' dalam kongres itu menyiratkan bahwa kaum hawa juga punya hak yang sama dengan kaum adam. Kesan setara jelas terasa dalam konteks tersebut.

Kesan itu sejalan dengan tinjauan etimologis kata 'perempuan'. Sudarwati D Jupriono dalam tulisan Betina, Wanita, Perempuan: Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, Pragmatik menyebut kata'perempuan' bahkan bernilai cukup tinggi, tidak di bawah, tetapi sejajar, bahkan lebih tinggi daripada kata lelaki.

Ia menjelaskan sebagai berikut:

- Secara etimologis, kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti 'tuan', 'orang yang mahir/berkuasa', ataupun 'kepala', 'hulu', atau 'yang paling besar'. Contohnya, empu jari untuk 'ibu jari', empu gending untuk 'orang yang mahir mencipta tembang'.


- Kata 'perempuan' berhubungan dengan kata ampu 'penyokong', 'memerintah', 'penyangga', 'penjaga keselamatan', bahkan 'wali'. Kata mengampu berarti 'menahan agar tak jatuh' atau 'menyokong agar tidak runtuh'. Sementara itu, kata 'mengampukan' berarti 'memerintah (negeri).


- Kata 'perempuan' berakar erat dari kata empuan. Kata itu mengalami pemendekan menjadi 'puan' yang menjadi 'sapaan hormat kepada perempuan', sebagai pasangan kata tuan 'sapaan hormat pada lelaki'.

4. Kini, Era para Perempuan

Analytics
Kini, kata perempuan makin banyak digunakan. (foto: pixabay/fotografielink)

Makna etimologis yang menguatkan tersebut kemudian memunculkan pemahaman bahwa kata 'perempuan' justru menempatkan kaum hawa sejajar (atau bahkan lebih tinggi) dengan kaum adam. Pelekatan kata perempuan seperti menguatkan. Memberikan energi baru.

Tak seperti wanita yang lekat dengan urusan keputrian, perempuan terasa lebih punya kuasa. Mandiri dan berdaya. Hal itulah yang mungkin kemudian mendasari pergantian nama kementerian dari 'peranan wanita' menjadi 'pemberdayaan perempuan'.

Semoga saja nilai rasa yang menimbulkan kesan positif itu bisa membawa perempuan Indonesia pada keseimbangan peran dan kesetaraan gender antara pria dan perempuan.

Selamat Hari Perempuan Internasional 2019.(dwi)

Kredit : dwi


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH