Walhi Desak BKSDA Jamin Keselamatan Harimau Sumatera Harimau Sumatera. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

MerahPutih.Com - Populasi Harimau Sumatera yang terus mengalami penurunan mengundang perhatian banyak pihak. Mulai menyempitnya habitat sang raja hutan itu memicu terjadi konflik harimau dengan manusia.

Upaya penyelamatan harimau bukan melulu tanggung jawab pemerintah melalui BKSDA tapi siapa saja termasuk organisasi swadaya masyarakat seperti Walhi. Terkait ancaman kepunahan Harimau Sumetera, Walhi mendesak Badan Konservasi Sumber Daya Alam melindungi keselamatan harimau Sumatera (panthera tigris Sumatrae) yang berada di Kabupaten Mandailing Natal.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut, Dana Prima Tarigan di Medan, Sabtu mengatakan, gangguan yang yang dialami satwa langka tersebut merupakan tanggung jawab Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Mandaling Natal (Madina).

Sebab, menurut dia, institusi tersebut yang berwenang menjaga harimau itu jika mengalami ancaman dari perburuan liar maupun gangguan masyarakat.

"Jadi, seekor harimau yang mati akibat ditombak warga Desa Bangkelang, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Madina, merupakan kelalaian BKSDA dan tidak dapat menjaga hewan tersebut," ujar Dana, Sabtu (10/3).

Ia mengatakan, ancaman kehidupan harimau tersebut, bukan hanya dari aksi perburuan, tetapi juga dikarenakan pembukaan kawasan hutan untuk dijadikan areal perkebunan sawit.

Saat ini, kawasan hutan Madina banyak yang beralih fungsi jadi kebun sawit, dan hal tersebut juga merupakan tugas BKSDA untuk menyoalisasikan penyelamatan hutan/lingkungan.

"BKSDA jangan hanya mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar jangan melakukan perburuan satwa yang dilindungi dan merusak hutan yang dilakukan orang yang tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan pribadi," katanya.

Dana seperti dilansir Antara menyebutkan, namun kenyataannya pembukaan hutan untuk dijadikan sawit, masih terus terjadi dan tidak ada larangan.

Bahkan setelah dibukanya areal hutan tersebut untuk perkebunan sawit maka harimau itu juga kehilangan tempat tinggal dan sulit memperoleh makanan seperti kancil, rusa serta binatang lainnya.

Akhirnya harimau atau "raja hutan" tersebut, mencari makan ke perkampungan penduduk dan ditombak secara beramai-ramai hingga mati.

"Peristiwa matinya harimau tersebut secara sadis dapat dijadikan sebagai pengalaman yang sangat berharga bagi BKSDA dan ke depan tidak terulang lagi," kata dia.

Sebelumnya, Personel Polsek Batang Natal bekerjasama dengan masyarakat berhasil melumpuhkan seekor harimau yang berkeliaran di Desa Bangkelang, Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Kabid Humas Polda Sumatera Utara, Rina Sari Ginting di Mapolda, Minggu (4/3) mengatakan peristiwa pembunuhan harimau itu terjadi sekira pukul 08.00 WIB.

Saat itu, menurut dia, warga melihat seekor harimau masuk ke kolong rumah warga bernama Sofii dan melaporkan peristiwa tersebut ke Kepala Desa Bangkeleng dan diteruskan ke Polsek Batang Natal.

"Kemudian, Polsek Batang Natal menurunkan sejumlah personel guna membantu warga mengamankan satwa langka harimau tersebut," ujar Rina.(*)


Tags Artikel Ini

Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH