Image
Author by : (Foto: MerahPutih/Ctr)

Menurut pemimpin masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang Abah Usep Suyatma, asal-usul masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul bermula ketika para sesepuh zaman dahulu bermusyawarah.

Image
Author by : (Foto: MerahPutih/Ctr)

Pada musyawarah itu disepakati 5 (lima) turunan mandiri kasepuhan adat. Satu kasepuhan berada di daerah Bayah, sedangkan saudara serumpun berada di daerah lainnya. Saudara serumpun itu dibagi menjadi dua istilah, yaitu dulur awewe (saudara perempuan) dan dulur lalaki (saudara lelaki).

Image
Author by : (Foto: MerahPutih/Ctr)

Leluhur masyarakat Sunda adalah beragama Sunda Wiwitan dan merupakan masyarakat agraris, karenanya meski sebagian besar masyarakatnya telah menganut agama Islam, mereka meyakini keberadaan Nyi Pohaci (Dewi Sri) sebagai dewi kesuburan

Image
Author by : (Foto: MerahPutih/Ctr)

Menurut sekretaris adat Henriana Hatra, upacara Seren Taun tak lepas dari dongeng leluhur adat yang pernah meminta Nyi Pohaci untuk tinggal di Cisungsang. Sang Dewi bersedia tinggal asalkan ia dihormati, dihibur, dan dimanjakan oleh masyarakat. Karena itulah upacara Seren Taun muncul.

Image
Author by : (Foto: MerahPutih/Ctr)

Sementara itu, Yoki Susanto yang merupakan salah satu putu incu (anak cucu) Kasepuhan Cisungsang mengatakan bahwa masyarakat Cisungsang tidak migusti (mempertuhankan) Nyi Pohaci, melainkan mupusti yang berarti memelihara dan merawat alam.