Vonis Dua Tahun tanpa Terungkap Aktor Intelektual, Sidang Penyerangan Novel Berakhir Antiklimaks Sidang kasus penyerangan Novel Baswedan disiarkan secara 'live streaming' di PN Jakarta Utara, Jakarta, Kamis (16/7/2020). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aww. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

MerahPutih.com - Vonis terhadap dua penyerang Novel Baswedan yang hanya 2 dan 1,6 tahun dinilai sebagai antiklimaks. Harusnya, sidang berhasil membongkar ada atau tidak aktor intelektual penyerangan terhadap Novel.

"Jadi, saya kira ini antiklimaks dari perjalanan penantian kasus Novel Baswedan," kata pakar hukum pidana Universitas Al Azhar Indonesia Suparji Ahmad kepada wartawan, Jumat (17/7).

Baca Juga:

Tak Ada Niat Timbulkan Luka Berat, Kedua Penyerang Novel Disebut Hanya Ingin Beri "Pelajaran"

Suparji meminta pihak kepolisian untuk tetap mencari dalang dari aksi penyiraman tersebut.

Menurutnya, aktor intelektual kasus penyerangan Novel masih berkeliaran bebas.

"Yang lebih penting lagi, ya, apakah berhenti dari dua orang ini saja? Atau ada enggak aktor intelektual yang lain atau pihak lain yang menyuruh atau berkepentingan? Itu yang mestinya dibongkar dalam perkara ini," lanjutnya.

Sidang kasus penyiraman terhadap Novel Baswedan di PN Jakarta Utara, Jakarta, Kamis (16/7/2020). (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Sidang kasus penyiraman terhadap Novel Baswedan di PN Jakarta Utara, Jakarta, Kamis (16/7/2020). (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Ia menyayangkan vonis dari majelis hakim tak sebanding lamanya proses pengungkapan kasus penyiraman air keras ini.

Suparji menilai, besaran vonis hakim kurang memberikan efek jera.

"Kurang adil dan kurang menjerakan," imbuh Suparji.

Di sisi lain, ahli hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menyatakan, penggunaan bahan berbahaya yaitu asam sulfat dalam perkara itu seharusnya menjadi pemberat dalam putusan hakim.

Selain itu, pasal 353 ayat 2 KUHP yang mencantumkan hukuman maksimal 7 tahun masih jauh dengan vonis yang dijatuhkan itu.

"Ini seharusnya menjadi faktor pemberat sebagaimana disebutkan dalam pasal 356 KUHP (mengenai penggunaan bahan berbahaya) karena itu seharusnya paling tidak hukuman itu sekitar 5 tahun akan memenuhi rasa keadilan dalam masyarakat," ujar Abdul Fickar kepada awak media.

Baca Juga:

Akhir Cerita Menyedihkan Keadilan Buat Novel Baswedan

Dia juga menilai putusan itu belum memiliki efek jera. Abdul Fickar merujuk pada tidak adanya hukuman tambahan seperti pencabutan hak sebagai anggota kepolisian.

"Putusan ini seharusnya menjadi momentum bagus jika memenuhi rasa keadilan dalam masyarakat dalam arti membersihkan oknum-oknum yang cenderung menyalahgunakan kedudukan dan jabatannya yang hingga kini terus berlangsung seperti halnya pada kasus Djoko Tjandra yang melibatkan beberapa oknum juga," kata Abdul Fickar.

Meski demikian Abdul Fickar mengapresiasi putusan "ultra petita" tersebut. Sebab, tuntutan jaksa pada dua terdakwa yaitu hanya 1 tahun penjara.

Sebelumnya dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) pada Kamis, 16 Juli kemarin, majelis hakim menyatakan Rahmat Kadir dan Ronny Bugis bersalah melakukan penyiraman air keras ke Novel Baswedan. Rahmat Kadir divonis 2 tahun penjara, sedangkan Ronny Bugis divonis hakim 1 tahun 6 bulan penjara.

Vonis yang dijatuhkan hakim ini lebih berat dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menjatuhkan hukuman 1 tahun penjara untuk keduanya. Keduanya dinyatakan bersalah melanggar pasal 353 ayat 2 KUHP juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (Knu)

Baca Juga:

Respons Novel Baswedan atas Vonis Penyiram Air Keras terhadap Dirinya


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH